Sabtu, 21 Maret 2026

Longsor Cisarua

Nama-nama Korban Meninggal Akibat Longsor Cisarua Bandung Barat, 4 Anggota Marinir

Tragedi memilukan menyelimuti Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, setelah bencana longsor dan banjir bandang

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Nama-nama Korban Meninggal Akibat Longsor Cisarua Bandung Barat, 4 Anggota Marinir
Tribun Jabar
LONGSOR CISARUA -- Petugas menurunkan kantong jenazah dari mobil ambulans di posko DVI, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Senin (26/1/2026). Simak daftar nama korban longsor Cisarua terbaru. 
Ringkasan Berita:
  • Empat prajurit Marinir dikonfirmasi gugur dan 19 lainnya masih hilang tertimbun material longsor saat menjalankan misi di lokasi kejadian pada Sabtu (24/1/2026)
  • Tim DVI Polri telah berhasil mengidentifikasi 11 jenazah warga sipil melalui pemeriksaan medis dan saintifik, dari puluhan kantong jenazah yang telah dievakuasi dari zona merah
  • Medan ekstrem, lumpur tebal, dan risiko longsor susulan menjadi tantangan utama bagi tim SAR gabungan

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Tragedi memilukan menyelimuti Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, setelah bencana longsor dan banjir bandang menerjang pada Sabtu (24/1/2026) dini hari.

Di tengah upaya evakuasi yang terus berpacu dengan waktu, kabar duka datang dari Korps Marinir TNI Angkatan Laut yang kehilangan empat prajurit terbaiknya dalam musibah tersebut.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali secara resmi mengonfirmasi bahwa terdapat puluhan prajuritnya yang ikut tertimbun material tanah saat menjalankan misi di lokasi kejadian.

Sebanyak 23 anggota Marinir dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan dan material lumpur yang sangat tebal.

Hingga Senin (26/1/2026), proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri telah berhasil mengenali sejumlah jenazah yang dievakuasi dari zona merah bencana.

Dari total korban yang ditemukan meninggal dunia, empat di antaranya dipastikan merupakan personel Marinir TNI AL.

Laksamana Muhammad Ali menyatakan bahwa duka ini merupakan kehilangan besar bagi institusi TNI AL.

Ia terus memantau proses pencarian terhadap belasan anggota lainnya yang hingga kini statusnya masih dinyatakan hilang di bawah timbunan longsor.

Kondisi medan yang ekstrem dan cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan utama bagi tim gabungan dalam mengevakuasi para prajurit dan warga sipil lainnya.

Material longsor yang membawa bongkahan batu dan pepohonan besar menutup akses utama menuju titik lokasi para Marinir tersebut berada.

Selain prajurit TNI, sejumlah warga sipil juga telah teridentifikasi sebagai korban meninggal dunia.

Tim DVI Polri melaporkan telah menerima puluhan kantong jenazah, di mana beberapa di antaranya ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan akibat hantaman material banjir bandang.

Hingga Minggu petang, setidaknya 11 nama korban telah berhasil diidentifikasi secara medis dan saintifik.

Data ini mencakup identitas warga setempat yang tertimbun di dalam rumah mereka saat longsor terjadi pada pukul 03.00 WIB, ketika sebagian besar warga masih terlelap.

Identifikasi ini dilakukan dengan sangat teliti melalui pemeriksaan post mortem dan ante mortem. Pihak kepolisian menegaskan bahwa setiap penemuan jenazah akan segera diproses agar keluarga korban mendapatkan kepastian secepat mungkin.

Keterlibatan 4 anggota Marinir yang gugur dalam kejadian ini menambah daftar panjang pahlawan yang gugur dalam tugas kemanusiaan maupun misi penting di wilayah tersebut. Pihak TNI AL kini fokus memberikan penghormatan terakhir dan mengurus proses pemulangan jenazah para prajurit tersebut.

Sementara itu, 19 anggota Marinir lainnya masih dalam proses pencarian intensif. Harapan untuk menemukan korban selamat terus dipupuk, meskipun ketebalan lumpur dan risiko longsor susulan terus menghantui para relawan dan petugas di lapangan.

Daftar Nama Korban yang Berhasil Diidentifikasi

Berdasarkan data resmi dari Tim DVI Polri, berikut adalah daftar warga yang telah berhasil diidentifikasi sebagai korban meninggal dunia dalam musibah longsor Cisarua:

Suriana (L), usia 57 tahun.

Jajang Tarta (L), usia 35 tahun.

Dadang Apung (L), usia 80 tahun.

Nining (P), usia 40 tahun.

Nurhayati (P), usia 42 tahun.

Lina Ismayanti (P), usia 43 tahun.

M. Kori (L), usia 30 tahun (teridentifikasi melalui bagian tubuh tangan).

Al-Sumari (L), usia 35 tahun.

Koswara (L), usia 40 tahun.

Koswara (L), usia 26 tahun.

Ayu Yuniarti (P), usia 31 tahun.

