Human Interest Story
10 Tahun Jualan Kembang Api di Kota Gorontalo, Salma Ahmad Raup Rp2 Juta Sehari
Di kawasan Kota Tua, Jalan 23 Januari, Kelurahan Biawao, Kota Gorontalo, seorang perempuan tampak menata deretan kembang api berwarna-warni
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Salma-Ahmad-penjual-kembang-api-di-kawasan-Kota-Tua.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Di kawasan Kota Tua, Jalan 23 Januari, Kelurahan Biawao, Kota Gorontalo, seorang perempuan tampak menata deretan kembang api berwarna-warni di meja dagangannya.
Namanya Salma Ahmad, salah satu pedagang musiman yang setiap penghujung tahun hadir menyemarakkan suasana perayaan di Kota Gorontalo.
Namun bagi Salma, berjualan kembang api bukan sekadar usaha musiman. Ia sudah setia menekuni pekerjaan ini selama kurang lebih 10 tahun di lokasi yang sama.
“Saya sudah lama jualan, mungkin lebih dari 10 tahun,” ungkapnya sambil tersenyum kecil.
Salma mengaku banyak menyimpan kenangan di setiap malam pergantian tahun, khususnya di Kota Gorontalo.
Sehari-hari, ia berprofesi sebagai penjual kue. Tetapi ketika kalender mendekati akhir tahun, ia beralih berdagang kembang api. Menurutnya, momen ini sangat ditunggu karena mampu menambah rezeki keluarga.
Sejak 17 November 2025, Salma sudah membuka lapaknya. Ia datang pukul 08.00 Wita pagi dan baru pulang sekitar pukul 22.00 malam.
Meski awalnya belum banyak pembeli, Salma memahami pola belanja masyarakat. “Kalau sudah masuk tanggal 25, biasanya bisa dapat Rp1–2 juta dalam sehari,” ujarnya.
Jumlah itu, katanya, bisa ia kantongi ketika puncak keramaian tiba.
Baca juga: Nasib Pilu Ibu Korban Pelecehan di Gorontalo, Lapor Polisi Malah Suami Ditahan hingga Anak Trauma
Lapak Salma berada di antara pedagang kembang api lainnya. Namun ia menegaskan, mereka bukanlah pesaing, melainkan seperti keluarga.
“Kami yang jualan di komplek sini bersaudara semuanya,” ucapnya dengan senyum ramah.
Karena semua mengambil stok dari tempat yang sama di kawasan Jalan HB Jassin, harga jual pun seragam. Persaingan harga tidak ada, yang membedakan hanyalah pilihan pembeli untuk parkir di lapak siapa.
Dari berbagai jenis kembang api, ada dua yang selalu menjadi primadona anak-anak: Bawang-bawang dan Rica-rica.
“Untuk anak-anak, yang paling sering laku itu Bawang-bawang. Ada juga Rica-rica,” jelas Salma.
Harga kembang api yang ia tawarkan bervariasi, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp225 ribu untuk jenis Roman, yang menjadi salah satu produk termahal.
Berjualan kembang api tentu tidak sembarangan. Salma menegaskan bahwa ia sudah mengantongi izin resmi. “Jualan ini harus ada surat izin,” katanya.
Pengurusan izin, lanjutnya, dibantu oleh distributor. Setiap kali ada razia aparat, mereka cukup menunjukkan dokumen tersebut agar tidak digusur.
Selain itu, izin juga mengatur bahwa pedagang hanya boleh menjual satu merek kembang api sesuai yang tercatat dalam dokumen.
Setiap tahun, pedagang seperti Salma bukan hanya berjualan, tetapi juga menjadi bagian dari atmosfer khas Kota Gorontalo menjelang Natal dan Tahun Baru.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.