Gorontalo Hari Ini
Intip Keseruan Nelayan Berburu Nike di Muara Sungai Bone–Bolango Gorontalo
Sejumlah nelayan memadati perairan sekitar Muara Sunai Bone–Bolango, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Para-nelayan-berburu-ikan-nike.jpg)
Ringkasan Berita:
- Belasan nelayan berkelompok di muara Sungai Bone–Bolango
- Meski hasil berkurang, aktivitas nelayan tetap menarik perhatian warga yang datang menonton
- Bulan Januari tidak termasuk dalam musim nike sehingga kelangkaan ini memicu antusiasme nelayan
TRIBUNGORONTALO.COM – Sejumlah nelayan memadati perairan sekitar Muara Sunai Bone–Bolango, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Minggu (18/1/2026).
Mereka berburu ikan Nike, ikan musiman yang selalu dinanti warga, terutama saat puncak musim tangkap.
Aktivitas penangkapan dilakukan secara berkelompok.
Setiap perahu diisi enam hingga sepuluh orang, dengan satu jaring hijau besar yang dibentangkan serentak.
Seluruh proses penurunan jaring tidak dilakukan sembarangan, melainkan menunggu satu komando penting.
Di tengah deretan perahu itu, ada sosok yang berperan sebagai pengatur utama. Ia dikenal dengan sebutan Tobo, orang yang memberi aba-aba kapan dan ke arah mana jaring harus diturunkan.
Seorang nelayan asal Kelurahan Talumolo, Kecamatan Dumbo, Kota Gorontalo, Iton Sabihi, menjelaskan peran sentral Tobo dalam aktivitas tersebut.
“Tugasnya memberi aba-aba kepada yang lain untuk memulai menurunkan jaring,” kata Iton Sabihi kepada TribunGorontalo.com, Minggu (18/1/2026).
Menurut Iton, kekompakan menjadi kunci utama dalam menjaring Nike.
Arah perahu, posisi jaring, hingga ritme pergerakan harus selaras agar hasil tangkapan maksimal.
Iton sendiri mengaku sudah tak lagi menjaring. Hasil tangkapan terakhir pada pagi hari telah ia jual ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Gorontalo. Namun, keuntungan yang diperoleh kali ini tidak sebesar saat awal musim.
“Tadi saya jual, untungnya tinggal Rp250 ribu,” ungkapnya.
Ia menyebut, pada awal musim Nike, harga satu ember besar bisa mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu. Kini, hasil dan ukuran tangkapan mulai menurun seiring masuknya akhir musim.
Iton juga menjelaskan bahwa musim Nike saat ini sudah mendekati penghujung, jika dilihat dari perhitungan bulan. Karena itu, tidak semua nelayan masih turun menjaring.
“Biasanya kalau awal musim, di laut paling banyak, Nike-nya besar-besar. Kalau tinggal sisa, Nike-nya alus-alus,” bebernya.
Ia menambahkan, nelayan yang masih aktif menjaring Nike saat ini umumnya berasal dari Kelurahan Lebobalo dan Kelurahan Leato, Kota Gorontalo. Pada akhir musim seperti sekarang, Nike lebih banyak ditemukan di area muara sungai dibandingkan di laut.
Meski hasil tangkapan tidak lagi sebanyak sebelumnya, aktivitas nelayan tetap menjadi daya tarik tersendiri. Sejumlah warga tampak berkumpul di tepian sungai, menyaksikan nelayan saling bersahutan sambil mengatur jaring dan perahu.
Sebagian warga datang sekadar menonton, menikmati suasana khas musim Nike. Sebagian lainnya sengaja hadir untuk membeli ikan segar langsung dari nelayan, sebelum hasil tangkapan dibawa ke tempat pelelangan.
Baca juga: Riset UNG Ungkap Ikan Konsumsi di Torosiaje Gorontalo Terkontaminasi Mikroplastik
Periode Kemunculan Nike
Melansir dari Kompas.com, ikan Nike di Gorontalo biasanya muncul setiap bulan sekali.
Periode kemunculannya singkat, hanya sekitar 9–11 hari, dan paling ramai di awal musim sekitar Maret–April, lalu berulang hingga pertengahan tahun sebelum menurun di akhir musim.
Awal Musim (Maret–April)
Hasil tangkapan paling banyak dan ukuran Nike lebih besar.
Harga di pasaran pun tinggi, bisa mencapai Rp700 ribu–Rp800 ribu per ember besar.
Pertengahan Musim (Mei–Juli)
Nike masih muncul, tetapi jumlah dan ukuran mulai menurun.
Nelayan tetap berburu karena permintaan masyarakat masih tinggi.
Akhir Musim (Juli–Agustus)
Nike lebih kecil dan jumlahnya berkurang. Banyak nelayan mulai menyimpan perahu dan jaring sebagai tanda musim berakhir.
Sementara itu, bulan Januari–Februari tidak termasuk dalam musim nike sehingga ikan kecil ini jarang muncul ke permukaan.
Hal ini menjadi penyebab para nelayan begitu antusias menangkap nike karena kelangkaannya.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.