Gempa Bumi
Gempa Magnitudo 3,1 Guncang Barat Daya Padang, BMKG Catat Getaran Dirasakan Skala II–III MMI
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,1 mengguncang wilayah perairan barat daya Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu (13/12/2025).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Gempa-Magnitudo-31-Guncang-Barat-Daya-Padang.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,1 mengguncang wilayah perairan barat daya Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu (13/12/2025).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pukul 13.05.41 WIB, dengan pusat gempa berada di laut sekitar 25 kilometer barat daya Padang.
Berdasarkan informasi resmi BMKG, gempa tersebut berlokasi di koordinat 1,06 Lintang Selatan dan 100,17 Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer.
Gempa tergolong dangkal sehingga getarannya sempat dirasakan oleh sebagian warga, meskipun kekuatannya relatif kecil.
Baca juga: Jet Pribadi Angkut 6 WNI Alami Insiden di Bandara Jepang, Pesawat Keluar Landasan
BMKG menyebutkan, getaran gempa dirasakan di Kota Padang dengan intensitas II hingga III dalam Skala MMI (Modified Mercalli Intensity).
Dampak Gempa Berdasarkan Skala MMI
Skala MMI digunakan untuk menggambarkan tingkat guncangan gempa yang dirasakan manusia dan dampaknya terhadap bangunan, bukan kekuatan energi gempa seperti magnitudo.
Pada Skala II MMI, gempa umumnya hanya dirasakan oleh beberapa orang yang sedang diam, terutama di dalam rumah. Getaran terasa ringan, seperti ada kendaraan besar melintas.
Sementara pada Skala III MMI, gempa dapat dirasakan lebih jelas oleh banyak orang di dalam bangunan.
Baca juga: Banjir dan Longsor Parah, Gubernur Aceh Buka Pintu Bantuan Asing
Getaran sering kali terasa seperti ada truk besar lewat, benda-benda ringan yang digantung bisa bergoyang, namun belum menimbulkan kerusakan.
BMKG memastikan, gempa magnitudo 3,1 ini tidak berpotensi tsunami dan hingga saat ini tidak ada laporan kerusakan maupun korban jiwa.
Apa Itu Skala MMI?
Skala Modified Mercalli Intensity (MMI) merupakan sistem pengukuran intensitas gempa yang didasarkan pada pengamatan dampak gempa di permukaan, termasuk reaksi manusia, kondisi bangunan, serta perubahan lingkungan.
Skala ini pertama kali dikembangkan oleh Giuseppe Mercalli pada tahun 1902, lalu dimodifikasi dan disempurnakan pada tahun 1931 oleh Harry O. Wood dan Frank Neumann.
Sejak saat itu, skala MMI digunakan secara luas di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk melengkapi informasi magnitudo gempa.
Berbeda dengan magnitudo yang nilainya tunggal, MMI bisa berbeda-beda di setiap wilayah, tergantung jarak dari pusat gempa, kedalaman, serta kondisi tanah dan bangunan.
Padang dan Sumatera Barat, Wilayah Rawan Gempa
Wilayah Sumatera Barat, khususnya Kota Padang dan sekitarnya, dikenal sebagai salah satu daerah paling rawan gempa di Indonesia.
Daerah ini berada di zona pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, serta dipengaruhi aktivitas Zona Subduksi Mentawai dan Sesar Sumatera.
Aktivitas tektonik tersebut menyebabkan wilayah Padang kerap mengalami gempa, baik berskala kecil hingga besar.
Gempa-gempa dangkal dengan pusat di laut barat Sumatra relatif sering terjadi dan umumnya dirasakan oleh masyarakat pesisir.
BMKG mengingatkan bahwa gempa kecil seperti ini merupakan bagian dari dinamika alam di zona tektonik aktif.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta memahami langkah-langkah mitigasi bencana gempa bumi.
Imbauan BMKG
BMKG mengimbau masyarakat agar:
Tidak panik dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak bersumber resmi
Selalu mengikuti pembaruan informasi dari BMKG
Meningkatkan kesiapsiagaan, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan gempa
BMKG juga mengingatkan kemungkinan terjadinya gempa susulan, meski biasanya berskala kecil dan tidak merusak.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.