(Catatan: Nama 4 anggota Marinir yang gugur sedang dalam proses administrasi internal TNI AL sebelum dirilis secara detail ke publik bersama 11 korban di atas).

Baca juga: 23 Anggota Marinir Jadi Korban Longsor Bandung Barat Saat Simulasi Penugasan Perbatasan RI-PNG

Kronologi dan Detail Penanganan

MEKANISME LONGSOR CISARUA - Skema mekanisme terbentuknya longsoran hingga aliran lumpur (mudflow) di Kampung Pasir Kuning hingga Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat
MEKANISME LONGSOR CISARUA - Skema mekanisme terbentuknya longsoran hingga aliran lumpur (mudflow) di Kampung Pasir Kuning hingga Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (Istimewa)

Bencana besar ini bermula dari hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah Bandung Barat sejak Jumat malam (23/1/2026).

Tingginya curah hujan menyebabkan kondisi tanah di perbukitan Cisarua menjadi jenuh air dan kehilangan stabilitasnya.

Tepat pada pukul 03.00 WIB, dentuman keras terdengar saat lereng bukit runtuh dan menerjang permukiman di bawahnya.

Aliran banjir bandang yang menyertai longsor membuat kerusakan semakin masif, menyapu apa saja yang ada di jalur aliran air.

Desa Pasirlangu menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, di mana puluhan rumah rata dengan tanah.

Di lokasi inilah, 23 personel Marinir TNI AL dilaporkan berada saat bencana terjadi.
KSAL Laksamana Muhammad Ali menyebutkan para prajurit tersebut tengah menjalankan tugas penting di wilayah Jawa Barat.

"Kami berkoordinasi erat dengan Menhan dan Panglima TNI untuk langkah penanganan darurat ini," kata Ali.

Sebanyak 25 kantong jenazah telah diterima oleh Pos DVI hingga Minggu sore pukul 17.00 WIB.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, menjelaskan bahwa tiga jenazah utuh ditemukan pada pencarian terakhir hari Minggu.

Dari total jenazah yang masuk, baru 11 orang yang berhasil dipastikan identitasnya secara lengkap.

Sisanya masih menunggu hasil tes DNA dan pencocokan data medis lainnya oleh tim ahli.
Tantangan terbesar adalah adanya jenazah yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh, seperti kasus M. Kori yang teridentifikasi dari potongan tangan.

Untuk jenazah berupa potongan tubuh, tim DVI memerlukan waktu ekstra guna memastikan kecocokan data ante mortem.

Pencarian sempat dihentikan sementara pada Minggu malam karena faktor keselamatan tim SAR.
Risiko longsor susulan sangat tinggi apabila hujan kembali turun di area puncak bukit.

Namun, operasi kembali dilanjutkan pada Senin pagi dengan pengerahan kekuatan penuh.
Tim SAR gabungan melibatkan personel dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan pecinta alam.

Penggunaan alat berat masih terbatas karena akses jalan yang sempit dan tertutup lumpur licin.

Sebagai solusinya, KSAL memerintahkan penggunaan teknologi canggih seperti drone thermal.
Drone ini diharapkan mampu mendeteksi suhu tubuh atau keberadaan korban di bawah timbunan yang tidak terjangkau mata manusia.

Selain itu, anjing pelacak (K-9) dikerahkan untuk menyisir titik-titik yang diduga menjadi lokasi tertimbunnya korban.

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menetapkan Status Tanggap Darurat selama 14 hari.
Keputusan ini diambil agar alokasi dana darurat dan bantuan logistik bisa segera disalurkan tanpa hambatan birokrasi.

Posko pengungsian kini telah didirikan di beberapa titik aman untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal.
Tenaga medis dari berbagai rumah sakit di Bandung juga dikerahkan ke lokasi untuk merawat korban luka.

Selain luka fisik, banyak warga yang mengalami trauma hebat akibat kehilangan anggota keluarga secara mendadak.

Kombes Hendra Rochmawan memohon doa dari seluruh masyarakat Indonesia agar operasi kemanusiaan ini berjalan lancar.

"Dukungan doa sangat berarti bagi para petugas yang berjuang di lapangan dengan risiko tinggi," tuturnya.

Pihak keluarga korban hingga kini masih setia menunggu di posko DVI untuk mendapatkan informasi terbaru.

Tangis pecah setiap kali ada kantong jenazah baru yang tiba di posko identifikasi.
Fokus pencarian kini juga diarahkan ke area sungai yang diduga menjadi aliran material banjir bandang.

TNI AL berkomitmen untuk terus mencari seluruh prajuritnya hingga ditemukan, baik dalam kondisi selamat maupun telah gugur.

Tragedi Cisarua ini menjadi pengingat keras akan pentingnya mitigasi bencana di kawasan rawan longsor, terutama saat cuaca ekstrem melanda.
 

 

Artikel ini dioptimasi dari Tribun-Medan.com dan TribunJabar.id 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved