Wisata Kuliner Gorontalo
Suasana Taman Kalimadu, Destinasi Ngabuburit Warga Gorontalo
Kawasan Kalimadu di Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, menjadi lokasi perburuan takjil Ramadan.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab

Ringkasan Berita:
- Kawasan Kalimadu di Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, dipadati warga sejak sore untuk ngabuburit dan berburu takjil
- Menjelang pukul 16.30 Wita, arus kendaraan meningkat. Banyak pengendara melambatkan laju untuk memilih takjil di pinggir jalan, sementara antrean pembeli terlihat di lapak favorit. Suasana tetap ramai meski hujan turun
- Ngabuburit di Kalimadu bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi pedagang kecil. Sosok seperti Opa Bura
TRIBUNGORONTALO.COM – Kawasan Kalimadu di Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, menjadi lokasi perburuan takjil Ramadan.
Pada Sabtu (28/2/2026), warga mulai memadati kawasan tersebut untuk ngabuburit sambil berburu takjil.
Deretan lapak makanan dan minuman berjajar di sepanjang jalan, menawarkan beragam menu berbuka mulai dari gorengan, kue tradisional, minuman dingin, hingga makanan kekinian.
Suasana semakin ramai ketika waktu mendekati pukul 16.30 Wita. Arus kendaraan meningkat, baik roda dua, tiga, maupun empat.
Beberapa pengendara bahkan melambatkan laju kendaraan demi memilih takjil yang dijajakan pedagang di pinggir jalan. Antrean pembeli pun terlihat di sejumlah lapak favorit.
Salah satu pedagang, Jihan Ayu (26), mengaku suasana Ramadan membuat kawasan Kalimadu jauh lebih ramai dibanding hari biasa.
“Kalau Ramadan itu beda. Dari jam tiga sore sudah mulai ramai, apalagi mendekati Magrib,” kata Jihan kepada TribunGorontalo.com, Sabtu.
Menurutnya, Kalimadu memang dikenal sebagai pusat kuliner. Saat Ramadan, kawasan ini menjadi tujuan utama warga untuk ngabuburit.
“Orang datang bukan cuma beli makanan, tapi juga jalan-jalan, lihat-lihat, kumpul sama teman,” tambahnya.
Keramaian tetap terjadi meski hujan turun. “Kalau hujan justru banyak yang langsung beli karena malas masak. Tetap ramai,” kata Jihan.
Ayu Kartika, mahasiswi Gorontalo, menilai kawasan tersebut menjadi pilihan karena menawarkan banyak menu dalam satu lokasi.
“Di sini lengkap. Mau cari gorengan, minuman, atau makanan berat ada semua. Bisa sambil ngobrol, lihat suasana sore, tidak bosan, apalagi tersedia tempat duduk,” katanya.
Keramaian kawasan Kalimadu menjadi gambaran aktivitas warga Kota Gorontalo selama Ramadan. Ngabuburit tidak hanya menjadi tradisi menunggu waktu berbuka, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil.
Lapak-lapak sederhana di sepanjang jalan menjadi sumber penghidupan bagi pedagang sekaligus tempat warga mencari menu berbuka puasa.
Hingga menjelang azan Magrib, kawasan Kalimadu masih dipenuhi pengunjung, dengan suara tawar-menawar, kendaraan yang melintas perlahan, serta aroma makanan berpadu menciptakan suasana khas Ramadan.
Kalimadu sendiri merupakan singkatan dari Kalimantan–Madura, berada di ruas Jalan Madura yang menghubungkan Jalan Kalimantan dan Jalan Prof Jhon Ario Katili (eks Andalas).
Jalan ini juga terhubung dengan beberapa pertigaan seperti Jalan Palu dan Jalan Manado, sehingga menjadi akses vital bagi masyarakat Gorontalo.
Penjual Gulali di Taman Kalimadu
Ibrahim Pakaya duduk dengan tenang di balik gerobak hijaunya saat matahari mulai condong ke barat di kawasan Kalimadu, Kota Tengah, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Lokasi mangkal utamanya berada di kawasan Kalimantan–Madura (Kalimadu). Dari arah Perempatan Kompi Liluwo, lapaknya berada di sebelah kanan jalan, tepat di keramaian warga yang melintas.
Pria berusia 71 tahun yang akrab disapa Opa Bura ini sedang menarik adonan gula merah muda yang perlahan mengeras di tangannya.
Di tengah kepungan jajanan modern, Opa Bura tetap setia menjajakan gulali tradisional demi menjaga kemandirian di usia senja.
Gulali adalah sebutan untuk jajanan tradisional khas Indonesia yang bahan utamanya terbuat dari gula (biasanya gula pasir atau gula merah) yang dilelehkan hingga mengental dan elastis.
Jajanan ini sangat populer di kalangan anak-anak, terutama karena bentuknya yang unik dan warnanya yang mencolok.
Sejak tahun 2012, Opa Bura menekuni profesi sebagai penjual gulali. Meskipun kedua anaknya telah berkeluarga dan mapan, warga Kelurahan Molosifat U ini menolak untuk sekadar berdiam diri di rumah.
Ia memegang prinsip bahwa selama fisik masih mampu bergerak, ia tidak ingin merepotkan orang lain.
"Saya memilih tetap berjualan jika masih bisa duduk dan bekerja seperti ini. Saya tidak mau hanya diam di rumah dan berharap (bantuan) dari anak-anak," ujar Ibrahim saat ditemui TribunGorontalo.com pada Sabtu (28/2/2026).
Sebelum menjadi perajin gulali, Ibrahim adalah seorang pedagang beras di Pasar Sentral Gorontalo. Ia menjadi saksi hidup saat pasar tersebut masih sangat tradisional dengan harga beras hanya Rp1 per liter.
Namun, kenaikan harga komoditas yang tinggi dan faktor usia membuatnya harus beralih profesi.
Ia memilih gulali karena pekerjaan ini tidak terlalu menguras tenaga. Ibrahim mempelajari teknik pembuatan gulali secara otodidak melalui berbagai percobaan yang sempat gagal.
Opa Bura mengaku sempat berkali-kali gagal karena gula yang gosong. Ia sering bertukar pikiran dengan sesama penjual lama.
Kini, tangannya sudah lihai membentuk gula cair menjadi camilan manis.
Dulu, semangat Opa Bura membawanya berkeliling hingga ke luar daerah menggunakan sepeda motor. Ia sering menjajakan dagangannya di pameran-pameran besar di Palu, Sulawesi Tengah, hingga Manado, Sulawesi Utara.
Namun, seiring bertambahnya usia dan berubahnya kendaraan operasional menjadi becak motor (bentor), ia kini hanya menetap di dalam kota. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.