Berita Viral
4 Jenderal TNI Datangi Polda Metro Jaya, Konsultasi Dugaan Tindak Pidana Ferry Irwandi
Empat perwira tinggi (pati) TNI dari Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL) mendatangi Polda Metro Jaya, Senin (8/9/2025).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Juinta-dengan-ferry-irwandi.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta – Empat perwira tinggi (pati) TNI dari Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL) mendatangi Polda Metro Jaya, Senin (8/9/2025).
Kedatangan para jenderal ini bertujuan untuk berkonsultasi terkait dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh konten kreator Ferry Irwandi.
Komandan Satuan Siber (Dansatsiber) TNI, Brigjen Juinta Omboh Sembiring, mengungkapkan bahwa temuan ini didapat dari hasil patroli siber yang mereka lakukan.
“Konsultasi kami ini terkait dengan kami menemukan hasil dari patroli siber, kami temukan beberapa fakta-fakta dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh saudara Ferry Irwandi,” kata Juinta seperti dilansir TribunGorontalo.com dari pemberitaan Suryamalang, Selasa (9/9/2025).
Meskipun belum merinci jenis tindak pidana yang dimaksud, Juinta menegaskan bahwa TNI akan menempuh jalur hukum untuk menindaklanjuti temuan tersebut.
Ia juga mengaku telah berusaha menghubungi Ferry Irwandi, namun tidak mendapat respons.
Respons Ferry Irwandi
Menanggapi kabar tersebut, Ferry Irwandi menyatakan dirinya tidak gentar. Melalui akun Instagramnya, ia menegaskan siap menjalani proses hukum.
“Saya akan jalani, saya enggak akan playing victim, merengek-rengek, tidak gitu. Kalau memang mau diproses hukum, ya ini kan negara hukum, kita jalani bersama,” ujar Ferry.
Hingga berita ini ditulis, kasus ini masih menyisakan pertanyaan mengenai hubungan antara pernyataan Ferry tentang algoritma dan dugaan tindak pidana yang ditemukan oleh TNI. Namun, pihak TNI menegaskan akan tetap mengedepankan langkah hukum sesuai mekanisme yang berlaku.
Kesalahan Ferry Irwandi Menurut Grafolog
Grafolog dan pengamat perilaku Gusti Aju Dewi menyoroti dua kesalahan fatal yang dilakukan Ferry Irwandi ketika tampil dalam acara televisi tersebut yang diunggah melalui akun Instagramnya @gustiajudewi pada Senin, (8/9/2025).
Selama acara, video viral penangkapan anggota TNI oleh Brimob ditayangkan atau diputar dalam acara di Inews TV atas perminataan Ferry.
Dalam video, tampak seorang anggota TNI ditangkap anggota Brimob karena dituduh ikut rusuh.
Kemudian anggota Brimob yang menangkap anggota TNI bertanya dari kesatuan mana.
"Kamu anggota mana kamu?" kata suara dalam video.
"Kavaleri" jawab anggota TNI.
"Kavaleri ikut rusuh Kavaleri di Palembang. Saya laporin Panglima TNI dikau," ancam anggota Brimob.
"Aku ndak ada melok (-bahasa Palembang artinya: aku tidak ikut)," bantah si anggota TNI.
Setelah video selesai diputar, dalam acara itu Ferry Irwandi menjelaskan ulang suara dialog di dalam video.
"Kapolri Kapolri ini ikut rusuh Kapolri saya laporin Panglima TNI. Terus dia bilang si orangnya, bukan cuma saya Pak, kata orang TNI ini. Anyway," kata Ferry yang langsung mengalihkan fokus ke pembicaraan lain terkait aksi demo rusuh.
Menurut Gusti, kesalahan Ferry sangat jelas, yakni pernyataan Kavaleri digantinya menjadi Kapolri.
Untuk hal ini kata Gusti, Ferry mengaku salah dengar, namun kesalahan atau manipulasi kedua, menurutnya sangat fatal.
Di mana Ferry menambahkan seakan-akan ada pernyataan anggota TNI bahwa yang ikut demo rusuh bukan cuma dia saja, tapi banyak anggota TNI.
