Berita Internasional
Parlemen Dibubarkan, Thailand Gelar Pemilu saat Konflik dengan Kamboja Memanas
Thailand resmi memasuki fase politik baru yang penuh ketidakpastian setelah Perdana Menteri Anutin Charnvirakul membubarkan Parlemen
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/THAILAND-Perdana-Menteri-Thailand-Anutin-Charnvirakul.jpg)
Ia menegaskan Thailand akan melanjutkan operasi militer hingga keamanan dan kedaulatan nasional terjamin.
AS turut terlibat sebagai pihak penekan. Presiden Donald Trump telah dua kali menyatakan akan memaksa kedua negara duduk kembali dalam gencatan senjata.
Ia bahkan mengisyaratkan ancaman tarif tinggi terhadap ekspor Thailand bila Negeri Gajah Putih menolak upaya perdamaian tersebut.
Anutin memastikan ia dijadwalkan berbicara dengan Trump untuk melaporkan situasi perbatasan terbaru.
Sejumlah analis menilai krisis keamanan yang memanas justru membuka peluang politik bagi Anutin untuk menguatkan citranya sebagai pemimpin yang tegas membela kedaulatan negara.
Narasi tersebut dinilai berhasil mengalihkan sorotan publik dari berbagai kritik sebelumnya, mulai dari penanganan banjir besar di Thailand Selatan hingga dugaan keterkaitan pejabat pemerintah dengan jaringan penipuan besar.
Kini, perhatian Thailand tertuju pada pemilu yang akan digelar dalam 45–60 hari mendatang, sebuah pertarungan demokratis yang berlangsung di tengah dentuman meriam di sepanjang perbatasan. (*)