Sabtu, 21 Maret 2026

Polisi Gorontalo

Aipda Aman Zakaria, Kanit Binmas Polsek Kota Timur Gorontalo Pernah Berjualan Koran demi Sekolah

Aipda Aman Zakaria kini menjabat sebagai Kanit Binmas Polsek Kota Timur, Kota Gorontalo.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Aipda Aman Zakaria, Kanit Binmas Polsek Kota Timur Gorontalo Pernah Berjualan Koran demi Sekolah
TribunGorontalo.com
PEJABAT POLISI -- Aipda Aman Zakaria saat ditemui di kawasan Citimall Gorontalo. Aipda Aman bercerita tentang perjalanan karier dan (Sumber: Yunima Hasan, Mahasiswa Magang Jurnalistik UNG) 
Ringkasan Berita:
  • Aipda Aman Zakaria, yang kini menjabat sebagai Kanit Binmas Polsek Kota Timur, harus melewati empat kali seleksi Polri sebelum akhirnya dinyatakan lulus pada tahun 2004
  • Berasal dari keluarga prasejahtera, Aman pernah bekerja sebagai penjual koran di lampu merah saat masih bersekolah dan membantu ibunya berjualan pisang goreng demi menyambung hidup.
  • Berbekal pengalaman hidup yang sulit, ia kini fokus menjalankan tugas kepolisian dengan pendekatan humanis

 

(Penulis: Yunima Hasan, Mahasiswa Magang Jurnalistik UNG)

TRIBUNGORONTALO.COM – Aipda Aman Zakaria kini menjabat sebagai Kanit Binmas Polsek Kota Timur, Kota Gorontalo.

Aipda atau Ajun Inspektur Polisi Dua merupakan pangkat tertinggi kedua dalam golongan Bintara Polri (Bintara Tinggi). Aipda berada satu tingkat di bawah Aiptu dan di atas Bripka. 

Pangkat Aipda ditandai dengan satu balok bergelombang perak. Polisi yang mendapatkan pangkat ini berperan sebagai jembatan antara bintara operasional dengan perwira

Lantas, siapa Aipda Aman Zakaria?

Aipda Aman Zakaria menyimpan kisah perjuangan yang sangat panjang. Ia juga melewati jalan berliku sebelum resmi menjadi anggota Polri.

Pria berusia 42 tahun ini pertama kali mencoba peruntungan tes polisi pada tahun 2000.

Sayangnya, pada percobaan pertama tersebut, namanya tidak tercantum dalam daftar kelulusan. Kegagalan itu ternyata terulang kembali pada percobaan-percobaan berikutnya.

Meski sudah gagal hingga tiga kali, Aman tetap bersikeras untuk mencoba kembali. Baginya, kegagalan adalah ujian mental untuk melihat sejauh mana keseriusannya. Ia tidak pernah berpikir untuk menyerah meskipun langkahnya sering terhenti di tengah jalan.

“Saya ikut tes polisi sampai empat kali. Alhamdulillah baru lulus tahun 2004,” ujarnya.

Aman mengungkapkan motivasi terbesarnya untuk terus maju berasal dari dukungan sang ibu. Ia sangat percaya bahwa doa orang tua memiliki kekuatan yang luar biasa besar.

Doa ibunya lah yang membuat Aman tetap optimis meski berkali-kali menemui jalan buntu. Keyakinan itu ia pegang teguh selama masa-masa sulit perjuangannya.

Baca juga: 7 Fakta Kecelakaan Maut Kakak Beradik PNS Gorontalo, Panggilan Terakhir Fanni Jadi Sorotan

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Aman sendiri berasal dari latar belakang keluarga yang sangat sederhana di Gorontalo. Orang tuanya diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sang ibu sehari-hari menyambung hidup dengan berjualan pisang goreng.

Kondisi ekonomi yang terbatas tidak membuat Aman merasa rendah diri atau malu. Sejak masa sekolah, ia sudah terbiasa bekerja keras untuk membantu beban keluarga. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN 17 Gorontalo dengan penuh semangat.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 5 Gorontalo. Semangat belajarnya tetap terjaga meski situasi ekonomi keluarganya sedang tidak menentu. Ia kemudian menamatkan pendidikan menengah di SMEA yang kini menjadi SMK Negeri 1 Gorontalo.

Saat masih duduk di bangku sekolah, Aman sudah melakoni pekerjaan yang cukup berat. Ia menghabiskan waktunya dengan berjualan koran di lampu merah. Pekerjaan itu ia lakukan demi membantu ekonomi keluarga sambil tetap menuntut ilmu.

“Dulu saya jual koran di lampu merah sambil sekolah,” tuturnya saat ditemui TribunGorontalo.com di kawasan Citimall Gorontalo, Senin (16/3/2026) siang.

