Berita Nasional
Sempat Diam karena Dinilai Sombong, Menkeu Purbaya Akhirnya Ngobrol Bebas di DPR
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung soal gaya bicara dan ucapannya yang sering jadi sorotan sejak menjadi menteri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Menteri-Keuangan-Purbaya-Yudhi-Sadewa-sddfrff.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Ada momen unik sekaligus mengundang gelak tawa saat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjalani rapat perdananya bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (10/9).
Datang sebagai Menteri Keuangan yang baru dilantik, Purbaya sempat memilih untuk tidak banyak bicara — bukan karena gugup, melainkan karena gaya bicaranya yang sebelumnya dianggap “tengil” dan “sombong” oleh warganet.
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung soal gaya bicara dan ucapannya yang sering jadi sorotan sejak menjadi menteri.
Kendati demikian, upayanya untuk tidak bicara ke publik itu dirayu para anggota DPR.
Meski pertama kalinya mengikuti rapat sebagai Menteri Keuangan, sebelumnya Purbaya sudah terbiasa mengikuti rapat bersama DPR saat menjabat sebagai Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Sehingga sosok Purbaya itu pun tidak asing bagi para anggota DPR khususnya Komisi XI.
"Ini kunjungan saya yang pertama sebagai Menteri Keuangan, betul Pak. Biasanya sebagai LPS," kata Purbaya dikutip dari Kompas TV.
Baca juga: Gempa Bumi Terkini SR 3.1 Menguncang Wilayah Sumatra Selatan, Indonesia BMKG: Kedalaman 32Km
Baca juga: Fakta Banjir di Bali: Puluhan Warga Terdampak, Listrik Padam, Pemkot Tetapkan Status Darurat
Purbaya juga sempat menyinggung gaya dia berucap yang belakangan heboh disorot warganet.
Banyak yang menilai Purbaya bergaya tengil dan sombong saat bicara.
Namun Purbaya sendiri di lingkungan kerjanya disebut kerap berbicara bergaya koboi.
"Kalau waktu Ketua LPS saya katanya ngomongnya kayak agak koboi, sekarang enggak boleh saya," kata Purbaya.
"Saya baru merasakan dampaknya, rupanya beda," sambung dia tertawa direspons serupa oleh para anggota DPR.
Kapok omongannya bisa menyinggung orang tanpa sengaja, Purbaya memilih bicara dalam rapat menggunakan kertas pidato yang disiapkan stafnya.
Sontak hal itu turut menimbulkan gelak tawa dari orang-orang yang hadir di DPR tersebut.
"Jadi sekarang saya sekarang saya akan stick ke pidato yang sudah disiapkan oleh staf saya di sini, Pak," katanya tertawa.
"Jadi enggak ada session bebas lagi," sambung Purbaya.
Namun rupanya, pihak DPR Komisi XI ini sama sekali tidak mempersalahkan gaya bicara Purbaya yang koboi.
Bahkan anggota DPR juga membujuk Purbaya untuk ikuti rapat sesuai gaya bicara aslinya, tanpa ditahan.
Akhirnya Purbaya terkena rayuan anggota DPR itu hingga dia pun kemudian berbicara bebas tanpa membaca kertas apapun.
Dia membicarakan tentang pengalamannya hingga membicarakan kondisi perekonomian negara dari tahun ke tahun.
"Tadi saya enggak mau jadi koboy, sekarang saya dipakai jadi koboy lagi rupanya," ucap Purbaya usai diminta bicara lepas oleh DPR.
Namun mengawali pembicaraan, Purbaya meminta maaf di awal jika ada orang yang tersinggung atas ucapannya.
"Tapi nanti begini kalau ada kesalahan saya mohon maaf sebelumnya. Enggak slip (keceplosan), tapi betul," katanya.
"Tapi gini, mungkin beberapa kalangan akan tersinggung dan saya minta maaf kalau ada yang tersinggung, tapi ini langkah untuk memperbaiki ekonomi kita seperti apa," kata Purbaya.
Baca juga: Pengisian DRH PPPK Paruh Waktu 2025 Dibuka, Ini Perbedaan Masa Kerja dengan Penuh Waktu
Purbaya kemudian menyinggung pertanyaan terkait apa yang akan dia lakukan sebagai menteri ke depan.
Dia juga menyinggung soal dia yang ditunjuk Presiden Prabowo Subianto menjadi Menkeu.
"Kalau emang ditanya program apa yang saya akan buat?, kenapa Pak Presiden Prabowo mau menunjuk saya?. apa dia salah tunjuk?, mungkin enggak," kata Purbaya.
Dia kemudian menjelaskan pengalamannya di dunia ekonomi termasuk membantu perekonomian Indonesia sejak dulu.
"Jadi begini, saya ekonom cukup lama. Tahun 2000 jadi ekonom, pulang sekolah langsung kerja di financial sektor," ujarnya.
"Kemudian 2002 langsung membantu timnya Pak SBY di Brighton Institute, sering memberi masukan, 2010 staf khususnya Pak Hatta Rajasa, 2015 masuk ke KSP membantu Pak Luhut dan memberi masukan ke Pak Jokowi juga ketika sedang susah," imbuhnya.
Purbaya memaparkan kesalahan-kesalahan kebijakan sejak krisis 1998 hingga saat ini yang merugikan bagi perekonomian negara.
Baca juga: Beda PPPK Paruh Waktu dan Penuh Waktu: Mana yang Lebih Menguntungkan?
Dia mengaku juga sempat membantu permasalahan ekonomi di masa pemerintah SBY hingga Jokowi hingga negara bisa keluar dari situasi sulit.
"Jadi bagaimana me-manage ekonomi itu bukan barang baru untuk saya. Ini jangan bilang sombong ya, tapi kan Anda mesti tahu, saya harus meyakinkan bapak-bapak kan ?," ungkap Purbaya.
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.