"Kesalahannya jelas, Ferry menambahkan kalimat yang tidak ada di video asli. Yaitu: 'Bukan cuma saya Pak, kata orang TNI ini'," papar Gusti.
Penambahan kalimat palsu ini, menurut Gusti Aju, bukan hal kecil.
"Itu menggiring opini publik seolah-olah TNI adalah dalang kerusuhan massa. Artinya, Ferry sengaja membenturkan rakyat dengan TNI" ujar Gusti Aju.
Lebih berbahaya, tambah Gusti, karena Ferry menolak klarifikasi, video bohong itu terus diputar berulang-ulang di medsos.
"Dan akhirnya bisa dianggap benar oleh rakyat," ujar Gusti.
Menurut Gusri, Ilmu Psikologi Komunikasi sudah membuktikan fenomena ini.
"Di mana dikenal sebagai The illusory truth effect (Hasher et al., 1977; Fazio et al., 2015)" tulis Gusti.
Illusory truth effect, jelas Gusti adalah efek psikologi ketika orang menjadi percaya sama kebohongan, cuma karena kebohongan itu diulang-ulang terus.
"Pertama kali dibuktikan tahun 1977 lewat riset di Villanova University and Temple University," tambah Gusti.
"Jadi, kalau Ferry benar-benar tidak punya maksud memecah belah bangsa, kenapa dia menolak klarifikasi?" tanya Gusti.
Menurut Gusti dia sudah meminta Ferry sebanyak 13 kali untuk klarifikasi.
"13 kali Saya Minta Klarifikasi, Ferry Irwandi Menolak. Kalau Bukan untuk Memecah Belah Bangsa, Kenapa Takut Klarifikasi?' tanya Gusti.
Menurut Gusti menolak klarifikasi sama dengan membiarkan kebohongan dipercaya rakyat dan tujuan tercapai:
"Provokasi, kebencian → konflik → kerusuhan → REVOLUSI untuk menggulingkan pemerintah. Jika benar demikian maka .. Apa yang terjadi bukan sekadar salah ucap melainkan FITNAH yang terencana dan sangat berbahaya bagi bangsa," papar Gusti.
"Repost jika kalian masuk dalam BARISAN WARAS. Saya berjuang untuk Sila ke-3 Pancasila : Persatuan Indonesia" ujarnya.
Gusti juga mengatakan disinformasi yang diciptakan Ferry ini sangat berbahaya.
Bahkan menurut Gusti atas permintaannya agar Ferry melakukan klarifikasi, Ferry justru mengancamnya.
"Disinformasi = Bahaya, Bikin Chaos Negara. Kalau Benar, tidak menambah kalimat dari video asli TNI-Polri dengan sengaja), tinggal Klarifikasi Aja kan? Kok Malah Ngancam saya?," kata Gusti.
Menurut Gusti, ia tidak sedang ribut personal dengan siapapun tapi menyoroti perilaku berbahaya.
"Saya tidak sedang ribut personal dengan siapapun. Yang saya soroti adalah perilaku berbahaya: menyebarkan disinformasi, fitnah, dan kebencian," katanya.
"Kalau dibiarkan, ini akan terus memecah rakyat melawan aparat, bahkan melawan negara. Itu bukan demokrasi, tapi tirani," ujar Gusti.
Gusti mengatakan kritik sehat harusnya pakai data dan klarifikasi.
"Provokasi justru menebar permusuhan dan membahayakan bangsa. Mari sama-sama jaga ruang publik. Stop disinformasi, stop fitnah, stop kebencian," kata Gusti.
Terlepas dari analisis Gusti, kasus ini masih menyisakan pertanyaan mengenai kaitan algoritma dan pernyataan Ferry dengan dugaan tindak pidana, serta batas pengawasan siber terhadap kebebasan berpendapat.
(Suryamalang/Tribunnews.com/WartaKotalive.com)
Artikel ini telah tayang di SuryaMalang.com dengan judul Kronologi Masalah Ferry Irwandi hingga 4 Jenderal TNI Datang ke Polda Metro, Gara-gara Teori di TV?
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.