570 Saham Tersungkur Bikin IHSG Terkapar Dalam, Ini Biang Keroknya
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat. Terjadi penurunan signifikan sebesar 2,08 persen
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pergerakan-indeks-terpantau-melalui-monitor-di-Bursa-Efek-Indonesia-di-Jakarta-Senin-2752024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat.
Terjadi penurunan signifikan sebesar 2,08 persen ke level 7.956 hingga pukul 11.14 WIB, Jumat (17/10/2025).
Koreksi ini menjadi salah satu yang terdalam dalam beberapa pekan terakhir, menandai kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi pasar keuangan.
Sebagai informasi, IHSG adalah indikator utama yang mencerminkan kinerja seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ketika IHSG turun, itu berarti secara umum harga saham-saham di bursa mengalami penurunan.
Penurunan tajam IHSG bisa menjadi sinyal kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi, baik dari faktor domestik maupun global.
570 Saham Melemah, 5 Emiten Jadi Penekan Terbesar
Dari total saham yang diperdagangkan di BEI, sebanyak 570 saham tercatat melemah, hanya 148 saham yang berhasil menguat, dan 235 saham stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp13,10 triliun, dengan volume perdagangan 20,91 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi 1,53 juta kali.
Lima saham yang menjadi pemberat utama IHSG hari ini adalah:
PGUN (PT Pradiksi Gunatama Tbk): turun 14,99 persen
MLPT (PT Multipolar Technology Tbk): anjlok 14,83 persen
POLU (PT Golden Flower Tbk): melemah 11,29 persen
DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk): terkoreksi 7,87 persen
DCII (PT DCI Indonesia Tbk): tergerus 3,24 persen
Saham-saham tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari teknologi, energi, hingga consumer goods.
Penurunan tajam pada saham-saham ini turut menyeret IHSG ke zona merah.
Apa Dampaknya Jika IHSG Anjlok?
-Investor ritel maupun institusi bisa mengalami kerugian nilai investasi.
-Koreksi tajam bisa memicu aksi jual lanjutan dan meningkatkan volatilitas.
-IHSG sering dijadikan barometer sentimen ekonomi.
Penurunan tajam bisa mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi, suku bunga, atau ketidakpastian global.
Investor asing bisa menarik dana dari pasar Indonesia jika melihat risiko meningkat, yang bisa memperlemah nilai tukar rupiah.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.