Minggu, 15 Maret 2026

Tumbilotohe Gorontalo

Lampu Botol Tumbilotohe Nonce Abuada Dijual Serba Rp 5 Ribu di Sudut Jalan Kota Gorontalo

Di sebuah pertigaan jalan yang cukup ramai di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo tepatnya di depan SDN 27 Kota Selatan, deretan lampu botol

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Lampu Botol Tumbilotohe Nonce Abuada Dijual Serba Rp 5 Ribu di Sudut Jalan Kota Gorontalo
TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga
PEDAGANG TIMBILOTOHE --Nonce Abuada (54) berjualan lampu botol di Jalan Jaksa Agung Suprapto Kelurahan Limbau Dua Kecamatan Kota Selatan Kota Gorontalo, Kamis (5/2/2026). Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Deretan lampu botol terlihat tersusun rapi di sebuah lapak kecil di sebuah pertigaan jalan yang cukup ramai di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo tepatnya di depan SDN 27 Kota Selatan, 

Lampu-lampu itu berjajar memanjang di atas meja jualan. Botol-botol kaca berwarna cokelat dipasangi tutup logam dengan sumbu putih kecil di bagian atasnya.

Sebagian lagi digantung menggunakan tali, membentuk untaian lampu yang bergoyang pelan tertiup angin.

Di balik deretan lampu tersebut, seorang perempuan duduk tenang memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang di jalan depan lapaknya.

Perempuan itu adalah Nonce Abuada (54).

Baca juga: Ramadan Hari ke-16: Doa, Fadhilah Puasa, dan Salat Tarawih Penuh Pahala


Sejak Kamis (5/3/2026) pagi, ia mulai berjualan lampu botol di pertigaan Jalan Jaksa Agung Soeprapto, Kelurahan Limbau Dua, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.

Lapak sederhana miliknya berdiri di bawah tenda terpal berwarna biru dan oranye. Tepat di di depan papan nama SDN 27 Kota Selatan.

Dari simpang empat Glael atau dari arah jalan HBS Jassin lapak Nonce berada di sebalah kiri. Sedangkan dari arah simpang empat SMPN 6 Kota Gorontalo lapaknya di sebelah kanan.

Nonce mengatakan, ia mulai membuka lapak sejak pukul 08.00 Wita.

“Baru mulai hari ini saya jualan lagi. Biasanya kalau sudah masuk bulan puasa, apalagi sudah mendekati Tumbilotohe, orang-orang mulai mencari lampu seperti ini untuk dipasang di rumah,” ujarnya saat ditemui TribunGorontalo.com sore hari saat awan mulai menghitam menandakan akan turun hujan.

LAPAK -- Lapak sederhana milik Nonce berdiri di bawah tenda terpal berwarna biru d
LAPAK -- Lapak sederhana milik Nonce berdiri di bawah tenda terpal berwarna biru dan oranye. Tepat di di depan papan nama SDN 27 Kota Selatan. Dari simpang empat Glael atau dari arah jalan HBS Jassin lapak Nonce berada di sebalah kiri. Sedangkan dari arah simpang empat SMPN 6 Kota Gorontalo lapaknya di sebelah kanan.

Menurutnya, lampu botol masih banyak digunakan warga Gorontalo untuk menyemarakkan tradisi Tumbilotohe, yaitu malam pasang lampu yang digelar pada tiga malam terakhir menjelang Idulfitri.

Pada malam tersebut, warga biasanya menyalakan lampu di halaman rumah, pagar, hingga di sepanjang jalan kampung.

“Kalau sudah dekat Tumbilotohe biasanya banyak yang cari lampu. Mereka pasang di depan rumah, di halaman, kadang juga di pinggir jalan. Jadi dari sekarang sudah mulai ada yang beli,” katanya.

Lampu botol yang dijual Nonce dibanderol Rp5.000 per empat buah untuk lampu yang sudah dilengkapi sumbu.

Sedangkan yang ingin membeli sumbuh saja ia patok dengan harga Rp5.000 per gantong.

Selain lampu botol, ia juga menjual minyak tanah dalam kemasan kecil.

“Kalau lampunya Rp5.000 empat. Ini sudah ada sumbu, jadi tinggal isi minyak tanah saja. Saya juga jual minyak tanah, yang kecil Rp15 ribu, kalau yang lebih besar Rp30 ribu,” jelasnya.

Meski baru membuka lapak pada pagi hari, beberapa orang sudah datang membeli.

“Alhamdulillah tadi sudah ada yang beli. Biasanya memang belum terlalu ramai di awal, tapi kalau sudah mendekati hari pasang lampu, pembeli mulai banyak,” ujarnya.

Bagi Nonce, sudut kecil di pertigaan jalan itu bukan tempat baru. Ia mengaku sudah sekitar sepuluh tahun berjualan lampu botol di lokasi tersebut setiap menjelang Ramadan.

“Sudah sekitar sepuluh tahun saya jualan di sini kalau bulan puasa. Dari dulu tempatnya di sini terus, di dekat sekolah ini,” katanya.

Ia juga mengaku telah meminta izin kepada pihak sekolah untuk berjualan di area dekat pagar SDN 27 Kota Selatan.

Lapaknya memang sederhana, namun cukup dikenal oleh warga yang sering melintas di jalan tersebut.

Di atas meja jualan, puluhan lampu botol disusun rapi seperti barisan kecil yang menunggu dibawa pulang pembeli. 

Ketika tertiup angin, botol-botol tersebut sesekali saling bersentuhan dan menimbulkan bunyi kecil yang khas.

Bagi Nonce, berjualan lampu botol bukan sekadar aktivitas musiman. Ada alasan sederhana yang membuatnya tetap membuka lapak setiap Ramadan tiba.

Ia ingin menambah penghasilan untuk keluarganya khusunya untuk cucu kesayangnya.

“Ini hanya untuk tambahan rezeki saja. Saya ingin ada uang lebih sedikit supaya bisa beli kebutuhan nanti, apalagi menjelang lebaran,” ujarnya.

Nonce juga mengaku ingin menyiapkan baju lebaran untuk cucunya.

“Kalau ada rezeki dari jualan lampu ini, saya mau belikan baju lebaran untuk cucu-cucu. Jadi walaupun sederhana, saya tetap semangat jualan,” katanya.

Nonce memiliki empat orang anak, tiga diantaranya sudah menikah. Sedangkan cucunya ada tujuh orang.

Di luar bulan Ramadan, Nonce hanya sebagai ibu rumah tangga di rumah sedangkan suaminya belerja di sebuah toko di Kota Gorontalo

Namun ketika bulan puasa tiba, ia akan mencari uang ke sudut jalan itu untuk berjualan lampu botol.

Menjelang sore, lalu lintas di Jalan Jaksa Agung Soeprapto semakin ramai. Sepeda motor, bentor dan mobil silih berganti melintas di depan lapak kecil milik Nonce.

Beberapa pengendara memperlambat kendaraan mereka untuk melihat lampu yang dijual. 

Ada yang berhenti sejenak untuk menanyakan harga, ada pula yang hanya melihat-lihat sebelum melanjutkan perjalanan.

Nonce tidak memaksa orang untuk membeli. Ia hanya duduk menunggu dengan sabar.

Di samping lapaknya, beberapa karung berisi botol masih tersusun. Botol-botol itu nantinya akan dirakit menjadi lampu baru jika stok yang dipajang mulai berkurang.

“Kalau botolnya ada, bisa sampai sepuluh karung. Nanti dibersihkan dulu, dipasang sumbu, baru dijadikan lampu seperti ini,” katanya.

Botol ini ia beli sedangkan sumbu dan lainnya di rakit oleh suaminya.

Bagi Nonce, setiap lampu yang terjual bukan sekadar barang dagangan.

Di pertigaan kecil Kota Gorontalo itu, lampu-lampu botol miliknya mungkin terlihat sederhana. Namun bagi perempuan 54 tahun tersebut, cahaya kecil dari botol-botol itu adalah harapan.

Harapan agar tradisi Tumbilotohe tetap hidup, sekaligus membawa rezeki bagi dirinya dan keluarganya setiap kali Ramadan datang.(*/Jefri)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Minggu, 15 Maret 2026 (25 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:04
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved