Pemkab Gorontalo
Bupati Gorontalo Sofyan Puhi Dorong Tradisi Gebyar Kunut Batudaa Jadi Warisan Budaya
Tradisi Gebyar Kunut yang digelar di Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Bupati-Gorontalo-Sofyan-Puhi-saat-memberikan-sambutan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, menghadiri Tradisi Gebyar Kunut di Desa Payunga
- Terdapat rencana untuk mendaftarkan tradisi ini ke Lembaga Bahasa Provinsi Gorontalo agar dipatenkan
- Walaupun menghadapi kendala anggaran akibat kebijakan efisiensi daerah, kegiatan yang diisi berbagai lomba tradisional ini tetap berlangsung meriah dengan antusiasme tinggi dari masyarakat
TRIBUNGORONTALO.COM – Tradisi Gebyar Kunut yang digelar di Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, kembali dilaksanakan pada Kamis (5/3/2026) malam.
Kegiatan yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat setempat setiap bulan Ramadan ini berlangsung meriah meski di tengah keterbatasan anggaran.
Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa Gebyar Kunut merupakan warisan budaya yang telah berlangsung puluhan tahun dan harus terus dijaga kelestariannya.
Menurutnya, kegiatan ini memiliki nilai budaya yang kuat dan menjadi identitas masyarakat di wilayah Batudaa.
“Tradisi ini sudah berjalan puluhan tahun. Kita mungkin tidak lagi menghitung sejak kapan tepatnya dimulai, tetapi yang pasti kegiatan ini terus dilaksanakan hingga sekarang,” ujar Sofyan Puhi dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa tradisi ini adalah kekhasan khazanah budaya Gorontalo yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan.
Penyesuaian dan Kendala Anggaran
Lebih lanjut, Sofyan menjelaskan bahwa dalam perkembangannya, bentuk kegiatan Malam Kunut mengalami beberapa penyesuaian dibandingkan masa lalu.
“Memang sejarahnya sedikit berbeda. Sekarang pelaksanaannya bergeser dengan adanya beberapa kegiatan tambahan, termasuk hiburan pada malam hari,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan rencana untuk mendorong tradisi ini agar mendapat pengakuan lebih luas.
“Lembaga Bahasa Provinsi Gorontalo rencananya akan mematenkan tradisi ini agar memiliki momentum tersendiri dan menjadi bagian dari penelitian budaya daerah,” tambahnya.
Meski pemerintah daerah berupaya memasukkan Gebyar Kunut ke dalam agenda acara (event) daerah, hal tersebut belum terealisasi karena adanya kebijakan efisiensi anggaran.
“Banyak kegiatan yang terkena kebijakan efisiensi, termasuk Festival Danau Limboto. Kami juga sudah melaporkan penundaan sejumlah festival ini kepada Kementerian Pariwisata RI karena kondisi fiskal daerah yang sedang mengalami guncangan,” ungkap Sofyan.
Namun, ia memastikan komitmen pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali agenda ini apabila kondisi keuangan daerah sudah membaik.
Baca juga: Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo
Kemeriahan di Tengah Keterbatasan
Ketua Panitia melaporkan bahwa Gebyar Kunut tahun ini diisi dengan berbagai lomba tradisional seperti lari karung, mengusung huruf hijaiyah, hingga lomba makan kacang.
Peserta merupakan perwakilan dari desa-desa di Kecamatan Batudaa.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga malam, dimulai dari malam ke-13 hingga malam ke-15 Ramadan. Terkait pendanaan, panitia mengakui masih menghadapi kendala.
Dari total kebutuhan biaya sebesar Rp22.450.000, dana yang terkumpul baru sekitar Rp3.000.000, sehingga masih terdapat kekurangan sekitar Rp19.000.000.
Meski demikian, panitia tetap optimistis kegiatan berjalan lancar berkat dukungan masyarakat.
Pantauan TribunGorontalo.com di lokasi, menunjukkan arus lalu lintas di sekitar pusat pelaksanaan Gebyar Kunut mengalami peningkatan signifikan hingga menimbulkan kemacetan.
Di area pintu masuk, pengunjung disambut deretan pedagang yang menjajakan makanan, pakaian, hingga wahana permainan anak.
Meski kondisi lapangan sedikit becek akibat hujan sore harinya, semangat warga tidak surut.
Pengunjung yang datang bersama keluarga dan kerabat tampak menikmati suasana sambil mencicipi hidangan khas seperti nasi bulu dan kopi.
Usai menutup kegiatan secara resmi, Bupati Sofyan Puhi menyempatkan diri berkeliling lapangan untuk menyapa masyarakat dan para pedagang, menambah kehangatan suasana malam di Desa Payunga. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.