Pengalaman hidup di jalanan tersebut memberinya perspektif berbeda tentang kehidupan. Ketertarikannya pada dunia kepolisian justru bermula saat ia masih remaja. Ia sering memperhatikan polisi yang sedang bertugas mengatur jalan atau membantu warga.

Dari pengamatan itulah muncul keinginan kuat untuk bisa membantu masyarakat lewat jalur Polri.

Ia melihat profesi polisi sebagai jalan untuk memberikan pengabdian nyata. Keinginan itu kemudian ia jadikan sebagai cita-cita hidupnya sejak SMP.

Kini, setelah lebih dari dua dekade bertugas, Aman dipercaya mengemban tanggung jawab besar.

Ia menjabat sebagai Kanit Binmas Polsek Kota Timur di bawah naungan Polresta Gorontalo Kota. Tugasnya kini adalah membangun hubungan harmonis antara polisi dan masyarakat.

Aman sangat aktif menjalankan amanah tersebut dengan pendekatan yang lebih humanis. Ia bersama anggotanya sering turun langsung ke tengah warga di wilayah Kota Timur. Salah satu program yang konsisten ia jalankan adalah program Jumat Curhat.

Melalui forum tersebut, ia menampung segala keluhan dan aspirasi dari masyarakat sekitar.

Polisi kini tidak hanya bertugas menindak, tetapi juga mendengarkan suara dari bawah.

“Kami mendengar langsung keluhan masyarakat lalu kami tindaklanjuti," bebernya.

Baca juga: Sosok Fanny Anelsia Mustaki bagi Rekan Kerja di Kejati Gorontalo: Orang Riang dan Humble

Potret pos pengamanan Hari Raya Idulfitri
POS PENGAMANAN -- Potret pos pengamanan Hari Raya Idulfitri di kawasan Citimall Gorontalo. (Sumber Foto: Yunima Hasan, Mahasiswa Magang Jurnalistik)

Ia menekankan pentingnya menjalankan tugas dengan rasa ikhlas dan tanggung jawab.

Menurutnya, pelayanan kepada masyarakat adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Tantangan di lapangan ia jadikan sebagai bumbu dalam perjalanan kariernya.

Selama bertugas di Pos Pelayanan Idul Fitri Citimall Gorontalo, ia tetap waspada. Tugas pengamanan menjelang lebaran ia laksanakan dengan dedikasi yang sangat tinggi. Keamanan aktivitas masyarakat menjadi fokus utamanya selama bertugas di sana.

Memori Masa Lalu

Aman juga sering berbagi cerita kepada rekan-rekannya tentang masa lalunya yang sulit. Ia ingin menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi bukan penghalang untuk meraih sukses. Semua orang memiliki kesempatan yang sama asalkan mau berusaha dengan keras.

“Dulu saya jual koran di lampu merah sambil sekolah,” tuturnya.

Kegagalannya sebanyak tiga kali menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang mendengarnya. Ia ingin membuktikan bahwa ketekunan adalah kunci utama dalam menghadapi setiap seleksi. Tidak ada kesuksesan yang benar-benar jatuh begitu saja dari langit.

Aman menitipkan pesan yang sangat mendalam. Ia meminta mereka agar selalu menjauhi pergaulan negatif yang bisa merusak masa depan. Fokus pada pendidikan dan persiapan diri adalah hal yang paling utama.

Ia mengajak pemuda untuk berani bermimpi setinggi mungkin seperti yang ia lakukan dahulu. Meskipun hanya seorang penjual koran, ia terbukti bisa menjadi seorang perwira polisi. Semua itu ia raih dengan cucuran keringat dan doa yang tidak putus.

Aipda Aman  juga menekankan pentingnya memiliki iman yang kuat bagi setiap calon anggota Polri. Menjadi polisi yang beriman akan membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih tulus. Hal itu pula yang selalu ia terapkan kepada seluruh anggota Binmas yang ia pimpin.

Menjelang perayaan Idulfitri, Aman mengimbau masyarakat untuk menjaga ketertiban bersama. Ia ingin Kota Gorontalo tetap dalam situasi yang kondusif dan aman terkendali. Kerja sama antara warga dan kepolisian sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Ia mengakhiri perbincangannya dengan senyum yang menunjukkan ketulusan dalam mengabdi.

Aipda Aman Zakaria adalah contoh nyata dari sebuah perjuangan yang tanpa henti. Kegagalan masa lalu kini telah berubah menjadi keberhasilan yang membanggakan.

Pengalamannya berjualan pisang goreng bersama sang ibu tidak akan pernah ia lupakan. Momen-momen sulit itu justru menjadi pengingat agar ia tidak sombong dengan jabatan. Ia tetap rendah hati dan selalu siap sapa saat bertemu dengan warga di jalan. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved