Rabu, 4 Maret 2026

Kompas Gramedia

Jakob Oetama Pendiri Kompas Gramedia Dianugerahi Tokoh Pers Indonesia dari Dewan Pers

Dewan Pers menganugrahi Pendiri Kompas Gramedia, Liliek Oetama menjadi Tokoh Pers Indonesia.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Jakob Oetama Pendiri Kompas Gramedia  Dianugerahi Tokoh Pers Indonesia dari Dewan Pers
Kompas.com/HO/IST/Kompas.com/ Ruby Rachmadina
TOKOH PERS - CEO Kompas Gramedia Liliek Oetama menerima penghargaan Tokoh Pers 2025 atas nama mendiang Jakob Oetama dari Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat di Balai Kota Jakarta, Rabu (10/12/2025) 
Ringkasan Berita:

 

TRIBUNGORONTALO.COM - Dewan Pers menganugrahi Pendiri Kompas Gramedia, Liliek Oetama menjadi Tokoh Pers Indonesia.

Penganugerahan tersebut diberikan dalam malam Anugerah Dewan Pers 2025 di Balai Kota Jakarta, pada Rabu malam (10/12/2025).

Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat menyerahkan penghargaan tersebut kepada CEO Kompas Gramedia, Liliek Oetama, putra Liliek Oetama.

Dewan Pers juga menyerahkan sebuah karya karikatur bergambar wajah Jakob Oetama sebagai simbol penghormatan atas kontribusinya bagi dunia pers nasional.

Acara puncak ini turut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, mantan Menkominfo Sofyan Djalil, CEO Tribun Network sekaligus Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers Dahlan Dahi, serta mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin.

TOKOH PERS - CEO Kompas Gramedia Liliek Oetama menerima penghargaan Tokoh Pers 2025 atas nama mendiang Jakob Oetama dari Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat di Balai Kota Jakarta, Rabu (10/12/2025)
TOKOH PERS - CEO Kompas Gramedia Liliek Oetama menerima penghargaan Tokoh Pers 2025 atas nama mendiang Jakob Oetama dari Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat di Balai Kota Jakarta, Rabu (10/12/2025) (Kompas.com/HO/IST/Kompas.com/ Ruby Rachmadina)

Anggota Dewan Pers, Maha Eka Swasta menyampaikan Jakob Oetama merupakan figur sentral yang memperkenalkan dan mengembangkan filosofi jurnalisme yang bijak, berhati-hati, dan humanis.

Bagi banyak wartawan, ia tidak hanya dikenal sebagai pemimpin media, tetapi juga sebagai guru yang menanamkan pentingnya menjaga nalar publik melalui integritas dan empati. 

“Bapak Jakob Oetama adalah sosok jurnalis kawakan yang memperkenalkan filosofi jurnalisme bijak, hati-hati, dan humanis. Menurut beliau, pers bukan hanya sebagai penyampai fakta, tetapi juga penjaga nalar publik. Integritas harus diiringi dengan empati,” kata Maha Eka Swasta.

Dalam kesempatan itu, Liliek Oetama menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas penghargaan yang diberikan kepada ayahnya. 

 Dia menyebut anugerah tersebut sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi panjang Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik di Indonesia.

 “Kami atas nama keluarga, mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada almarhum Bapak Jakob Oetama. Juga atas nama keluarga besar dari Kompas Gramedia, kami juga ucapkan terima kasih untuk penghargaan ini. Saya rasa saat ini mungkin Bapak di atas juga tahu, mudah-mudahan Bapak bahagia di sana. Sekali lagi terima kasih,” ucap Liliek disambut tepuk tangan meriah.

Adapun, Anugerah Dewan Pers 2025 mengusung tema ‘Tegas Menjaga Kemerdekaan Pers’, ajang ini menjadi penghormatan bagi tokoh-tokoh bangsa yang berdedikasi menjaga kemerdekaan pers di Indonesia.

Selain menganugerahkan penghargaan kepada Jakob Oetama, dalam kesempatan itu Dewan Pers juga memberikan dua penghargaan lainnya kepada tokoh yang dinilai berjasa dalam memperjuangkan nilai-nilai pers, kemanusiaan, serta  profesionalisme jurnalistik. 

Muhammad Rifki Juliana, wartawan Tribun Banten Terima Penghargaan Wartawan Tangguh

Penghargaan Wartawan Tangguh diberikan kepada Muhammad Rifki Juliana, wartawan Tribun Banten, yang menjadi korban pengeroyokan saat menjalankan tugas jurnalistik. 

Meski mengalami kekerasan, Rifki dinilai tetap setia pada profesinya dan menjunjung tinggi etika jurnalistik. 

Rifky sebelumnya menjadi korban pengeroyokan oleh pihak PT Genesis Regeneration Smelting pada 21 Agustus 2025. 

Dia dianiaya saat meliput penyegelan perusahaan tersebut oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Dalam sambutannya, Rifky menyampaikan terima kasih kepada jajaran pimpinan Tribun Network yang terus memberikan pendampingan dalam proses hukum.

"Terima kasih juga kepada CEO Tribun Network Bang Dahlan, beserta Direktur Pemberitaan, yang mana hingga saat ini terus memberikan pendampingan proses hukum," tuturnya. 

Sementara itu, penghargaan Tokoh Kemanusiaan dan Perdamaian dianugerahkan kepada Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Muhammad Jusuf Kalla. 

Ia dinilai berkontribusi besar dalam menjaga kemerdekaan pers serta berperan aktif sebagai tokoh perdamaian, termasuk dalam proses perdamaian di Aceh dan Poso. 

Dewan Pers menilai sikap konsisten Jusuf Kalla dalam mendukung kebebasan pers dan penegakan Undang-Undang Pers sejalan dengan semangat reformasi dan penguatan demokrasi di Indonesia.

Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat mengatakan, penghargaan tersebut merupakan ajang apresiasi tertinggi yang didedikasikan bagi insan pers sebagai pilar keempat demokrasi bangsa. 

"Saya ucapkan selamat yang sebesar-besarnya. Anda semua adalah inspirasi bagi kami dan juga sumber motivasi. Teruslah berkarya dan teruslah menjadi mata, telinga, serta hati nurani publik," kata Komaruddin dalam sambutannya. 

Komaruddin menegaskan, Dewan Pers berkomitmen memastikan kebebasan pers tetap berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan kepatuhan pada Kode Etik Jurnalistik.

"Marilah kita jadikan momen ini sebagai penegasan kembali komitmen bersama kita untuk menjaga ekosistem pers yang sehat, adil, dan bermartabat," ujarnya.

Profil Jakob Oetama, Tokoh Pers Indonesia

Jakob Oetama lahir di sebuah desa bernama Desa Jowahan, 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 27 September 1931.

Jakob Oetama wafat pada Rabu (9/9/2020) di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara pada umur 88 tahun.

Jakob merupakan putra pertama dari 13 bersaudara.

 Sementara, ayahnya bernama Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo seorang pensiunan guru Sekolah Rakyat di Sleman, Yogyakarta dan ibunya bernama Margaretha Kartonah.

Jakob memiliki dua orang anak, yakni Lilik Oetama dan Irwan Oetama.

Cita-cita awal Jakob adalah menjadi pastor.

Namun, pekerjaan ayahnya sebagai guru membuat Jakob untuk tidak melanjutkan cita-cita awalnya.

Saat ini, Jakob Oetama dikenal sebagai salah satu pendiri Kompas Gramedia Group Bersama dengan Petrus Kanisius (PK) Ojong.

Jakob Oetama memulai kariernya setelah keluar dari Seminari di Yogyakarta.

Jakob ingin menjadi guru seperti ayahnya.

Ayahnya kemudian meminta Jakob untuk pergi ke Jakarta menemui kerabat bernama Yohanes Yosep Supatmo.

Supatmo bukanlah seorang guru.

Ia adalah pemilik Yayasan Pendidikan Budaya yang mengelola sekolah-sekolah budaya.

Pekerjaan pertama Jakob bukanlah sebagai guru di Yayasan milik Supatmo, melainkan sebagai guru di SMP Mardiyuwana Cipanas, Jawa Barat pada 1952 sampai 1953.

Jakob pindah ke Sekolah Guru Bagian B di Lenteng Agung, Jakarta pada 1953-1954.

Kemudian, ia pindah lagi ke SMP Van Lith di Gunung Sahari pada 1954-1956.

Sekolah-sekolah tersebut di bawah asuhan para pastor Kongregasi Ordo Fratrum Minorum (OFM) atau disebut Fransiskan.

Saat itu Jakob tinggal di kompleks Sekolah Vincentius di Kramat Raya, Jakarta Pusat atau sekarang menjadi kompleks Panti Asuhan Vincentius Putra.

Sambil mengajar di SMP, Jakob kemudian melanjutkan studinya pada tingkat tinggi.

Jakob memilih kuliah B-1 Ilmu Sejarah.

Setelah lulus, dia melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Publisistik di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Minat menulis Jakob tumbuh seiring dengan belajar sejarah.

Kecintaannya dengan dunia jurnalistik tumbuh ketika mendapat pekerjaan sebagai sekretaris redaksi mingguan Penabur di Jakarta dan memutuskan berhenti mengajar pada 1956.

Tugas utamanya di Penabur adalah menjalankan peran sebagai pemimpin direksi.

Jakob sempat direkomendasikan mendapatkan beasiswa di University of Columbia, Amerika Serikat oleh salah satu guru Sejarahnya ketika bersekolah di B-1 Sejarah yang juga seorang pastor Belanda, Van den Berg, SJ.

Jakob akan memperoleh gelar PhD dan akan menjadi sejarawan atau dosen sejarah.

Tak hanya itu, Jakob juga sempat diterima sebagai dosen di Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, dan disiapkan rumah dinas bagi keluarganya.

Unpar juga sudah menyiapkan rekomendasi PhD di Universitas Leuven, Belgia setelah Jakob beberapa tahun mengajar di sana.

Jakob merasa bimbang apakah ingin menjadi wartawan profesional ataukah guru profesional.

Kemudian, Jakob menemui Pastor JW Oudejans OFM, pemimpin umum di mingguan Penabur.

Oudejans, Pastor tersebut menasihatinya bahwa guru sudah banyak, tetapi wartawan tidak.

Saat itulah yang menjadikan titik balik Jakob untuk fokus menggeluti dunia jurnalistik.

Pada awal 1960-an, Jakob Oetama aktif menjadi pengurus Ikatan Sarjana Katolik Indonesia bersama Petrus Kanisiun (PK) Ojong.

Pada April 1961, PK Ojong mengajak Jakob untuk mendirikan sebuah majalah.

Majalah tersebut diberi nama Intisari, mengenai perkembangan dunia ilmu pengetahuan.

Majalah Intisari yang didirikan oleh Jakob Oetama dan PK Ojong Bersama J. Adisubrata dan Irawati SH pertama kali terbit pada 17 Agustus 1963.

Majalah ini bertujuan untuk memberi bacaan bermutu dan membuka cakrawala masyarakat Indonesia.

Intisari juga dibuat sebagai pandangan politik Jakob dan Ojong yang menolak belenggu terhadap masuknya informasi dari luar.

Dalam penerbitannya, Intisari juga melibatkan banyak ahli, di antaranya adalah ahli ekonomi Prof. Widjojo Nitisastro, penulis masalah-masalah ekonomi terkenal seperti Drs. Sanjoto Sasstromohardjo, dan sejarawan muda Nugroho Notosusanto.

