Longsor Cisarua
Update Longsor Cisarua Bandung Barat: 38 Kantong Jenazah Ditemukan, Ada 108 Laporan Kehilangan
Proses pencarian dan evakuasi korban bencana tanah longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Emak-Waty-di-pinggir-longsor-cisarua-Bandung-Barat.jpg)
Ringkasan Berita:
- Hingga hari ketiga pencarian (Senin, 26/1/2026), tim SAR gabungan telah mengevakuasi 38 kantong jenazah
- Tercatat sebanyak 108 laporan kehilangan di posko ante-mortem
- Sebanyak 23 anggota Marinir TNI AL turut menjadi korban
TRIBUNGORONTALO.COM – Proses pencarian dan evakuasi korban bencana tanah longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), memasuki fase krusial pada hari ketiga.
Tim SAR gabungan terus berjibaku melawan tebalnya material lumpur dan puing bangunan guna menemukan warga yang masih tertimbun.
Hingga Senin sore, data terbaru menunjukkan skala tragedi yang semakin besar dengan ditemukannya total 38 kantong jenazah.
Penemuan ini merupakan akumulasi dari operasi pencarian intensif sejak hari pertama bencana terjadi pada Sabtu dini hari yang lalu.
Kenaikan jumlah temuan ini menjadi duka mendalam bagi warga Jawa Barat, khususnya saat tim evakuasi mulai menjangkau titik-titik terdalam reruntuhan. Suasana di sekitar zona merah tampak mencekam dengan hilir mudik ambulans yang membawa jenazah menuju posko identifikasi.
Pada pencarian hari ketiga, tepatnya Senin (26/1/2026), tim Basarnas menyerahkan 13 kantong jenazah tambahan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Penemuan di hari ketiga ini dianggap cukup signifikan mengingat medan yang mulai mengeras dan sulit ditembus alat manual.
Kepala Basarnas Bandung, Ade Dian Permana, memberikan konfirmasi resmi terkait perkembangan evakuasi hingga pukul 18.30 WIB. Beliau menyatakan bahwa seluruh temuan telah diserahkan ke pihak kepolisian untuk dilakukan pencocokan data medis dan fisik.
38 Kantong Jenazah Dievakuasi
Dari total 38 kantong jenazah yang telah dievakuasi, proses identifikasi berjalan cukup cepat namun sangat teliti. Tercatat, 20 di antaranya telah berhasil diidentifikasi secara medis dan langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemulasaraan.
Isak tangis keluarga tak terbendung di depan ruang jenazah saat peti-peti kayu mulai diberangkatkan menuju rumah duka masing-masing. Kepastian identitas ini memberikan sedikit ketenangan di tengah duka, meski banyak keluarga lain yang masih harus menunggu dalam ketidakpastian.
Selain jumlah korban jiwa, perhatian publik kini tertuju pada tingginya angka laporan orang hilang yang diterima petugas di posko pengaduan. Karo Ops Polda Jabar, Kombes Pol Areis La Ode El Fathar, membeberkan fakta mengenai data yang masuk ke meja petugas.
Tercatat ada 108 laporan kehilangan yang diterima oleh tim ante-mortem hingga saat ini. Namun, Kombes Pol Areis menekankan bahwa angka 108 ini bukanlah jumlah riil individu yang hilang, melainkan jumlah laporan masyarakat yang masuk.
Penjelasan ini diperlukan agar tidak terjadi kepanikan publik yang lebih luas mengenai jumlah korban. Seringkali, satu orang korban dilaporkan oleh beberapa kerabat yang berbeda secara terpisah, sehingga terjadi duplikasi data yang harus segera diverifikasi.
Tim DVI kini sedang bekerja keras melakukan sinkronisasi antara data laporan masyarakat dengan ciri-ciri jenazah yang ditemukan dalam 38 kantong tersebut.
Proses ini melibatkan pencocokan sidik jari, catatan gigi, hingga barang pribadi yang melekat pada tubuh korban.
Kondisi lapangan di Desa Pasirlangu sendiri masih sangat memprihatinkan dengan hamparan lumpur yang menutup akses utama desa. Material longsor yang membawa batu-batu besar dan pepohonan membuat pergerakan alat berat menjadi sangat terbatas.
Operasi SAR kini difokuskan pada pembersihan material di area yang diyakini merupakan kompleks permukiman padat. Petugas meyakini masih ada korban yang terjepit di bawah fondasi rumah yang ambruk akibat hantaman tanah dari perbukitan.
23 Anggota Marinir Jadi Korban
Selain warga sipil, musibah ini juga membawa duka bagi institusi militer Indonesia. Sebanyak 23 anggota Marinir TNI AL dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan saat menjalankan tugas di wilayah tersebut.
Laksamana Muhammad Ali telah memberikan pernyataan resmi mengenai kondisi para prajuritnya. Ia memastikan bahwa empat anggota Marinir telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan sudah berhasil diidentifikasi oleh tim medis.
