Berita Nasional
Alasan Indonesia Masih Impor, Zulkifli Hasan Sebut Gara-Gara Harga Produksi Masih Mahal
Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan mengungkapkan penyebab utama Indonesia masih bergantung pada impor
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Menteri-Koordinator-Bidang-Pangan-Zulkifli-Hasan-Zulhas.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan mengungkapkan penyebab utama Indonesia masih bergantung pada impor pangan adalah tingginya biaya produksi di dalam negeri.
Menurutnya, biaya memproduksi komoditas strategis seperti beras dan gula masih jauh lebih mahal dibandingkan negara-negara tetangga, sehingga membuat produk lokal sulit bersaing.
Zulhas mencontohkan, untuk menghasilkan 1 kilogram beras, petani Indonesia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 13.000, sementara Vietnam hanya membutuhkan sekitar Rp 4.000 per kilogram.
Baca juga: Pemprov Cetak 5 Ribu Ha Sawah Baru di Pohuwato, Luasnya Lebih dari Separuh Kota Gorontalo
Kondisi ini otomatis membuat harga beras di Indonesia ikut tinggi.
“Kalau kita mau makan nasi, harus beli beras Rp 14.000 karena ongkos produksinya saja sudah Rp 13.000. Vietnam cuma Rp 4.000. Jauh sekali,” kata Zulkifli Hasan dalam acara Arah Bisnis 2026: Menuju Kedaulatan Ekonomi di Jakarta, Senin (8/12/2025).
Gula Indonesia Kalah Bersaing dengan Thailand
Inefisiensi serupa juga terjadi pada sektor gula. Thailand mampu memproduksi 1 kilogram gula hanya dengan biaya Rp 3.000, sementara Indonesia membutuhkan Rp 13.000 hingga Rp 15.000.
“Thailand itu memproduksi 1 kg gula butuh Rp 3.000. Kita butuh Rp 13.000 sampai Rp 15.000. Jauh sekali, sulit untuk maju,” ujar Zulhas.
Ia menegaskan, selisih biaya produksi yang sangat lebar ini menjadi alasan kuat kenapa Indonesia masih terus mengimpor sejumlah komoditas penting.
Ketergantungan Impor Masih Tinggi
Zulhas merinci, tahun lalu Indonesia mengimpor 4,5 juta ton beras, 6 juta ton gula, 3 juta ton kedelai, 2,8 juta ton garam, 2 juta ton jagung industri, dan 13 juta ton gandum.
Menurutnya, kondisi ini ironis bagi negara agraris yang memiliki potensi sumber daya alam besar.
“Kalau pangan saja kita sangat tergantung, bagaimana kita bisa menuju kedaulatan ekonomi? Tidak mungkin,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Zulhas, tengah mendorong reformasi sistem produksi pangan sebagai solusi jangka panjang.
Ada tiga sektor yang menjadi fokus utama:
• Penyediaan pupuk yang memadai
• Perbaikan infrastruktur irigasi
• Kepastian harga bagi petani
Zulhas mengklaim kebijakan-kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil, terutama pada peningkatan produksi beras nasional.
“Tahun lalu kita impor beras 4,5 juta ton. Tahun ini impornya nol. Tahun lalu produksi 30 juta ton, tahun ini 34,77 juta ton. Kita bahkan surplus 4,77 juta ton,” pungkasnya.(*)