Cerita Legenda Gorontalo
Legenda Raja Panipi dan 7 Pedang Sakti, Pejuang Gorontalo Penumpas Penjajah
Di sebuah kebun sunyi di Desa Barakati, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, tersembunyi sebuah makam tua
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Makam-Bobihoe-Raja-Panipi-di-Desa-Barakati.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Di sebuah kebun sunyi di Desa Barakati, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, tersembunyi sebuah makam tua yang hingga kini dijaga masyarakat setempat.
Makam itu, konon adalah peristirahatan terakhir Raja Panipi atau Bobihu (Bobihoe), sosok pejuang Gorontalo.
Bino Lamaju (69), seorang warga Desa Barakati yang tinggal tak jauh dari kompleks makam, menjadi salah satu penjaga kisah Raja Panipi. Sejak kecil, ia telah mendengar cerita-cerita keberanian sang raja dari orang tua dan leluhurnya.
"Dari dulu orang kenal dia sebagai Raja Panipi. Namanya jadi simbol keberanian dan perjuangan," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Kamis (4/9/2025).
Makam Tua Penuh Misteri
Untuk mencapai makam, pengunjung harus melewati jalan setapak di tengah kebun yang dipenuhi pohon kelapa dan jagung. Suara burung hutan sesekali terdengar, menambah kesan hening dan mistis.
Sesampainya di lokasi, makam itu tampak sederhana, dikelilingi pagar besi putih setinggi pinggang. Di dalamnya, sebuah kubah kecil berwarna putih menaungi pusara utama. Meskipun catnya sudah memudar, bangunan itu masih berdiri kokoh.
"Kalau malam hari, makam ini sering terlihat terang sendiri. Ada cahaya seperti lampu padahal di sekitarnya gelap gulita," kata Bino.
Legenda Tujuh Pedang Sakti
Bino juga menceritakan legenda paling terkenal tentang Raja Panipi: tujuh pedang sakti yang diyakini bisa terbang sendiri.
"Pedang itu bisa langsung mengejar musuh, bahkan menebas orang yang bersembunyi. Pedangnya seperti hidup," jelasnya.
Sebagian warga percaya, pedang-pedang itu masih memiliki daya magis hingga kini. Ada cerita bahwa beberapa makam lama di sekitar pusara ikut terkena tebasan pedang tersebut.
Namun, kisah kepahlawanan Bobihu juga berakhir tragis. Ia dikisahkan tewas di tangan anaknya sendiri setelah kelemahannya terbongkar. Hingga kini, tidak ada yang tahu pasti di mana makam anak dan keluarganya.
Sejarah mencatat, Bobihu adalah tokoh utama dalam Perang Panipi 1872. Perang ini berawal dari kebijakan Belanda yang memaksa rakyat Gorontalo membayar pajak tinggi dan melakukan kerja paksa.
Pungutan ini sangat memberatkan, karena rakyat harus menyerahkan hasil bumi, termasuk beras dan kopra, dalam jumlah besar.
Selain itu, mereka juga diwajibkan membangun jalan dan fasilitas untuk kepentingan Belanda tanpa imbalan.
Kondisi inilah yang membuat rakyat Panipi menolak keras. Bobihu, yang memimpin wilayah Panipi, tampil di barisan terdepan bersama tokoh lokal lain untuk mengobarkan perlawanan.
Pemerintah kolonial pun bertindak cepat. Bobihu dan empat tokoh lainnya ditangkap, lalu dibuang ke Gowa, Sulawesi Selatan. Namun, semangat perlawanan rakyat Panipi tidak padam.
Dua tahun kemudian, pada 1874, Bobihu kembali ke Gorontalo. Situasi politik semakin memanas karena Belanda ingin memperketat kontrolnya. Perlawanan rakyat kembali berkobar. Dalam pertempuran itulah, Bobihu gugur tertembak.
Sejarawan Universitas Negeri Gorontalo, Nani Tuloli, menyampaikan bahwa Perang Panipi menjadi salah satu tonggak penting sejarah Gorontalo.
"Perlawanan rakyat Panipi menunjukkan bahwa masyarakat Gorontalo sejak awal menolak segala bentuk penindasan Belanda. Meskipun kalah secara militer, kemenangan moral dan semangat perjuangan tetap diwariskan hingga kini," ungkapnya.
Selain Bobihu, sejarah mencatat ada empat tokoh lain yang memimpin perlawanan, yaitu Haji Abdul Latif, Manggopa, Dunggala, dan Paudi.
Keempat tokoh ini menjadi tangan kanan Bobihu dalam menggerakkan massa dan mengatur strategi perang. Haji Abdul Latif dikenal sebagai ulama yang membakar semangat jihad, sementara Manggopa dan Dunggala bertugas mengumpulkan persenjataan tradisional. Paudi dipercaya memimpin serangan mendadak.
Kelima tokoh ini sempat ditangkap dan dibuang ke Gowa, namun setelah kembali, mereka tetap berjuang. Hingga kini, jejak keempat tokoh Panipi itu tidak banyak diketahui masyarakat, tertutup oleh besarnya nama Bobihu sebagai Raja Panipi.
Setiap momen tertentu, terutama pada H-1 Ramadan dan usai Idulfitri, makam Raja Panipi ramai didatangi peziarah. Warga datang membawa bunga, air doa, serta membaca tahlil di sisi pusara.
"Kalau Ramadan, ramai sekali orang yang datang. Ada yang sengaja datang malam hari karena suasananya lebih khusyuk," kata Bino.
Tak hanya masyarakat, keluarga besar keturunan Bobihu juga sering berziarah. Pada April 2025 lalu, anggota DPD RI Rahmi Jatijahja datang bersama keluarga besar, menunjukkan bahwa penghormatan kepada Raja Panipi tetap dijaga.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo sempat merencanakan pembangunan Museum Panipi pada tahun 2013 untuk menyimpan peninggalan Raja Panipi, seperti kunci raga, gelang, dan pedang sakti. Namun, rencana itu hingga kini belum terwujud.
Meski begitu, kisah Raja Panipi tetap lestari. Lukisannya terpajang di Museum Provinsi Gorontalo, sementara perjuangannya diabadikan dalam karya sastra Perang Panipi karya Nani Tuloli. Senjata tradisional aliyawo yang digunakan dalam perang kini menjadi simbol keberanian rakyat Gorontalo.
Bagi masyarakat Gorontalo, Raja Panipi bukan hanya legenda tentang pedang sakti. Ia adalah simbol perlawanan terhadap penjajahan dan teladan keberanian.
"Anak-anak muda sekarang harus tahu, Gorontalo punya sejarah panjang melawan penjajah. Raja Panipi salah satunya," tegas Bino.
Makam tua di Barakati kini menjadi pengingat bahwa di tanah Hulondalo pernah lahir seorang pejuang gagah berani. Semangat perjuangan Raja Panipi diharapkan terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai sejarah, menjaga identitas, dan meneruskan nilai-nilai perjuangan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.