Duka ini menjadi kehilangan besar bagi TNI AL, mengingat para prajurit tersebut gugur saat berada di tengah masyarakat. Hingga kini, proses pencarian terhadap 19 anggota Marinir lainnya masih terus dipacu dengan mengerahkan segala sumber daya yang ada.
Ketebalan lumpur di titik terjebaknya para Marinir ini diperkirakan mencapai beberapa meter, sehingga membutuhkan kehati-hatian ekstra agar tidak merusak jenazah yang ditemukan. Risiko longsor susulan juga terus menghantui para personel yang bertugas di titik tersebut.
Di sisi lain, investigasi mengenai penyebab bencana mulai dilakukan secara paralel oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, telah meninjau langsung lokasi bencana untuk mengumpulkan data awal.
Dugaan sementara menunjukkan adanya pengaruh alih fungsi lahan yang sangat masif di wilayah Cisarua. Lahan yang seharusnya berfungsi sebagai area tangkapan air dan hutan lindung diduga kuat telah berubah menjadi perkebunan sayuran.
Hal ini menyebabkan struktur tanah kehilangan cengkeraman vegetasi alami, sehingga sangat rentan tererosi saat diguyur hujan. KLH berjanji akan merampungkan kajian detil bersama tim ahli dari BRIN dan akademisi dalam waktu dekat.
Kajian teknis ini diharapkan dapat merumuskan langkah mitigasi jangka panjang agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan. Hanif menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap pelanggaran fungsi lahan akan dilakukan jika terbukti ada unsur kesengajaan.
Berdasarkan data cuaca dari BMKG, curah hujan di wilayah Bandung Barat memang mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Tercatat puncak curah hujan mencapai angka 68 mm per hari, yang termasuk dalam kategori hujan lebat.
Meskipun angka 68 mm tidak seekstrem bencana di daerah lain, kondisi geografis Cisarua yang curam membuat curah hujan tersebut menjadi sangat mematikan. Tanah yang sudah jenuh air akhirnya meluncur turun menghantam apa pun yang ada di bawahnya.
Waktu kejadian yang terjadi pada pukul 03.00 WIB menjadi faktor penyebab tingginya korban jiwa. Saat itu, sebagian besar warga sedang terlelap tidur sehingga tidak sempat menyelamatkan diri ketika gemuruh longsor terdengar.
Korban Longsor Cisarua Teridentifikasi
Daftar nama korban yang telah diidentifikasi mulai dirilis secara berkala oleh kepolisian. Di antaranya adalah Suriana (57), Jajang Tarta (35), Dadang Apung (80), hingga Ayu Yuniarti (31). Identitas para korban ini didapatkan melalui pemeriksaan fisik yang teliti.
Ada pula korban seperti M. Kori (30) yang berhasil teridentifikasi melalui pemeriksaan bagian tubuh secara saintifik. Tim DVI terus berupaya memberikan kepastian kepada keluarga agar proses pemakaman bisa segera dilaksanakan.
Untuk empat anggota Marinir yang gugur, pihak TNI AL masih melakukan koordinasi internal sebelum merilis identitas lengkap mereka kepada publik. Penghormatan militer direncanakan akan diberikan kepada para pahlawan yang gugur tersebut.
Keluarga korban yang masih menunggu kabar di posko tampak saling menguatkan satu sama lain. Beberapa di antaranya masih memegang foto anggota keluarga mereka, berharap ada mukjizat di balik tumpukan lumpur hitam.
Pemerintah daerah telah menyiapkan tenda pengungsian dan dapur umum untuk melayani kebutuhan warga yang selamat namun kehilangan tempat tinggal. Bantuan logistik mulai mengalir dari berbagai pihak, termasuk bantuan medis untuk pengungsi yang terluka.
Petugas medis juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan mental para penyintas. Trauma akibat kehilangan anggota keluarga secara mendadak menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemulihan pascabencana.
Gubernur Jawa Barat menginstruksikan agar seluruh kabupaten di sekitar Bandung Barat meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi. Hal ini mengingat musim hujan yang masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Di lapangan, anjing pelacak K9 terus mengendus setiap jengkal tanah yang dicurigai terdapat korban. Setiap kali anjing memberikan tanda, petugas segera melakukan penggalian manual dengan penuh kehati-hatian.
Tantangan lain yang dihadapi adalah cuaca yang sering berubah secara mendadak di area pegunungan Cisarua. Jika kabut turun atau hujan kembali mengguyur, operasi SAR terpaksa dihentikan sementara demi keselamatan tim.
Petugas juga memperingatkan warga untuk tidak mendekat ke zona merah karena kondisi tanah masih labil.
Retakan-retakan baru ditemukan di beberapa titik lereng, yang mengindikasikan adanya potensi pergeseran tanah susulan.
Pemerintah berkomitmen untuk menuntaskan proses pencarian hingga seluruh laporan kehilangan dapat dipastikan statusnya.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Jabar.id
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.