G30S PKI
Kesaksian Ahli Forensik soal Korban G30S/PKI, 6 Jenderal Tewas Bukan karena Penyiksaan
Seorang ahli forensik, Dr Liauw Yan Siang, mengungkapkan fakta terkait kematian para jenderal dalam G30S/PKI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-Dr-Liauw-Yan-Siang-dan-enam-jenderal-korban-G30SPKI.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Seorang ahli forensik, Dr Liauw Yan Siang, mengungkapkan fakta terkait kematian para jenderal dalam Gerakan 30 September atau dikenal G30S/PKI.
Dr Liauw Yan Siang merupakan anggota tim dokter pernah ditugasi oleh Presiden Soekarno untuk melakukan autopsi terhadap jenazah enam jenderal dan satu perwira yang menjadi korban G30S/PKI.
Selama ini masyarakat Indonesia mengetahui para jenderal disiksa hingga tewas dan ditemukan di Lubang Buaya.
Hal itu dikarenakan adegan film Penumpasan Pengkhianatan G39S/PKI karya Arifin C Noer (1984).
Namun, dokter forensik justru mengemukakan fakta berbeda.
Dalam buku berjudul Tidak Ada Penyiksaan kepada Enam Jenderal (2015), Dr. Liauw Yan Siang, yang turut serta dalam tim otopsi, bersaksi bahwa pemeriksaan yang dilakukan pada 4 Oktober 1965 tidak menemukan adanya tanda-tanda penyiksaan.
"Kalau enggak ada luka tusuk, enggak ada luka iris, enggak ada cungkilan-cungkilan apa, mutilasi enggak ada, ya konklusi saya, ya enggak ada juga," katanya, dikutip dari Kompas.com (2022).
Dr. Liauw hanya menemukan adanya luka benda tumpul pada jenazah, yang ia sendiri tidak tahu penyebab pastinya.
Luka ini kemudian dikonfirmasi oleh dokumen otopsi sebagai akibat trauma berat, bukan sayatan atau siksaan.
Dokumen otopsi para jenderal, yang dilampirkan sejarawan Ben Anderson dalam jurnalnya "How Did The Generals Die?", menguatkan bahwa tidak ada keterangan yang menunjukkan penyiksaan.
Luka robek dan patah tulang pada korban dijelaskan sebagai trauma benda tumpul berat.
Kondisi buruk pada mata salah satu jenazah juga disebabkan oleh lamanya jenazah terbaring di dasar kubur yang lembap.
Dr Liauw Yan Siang juga mengungkapkan bahwa desas-desus mengenai penganiayaan dan penyiksaan para jenderal sudah beredar luas sebelum otopsi selesai.
Presiden Soekarno bahkan secara khusus meminta hasil otopsi diserahkan secepat mungkin.
Permintaan tersebut bertujuan untuk membuktikan bahwa tuduhan penganiayaan tidak benar dan menentang desas-desus yang beredar, yang kemudian disampaikan Soekarno melalui pidato atau pengumuman.
Kontras dengan Narasi Orde Baru
Hasil forensik ini sangat bertolak belakang dengan propaganda yang disebarkan pada masa Orde Baru.
Surat kabar militer seperti Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha segera setelah penemuan jenazah (awal Oktober 1965) memuat laporan yang menggambarkan pembunuhan para jenderal dilakukan secara keji, lengkap dengan tanda-tanda penyiksaan yang tidak manusiawi dan mutilasi.
Pangkostrad Mayjen Soeharto turut menegaskan "kebiadaban" para pelaku setelah jenazah diangkat, yang kemudian ia ulangi dalam otobiografinya, memperkuat narasi adanya penganiayaan.
Narasi penyiksaan yang dramatis ini, yang kemudian divisualisasikan dalam film "Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI", diyakini efektif membakar emosi massa.
Mantan anggota CIA Ralph McGhee menyebut berita penyiksaan ini sangat efektif dalam menciptakan iklim kondusif bagi militer untuk melancarkan aksi pembantaian terhadap anggota PKI dan simpatisannya.
Meskipun laporan resmi otopsi membantah penyiksaan, dokumen tersebut sayangnya tidak pernah ditunjukkan kepada publik, memungkinkan narasi penyiksaan oleh Orde Baru terus mendominasi sejarah.
Laporan otopsi tidak ditunjukkan ke publik
Tak sampai di situ, pemberitaan soal penyiksaan para jenderal sebelum dilempar ke sumur semakin riuh seminggu setelah kejadian.
Sejumlah media massa menyebut bahwa para jenderal ada yang diiris bagian tubuhnya, dipotong alat kelaminnya, serta dicongkel matanya, sebelum akhirnya ditembak hingga tewas.
Dikutip dari Tragedi Nasional Percobaan KUP G30S/PKI di Indonesia tahun 1990, penyiksaan fisik dan perlakuan kejam terhadap para jenderal dan perwira pertama dibuktikan dari laporan visum et repertum dari lima dokter.
Kendati demikian, isi laporan et repertum tersebut tidak ditunjukkan kepada publik.
Berbekal narasi pemberitaan tentang kekejaman pembunuhan para jenderal, tampaknya seniman film kemudian menggambarkan adegan penyiksaan seperti dalam film "Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI".
Mantan anggota Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA) yang bertugas di Jakarta saat itu Ralph McGhee, menyebut berita penyiksaan para jenderal sebelum tewas sangat efektif membakar emosi massa dan menciptakan iklim kondusif bagi militer untuk melancarkan aksi pembantaian terhadap anggota PKI dan simpatisannya.
Daftar Korban G30S/PKI
Sebanyak tujuh perwira tinggi dan perwira pertama TNI Angkatan Darat gugur dalam tragedi Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965.
Keenam jenderal dan satu perwira ini ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi atas jasa dan pengorbanan mereka.
Berikut daftar namanya:
- Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani — Menteri/Panglima Angkatan Darat
- Letjen TNI Anumerta Suprapto — Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat Bidang Administrasi
- Letjen TNI Anumerta S Parman — Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat Bidang Intelijen
- Letjen TNI Anumerta MT Haryono — Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat Bidang Perencanaan dan Pembinaan
- Mayjen TNI Anumerta DI Pandjaitan — Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat Bidang Logistik
- Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo — Jaksa Militer Tertinggi Angkatan Darat
- Kapten CZI Anumerta Pierre Tendean — Ajudan Jenderal A. H. Nasution
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bukti Tidak Ada Luka Penyiksaan pada Jenderal Korban G30S"
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.