Berita Nasional
Jenderal Listyo Sigit Prabowo Teguh Tak Mau Mundur dari Jabatan Kapolri, Fokus Pulihkan Moral Polri
Kapolri Listyo Sigit Prabowo pilih bertahan di masa krisis, fokus pulihkan moral anggota Polri dan stabilkan keamanan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kapolri-Jenderal-Listyo-Sigit-Prabowo-xcdfgd.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Di tengah sorotan publik dan tekanan dari berbagai pihak terkait insiden demonstrasi berujung kerusuhan dan penjarahan pada akhir Agustus 2025, Jenderal Listyo Sigit Prabowo tetap memilih untuk bertahan sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri).
Banyak pihak menilai bahwa kerusuhan tersebut menunjukkan lemahnya pengendalian keamanan, sehingga muncul desakan agar Listyo mundur dari jabatannya.
Namun, Kapolri menegaskan bahwa mundur di saat institusi berada dalam kondisi kritis justru berarti meninggalkan tanggung jawab moral terhadap anggota Polri dan keseluruhan organisasi.
Dalam wawancara eksklusif bersama program ROSI Kompas TV, Listyo Sigit Prabowo menjelaskan bahwa ide untuk mengundurkan diri sempat menjadi pertimbangan serius.
Ia bahkan sempat berdiskusi secara internal dengan pejabat utama dan anggota Polri, namun mayoritas menolak keputusan itu.
"Saya juga bukannya tidak mendengar dan kemudian tidak berpikir untuk apakah saya harus mengundurkan diri ataukah saya harus bertahan," ungkapnya.
Kapolri menekankan bahwa kepemimpinan berarti hadir di tengah kesulitan, bukan menghindari masalah.
Baginya, langkah terbaik adalah memperbaiki moral anggota, membangkitkan kembali performa institusi, dan memastikan Polri dapat menjalankan tugas pokoknya dengan efektif.
Baca juga: Presiden Prabowo Turun Tangan Atasi Kasus Keracunan Program MBG, Kepala BGN Segera Dipanggil
Listyo menegaskan, keputusan bertahan bukan sekadar soal posisi pribadi, tetapi tentang memastikan stabilitas organisasi dan rasa aman bagi masyarakat.
"Mundur di dalam situasi kondisi seperti ini sama saja saya meninggalkan kondisi anggota, kondisi institusi yang sedang terpuruk, yang carut-marut, dan kemudian saya mundur, (artinya) saya tidak tanggung jawab," tegas Kapolri.
Ia siap menghadapi risiko, termasuk kemungkinan dicopot, demi menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab institusi.
Dengan fokus utama pada pemulihan moral dan kinerja anggota, Kapolri menekankan bahwa kepemimpinannya bertujuan menegakkan disiplin, menumbuhkan semangat, dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap Polri di tengah krisis.
"Tentunya yang harus saya lakukan adalah bagaimana mengembalikan mereka, mengembalikan moral mereka, bagaimana mereka bisa bekerja normal lagi," katanya.
Dilansir dari TribunManado.com, Rosianna Silalahi lantas mempertanyakan mengapa pilihan mundur tidak dianggap sebagai bagian dari pertanggungjawaban moral atas lumpuhnya keamanan yang menjadi tanggung jawab Polri saat itu.
Kapolri menjawab bahwa mundur saat ini justru tidak akan memperbaiki keadaan, melainkan memperburuknya.
"Kondisi itu bukan membuat menjadi semakin baik, justru sebaliknya. Mereka butuh figur yang berani mengambil posisi tanggung jawab," jelas Listyo.
Baca juga: Cara Mudah Cek Penerima Bansos PKH Oktober 2025, Saldo Oktober dan Desember Cair Sekaligus
Bahkan, Jenderal Listyo menegaskan bahwa kesiapan untuk dicopot adalah bentuk pertanggungjawabannya yang jauh lebih besar daripada sekadar mundur.
"Saya siap mengambil risiko apa pun dan saya siap dicopot. Dan itu saya sampaikan kepada para pejabat pertama saat itu," ujarnya.
Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah mengembalikan semangat anggota dan institusi untuk dapat melaksanakan tugas pokok, menciptakan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), serta memberikan rasa aman kepada masyarakat yang saat itu diliputi kekhawatiran.
Tegak Lurus terhadap Presiden
Mengenai adanya tuntutan pergantian Kapolri dari berbagai pihak, termasuk politisi dan DPR, Jenderal Listyo memandangnya sebagai hak masyarakat dan DPR.
Namun, ia kembali menekankan fokus utamanya adalah memulihkan kinerja Polri.
"Saya fokus untuk bagaimana Polri bisa melaksanakan tugas pokoknya dengan semaksimal mungkin. Urusan lain itu prerogatif Presiden," kata Kapolri, sembari mengulang posisinya yang akan selalu tegak lurus terhadap perintah Presiden.
Kapolri Listyo Sigit Prabowo menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa misi utamanya adalah membangkitkan kembali moral dan performa institusi Polri, karena anggota butuh figur yang berani bertanggung jawab untuk menjalankan amanat Undang-Undang Dasar dan Undang-Undang dalam menjaga situasi Kamtibmas.
Baca juga: Jumlah Gaji Pokok dan Deretan Tunjangan PPPK Paruh Waktu 2025, Begini Rincian dan Ketentuannya
"Kalau urusan Listyo Sigit Prabowo sudah selesai. Tugas saya laksanakan itu dulu dan itu menjadi PR saya, PR kita bersama untuk bagaimana performa institusi Polri bisa kembali seperti sebelumnya," pungkasnya.
Wawancara ini menyoroti bagaimana seorang pimpinan memilih untuk menghadapi krisis institusi, bukan dengan 'melarikan diri' lewat pengunduran diri, melainkan dengan mengambil posisi berisiko untuk membangkitkan kembali moral bawahannya. (*)
Artikel ini telah tayang di TribunManado.co.id
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.