Berkat pergaulan PK Ojong yang sangat luaslah Intisari berhasil terbit.

Dikutip dari kompas.com, kepekaan Jakob Oetama pada masalah manusia dan kemanusiaan yang kemudian menjadi spiritualitas Harian Kompas, yang terbit pertama kali pada 1965.

Hingga lebih dari setengah abad kemudian, Kompas Gramedia berkembang menjadi bisnis multi-industri.

Jakob Oetama tidak pernah melepas identitas dirinya sebagai seorang wartawan.

Baginya, "Wartawan adalah Profesi, tetapi Pengusaha karena Keberuntungan."

Semasa hidup, Jakob Oetama dikenal sebagai sosok sederhana yang selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme.

Almarhum berpegang teguh pada nilai Humanisme Transendental yang ditanamkannya sebagai fondasi Kompas Gramedia.

Idealisme dan falsafah hidupnya telah diterapkan dalam setiap sayap bisnis Kompas Gramedia yang mengarah pada satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia.

Berikut sederet penghargaan yang pernah didapatkan Jakob Oetama semasa hidupnya, sebagaimana dikutip Kompas.com dari Kompas.id:

1973

Bintang Mahaputera Utama dari Pemerintah RI

1994

Wira Karya Kencana dari Kantor Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN, karena dianggap telah Berjasa dalam Gerakan KB Nasional

2003

Anugerah Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

2004

Chief Executive Officer (CEO) Terbaik Tahun 2003 dari Majalah SWA, Synovate Research Reinvented, dan Dunamis

2005

Entrepreneur of The Year dari Ernst & Young Penghargaan dari Tiga Pilar Kemitraan berkaitan dengan Hari Antikorupsi Alumnus Teladan dari Universitas Gadjah Mada dalam Rangka Dies Natalis ke-56, Yogyakarta

2006

World Entrepreneur of the Year Academy 2006 dari Ernst & Young, Monaco

2007

Lifetime Achievement Award dari Bank BRI

2008

Lifetime Achievement Award dari PWI 2009 Bintang jasa “The Order of The Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari Pemerintah Jepang

9 Februari 2010

Number One Press Card dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

24 Maret 2010

Bintang Jasa The Order of The Rising Sun dan Gold Rays with Neck Ribbon dari pemerintah Jepang

18 Agustus 2010

Soegeng Sarjadi Award on Lifetime Achievement

19 April 2011

Medali Emas Spirit Jurnalisme dari Komunitas Hari Pers Nasional 2011

16 Oktober 2011

Tokoh berpengaruh penting dalam menyebarkan semangat dan kecakapan kewirausahaan bidang sosial dalam Ciputra Award

13 Juli 2012

Penghargaan Pengabdian 30 Tahun Tokoh Pers di Industri Media Cetak dari Serikat Perusahaan Pers (SPS)

10 Januari 2013

Jakob Oetama dinilai berkontribusi besar terhadap perkembangan media di Tanah Air, sekaligus mematangkan media massa untuk memperkuat demokrasi di Indonesia sehingga mendapat award di ajang Paramadina Award dari Universitas Paramadina

4 Juli 2013

Asia Communication Award dari Asian Media Information and Communication Centre (AMIC)

12 Juli 2013

Lifetime Award dari Asian Publishing Convention

5 September 2014

Gelar doktor kehormatan (”honoris causa”) dari Universitas Sebelas Maret UNS), Surakarta

8 Desember 2015

Life Time Achievement Award dari Tahir Foundation

3 Februari 2017

Penghargaan Lifetime Achievement Awards dari SPS

13 Mei 2017

Lifetime Achievement Award dari Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Anugerah Dewan Pers 2025, Jakob Oetama Dianugerahi Tokoh Pers Indonesia

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Rabu, 04 Maret 2026 (14 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:32
Subuh 04:42
Zhuhr 12:03
‘Ashr 15:14
Maghrib 18:06
‘Isya’ 19:14

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved