Selasa, 10 Maret 2026

Pesawat Hilang Kontak

Tim SAR Temukan Serpihan Jendela hingga Ekor Pesawat ATR 42-500 di Lereng Bulusaraung

Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, kini mulai membuahkan hasil.

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Tim SAR Temukan Serpihan Jendela hingga Ekor Pesawat ATR 42-500 di Lereng Bulusaraung
TribunGorontalo.com
PESAWAT JATUH -- Kolase serpihan pesawat dan Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport. Serpihan pesawat ditemukan Tim SAR gabungan. 

Gunung Bulusaraung sendiri memiliki ketinggian mencapai 1.353 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL). Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang didominasi oleh hutan vegetasi basah Karaengta.

Secara geografis, lokasi jatuhnya pesawat berjarak sekitar 21 kilometer di sebelah timur Pangkajene, ibu kota Kabupaten Pangkep. Jika ditarik garis lurus dari Kabupaten Maros, jaraknya sekitar 26 kilometer ke arah tenggara.

Akses menuju lokasi kejadian dikenal sangat terbatas. Jalur paling umum bagi para pendaki biasanya dimulai dari kawasan Leang-leang di Jalan Poros Maros-Bone. Namun, untuk kepentingan evakuasi, tim juga mempertimbangkan akses melalui Balocci, melewati bekas Pabrik Semen Tonasa 1 ke arah timur.

Baca juga: Reski dan Muslimin, Pendaki Muda Pangkep Jadi Saksi Mata Ledakan Pesawat di Bulusaraung

Kesaksian Mencekam dari Puncak Gunung

PESAWAT JATUH – Resky (20), pendaki asal Coppeng-coppeng, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, yang menjadi saksi mata insiden kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di puncak Gunung Bulu Saraung, Sabtu (17/1/2026).
PESAWAT JATUH – Resky (20), pendaki asal Coppeng-coppeng, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, yang menjadi saksi mata insiden kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di puncak Gunung Bulu Saraung, Sabtu (17/1/2026). (TRIBUN TIMUR)

Di balik upaya pencarian tim SAR, sebuah kesaksian mendalam datang dari Resky (20), seorang pendaki lokal asal Labakkang, Pangkep. Ia merupakan saksi mata yang melihat langsung detik-detik saat pesawat ATR 42-500 tersebut menghantam gunung pada Sabtu (17/1/2026).

Resky menceritakan bahwa pada hari Sabtu tersebut, ia dan rekannya, Muslimin (18), memulai pendakian rutin sekitar pukul 10.00 WITA. Mereka membutuhkan waktu dua jam untuk mencapai puncak Bulusaraung guna menikmati pemandangan di akhir pekan.

Tepat pukul 12.00 WITA, saat keduanya sedang bersantai di puncak setelah sesi foto, suara gemuruh mesin pesawat terdengar memecah keheningan. Awalnya, suara itu dikira suara pesawat komersial biasa yang melintas tinggi di atas awan.

Namun, suara mesin tersebut terdengar semakin rendah dan berat seolah sedang berjuang melawan angin kencang. Resky mengaku merasakan firasat buruk ketika suara tersebut semakin mendekat ke arah lereng tempatnya duduk.

"Tadinya saya kira pesawat lewat biasa, tapi suaranya makin dekat dan sangat rendah. Tiba-tiba suara ledakan keras terdengar, disusul api yang membumbung," kenang Resky dengan nada gemetar.

Kondisi cuaca di puncak saat itu memang sedang memburuk dengan kabut tebal yang menutupi pandangan. Angin kencang bertiup di sekitar puncak, membuat pesawat tersebut tidak terlihat jelas sebelum benturan terjadi.

Asap hitam pekat langsung menyeruak dari balik kabut sesaat setelah suara ledakan mereda. Resky memperkirakan jaraknya dengan titik jatuhnya pesawat hanya berkisar 50 hingga 100 meter saja.

Benturan tersebut sangat keras hingga mengakibatkan puing-puing berbahan fiber dan dokumen-dokumen dari dalam pesawat terbang ke udara. Resky bahkan mengaku nyaris terkena serpihan panas yang terbakar dan terbawa angin ke arahnya.

Melihat bahaya yang mengancam, rekannya Muslimin segera bertindak cepat dengan menarik Resky untuk berlindung. Keduanya bersembunyi di balik sebuah batu besar untuk menghindari material pesawat yang berjatuhan.

Setelah kondisi dirasa cukup stabil, Resky sempat melihat banyak barang berserakan, namun ia hanya berani membawa dua dokumen. Dokumen tersebut memiliki tulisan berbahasa Inggris dan logo maskapai sebagai bukti laporan ke bawah.

Dalam perjalanan turun menuju basecamp, Resky kembali menemukan kertas-kertas yang berceceran di sepanjang jalur pendakian. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya hantaman pesawat sehingga dokumen-dokumen tersebut terpental jauh dari badan utama.

Selain Resky, serombongan pendaki lain yang terdiri dari empat orang juga menemukan sebuah peta navigasi berukuran besar. Peta yang berbahan seperti plastik vinyl tersebut dibawa turun untuk diserahkan kepada pihak berwenang di posko pendakian.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Selasa, 10 Maret 2026 (20 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:02
‘Ashr 15:09
Maghrib 18:04
‘Isya’ 19:13

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved