Ramadan 2026
Ternyata tak Sembarangan! Ini Alasan Puncak Gedung IAIN Dipilih untuk Pantau Hilal Ramadan 2026
Kemenag Gorontalo akan melaksanakan rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di rooftop Gedung Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo,
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/RUKYATUL-HILAL-Gedung-Rektorat-IAIN-Sultan-Amai-Gorontalo-diambil-Desember-2025.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kemenag Gorontalo akan melaksanakan rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di rooftop Gedung Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo pada 17 Februari 2026.
- Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan astronomi terkait posisi hilal yang diperkirakan berada di bawah ufuk.
- Hasil pengamatan akan dilaporkan ke pemerintah pusat sebagai bahan sidang isbat penetapan awal Ramadan.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Kementerian Agama (Kemenag) Gorontalo akan melaksanakan rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di rooftop Gedung Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Jalan Gelatik, Kelurahan Heledulaa, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo.
Pelaksanaan rukyatul dijadwalkan pada Selasa, 17 Februari 2026 menjelang waktu magrib.
Kegiatan ini akan melibatkan sejumlah pihak, di antaranya BMKG Gorontalo, Pengadilan Agama Kota Gorontalo, pihak IAIN, Pemerintah Kota Gorontalo, serta Kemenag Kota Gorontalo.
Ketua Tim Urusan Agama Islam dan Bina Syariah (Urais Binsyar) Kemenag Gorontalo, Safrianto Kaaowan, menjelaskan waktu pelaksanaan rukyatul diperkirakan berlangsung pada sore hari menjelang matahari terbenam.
Baca juga: Kemantapan Jalan Kota Gorontalo Anjlok 30 Persen Sejak 2012, Adhan Dambea Kembali Siapkan Perbaikan
"Insya Allah hari Selasa tanggal 17 Februari 2026. Waktu pelaksanaan diperkirakan pukul 17.00 atau 17.30 Wita," kata Safrianto, Kamis (12/2/2026) sore saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com.
Alasan Pemilihan Lokasi Rukyatul Hilal
Pemilihan rooftop Gedung Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo bukan tanpa pertimbangan.
Safrianto menjelaskan keputusan tersebut berdasarkan perhitungan astronomi terkait posisi hilal.
Ia menyebut secara perhitungan, ketinggian hilal berada di bawah ufuk dengan azimut hilal berada di titik 256 derajat.
Menurutnya, posisi tersebut berada di wilayah tengah dataran Gorontalo sehingga menjadi pertimbangan utama dalam menentukan titik pengamatan.
"Posisi seperti ini berada di tengah-tengah dataran Gorontalo," ujarnya.
Ia menambahkan, jika rukyatul dilakukan di kawasan pesisir pantai, posisi matahari dan bulan tidak akan jatuh persis di laut karena pergerakan posisi pada bulan Februari sudah bergeser.
Baca juga: Kemantapan Jalan Kota Gorontalo Anjlok 30 Persen Sejak 2012, Adhan Dambea Kembali Siapkan Perbaikan
Bahkan, jika pengamatan dilakukan lebih ke arah utara, potensi terhalang justru lebih besar.
Karena itu, pihaknya memilih lokasi dengan ketinggian yang memadai.
"Untuk kali ini kami memilih di Gedung Rektorat IAIN, karena lantainya juga tinggi," jelasnya.
Safrianto juga menyebut lokasi tersebut bukan pertama kali digunakan sebagai titik rukyatul hilal di Gorontalo.
"Kalau saya tidak salah ingat, ini sudah keempat kalinya," katanya.
Selain alasan teknis pemilihan lokasi, Safrianto juga menyinggung kemungkinan jalannya sidang isbat tahun ini.
Ia menilai proses sidang berpotensi berlangsung lebih cepat dibanding tahun sebelumnya.
"Kalau saya melihat prediksinya, Insya Allah sidang isbatnya akan lebih cepat," ujarnya.
Ia menjelaskan biasanya sidang isbat menunggu laporan dari wilayah paling barat Indonesia seperti Aceh.
Namun, berdasarkan perhitungan sementara, posisi hilal di wilayah tersebut berada di bawah ufuk sehingga laporan diperkirakan lebih cepat masuk.
"Jadi laporan yang minus seperti ini tentunya akan lebih cepat masuk dibandingkan dengan yang ada potensi terlihat, yang butuh verifikasi lebih lama," jelasnya.
Baca juga: Horoskop Zodiak Capricorn, Aquarius, Pisces Besok Jumat 13 Februari 2026: Cinta, Karier, Kesehatan
Terkait potensi kesamaan awal Ramadan antara pemerintah, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah, ia menyebut Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal puasa.
Ia menyebutkan Muhammadiyah sudah merilis pelaksanaan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026.
Meski demikian, seluruh hasil pengamatan tetap harus dilaporkan dan menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat.
"Meskipun posisinya minus, semua tetap harus dilaporkan dulu ke Kementerian Agama," katanya.
Berdasarkan perhitungan yang ada, Safrianto juga memberikan prediksi pribadi terkait awal puasa.
"Kalau prediksi saya, bukan mendahului, tapi menurut prediksi saya, kira-kira itu nanti tanggal 19 (mulai puasa)," pungkasnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.