Avatar 3

Visual Spektakuler Tapi Melelahkan, Avatar 3 Tuai Banyak Kritik

Film ketiga waralaba Avatar garapan James Cameron, Avatar: Fire and Ash, menuai sorotan tajam dari para kritikus internasional jelang

Editor: Wawan Akuba
Tribunnews.com/thiler
AVATAR Fire and Ash menuai banyak kritik jelang penayangan, meski menampilkan visual Pandora yang spektakuler. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Film ketiga waralaba Avatar garapan James Cameron, Avatar: Fire and Ash, menuai sorotan tajam dari para kritikus internasional jelang penayangannya di bioskop Inggris pada 19 Desember.

Meski menyuguhkan visual megah khas Pandora, film ini justru dinilai terlalu panjang, melelahkan, dan minim terobosan cerita.

Dengan durasi mencapai 3 jam lebih, Avatar: Fire and Ash disebut sebagai tontonan yang menguras energi penonton.

Sejumlah media Inggris bahkan memberi nilai rendah. Beberapa kritikus hanya memberi satu hingga dua bintang, menyoroti alur yang dianggap mengulang formula lama serta dialog yang dinilai kaku.

Baca juga: 448 Remaja di Gorontalo Nikah Dini, Rata-tara Permohonan ke Pengadilan Diajukan Pihak Wanita

Kritikus The Telegraph, Robbie Collin, menyebut film ini sebagai karya yang “tanpa humor” dan mempertanyakan apa lagi yang bisa ditawarkan Cameron setelah dua film sebelumnya.

Ia menyindir bujet film yang mencapai £300 juta, namun dinilai tidak sebanding dengan kebaruan cerita yang disuguhkan.

Nada serupa datang dari The Guardian. Peter Bradshaw menilai Fire and Ash sebagai film raksasa yang kosong secara emosional.

Menurutnya, teknologi 3D dan visual spektakuler belum cukup menutupi cerita yang terasa datar dan sulit menggugah minat.

BBC juga ikut melontarkan kritik keras. Nicholas Barber menyebut film ini sebagai sinyal peringatan bagi Cameron.

Ia menilai setiap seri Avatar justru semakin panjang dan semakin melelahkan.

Dengan durasi sekitar 197 menit, film ini disebut lebih menyerupai pameran visual ketimbang kisah sinema yang kuat.

Kritik juga datang dari Time Out. Phil de Semlyen memang mengakui kekuatan visual Avatar: Fire and Ash, namun menyebut film ini “menguji kesabaran penonton”.

Ia menyindir bahwa hampir mustahil menonton film ini tanpa tergoda meninggalkan kursi bioskop karena durasinya yang ekstrem.

Meski begitu, tidak semua ulasan bernada negatif. Deadline memuji kualitas produksi film ini dan menyebut visual Pandora masih menjadi daya tarik utama.

Beberapa kritikus juga sepakat bahwa lanskap dunia Pandora, detail CGI, serta adegan aksi tetap berada di level tertinggi industri film saat ini.

Avatar: Fire and Ash melanjutkan kisah Jake Sully dan Neytiri yang menghadapi konflik baru usai kematian putra mereka, Neteyam.

Film ini memperkenalkan Ash People atau Klan Mangkwan, suku Na’vi yang hidup di wilayah vulkanik dan dipimpin oleh Varang, sosok pemimpin keras yang siap mengambil langkah ekstrem demi kaumnya.

James Cameron sendiri sebelumnya menyatakan bahwa film ketiga ini sengaja menampilkan sisi gelap bangsa Na’vi, berbeda dari dua film sebelumnya yang lebih menonjolkan konflik manusia versus Na’vi.

Meski dimaksudkan untuk menutup satu bab besar saga Avatar, Cameron telah mengungkap rencana untuk Avatar 4 dan Avatar 5.

Namun, masa depan sekuel tersebut diyakini sangat bergantung pada respons penonton terhadap Fire and Ash.

Kini, publik menanti apakah Avatar: Fire and Ash akan tetap berjaya di box office seperti pendahulunya, atau justru membuktikan bahwa visual megah saja tak lagi cukup untuk mempertahankan pesona Pandora.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved