Iduladha Gorontalo 2026
Harga Sapi di Gorontalo Naik Jelang Iduladha, Pedagang Kecil di Boalemo Kesulitan Tambah Stok
Harga sapi di Kabupaten Boalemo, Gorontalo, mengalami kenaikan menjelang Iduladha 2026. Kondisi tersebut membuat pedagang kecil kesulitan
Penulis: Rahmat Hambali | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PENJUAL-SAPI-KURBAN-Rahim-Ahu-merupakan-penjual-sapi-di-rumahnya.jpg)
Ringkasan Berita:
- Harga sapi di Kabupaten Boalemo mengalami kenaikan signifikan menjelang Iduladha 2026 sehingga pedagang kecil kesulitan menambah stok.
- Pedagang sapi di Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, mengaku harga sapi besar kini mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta per ekor.
- Selain harga sapi naik, biaya transportasi menuju pasar hewan juga menjadi kendala bagi pedagang kecil di Boalemo.
TRIBUNGORONTALO.COM, Boalemo – Harga sapi di Kabupaten Boalemo, Gorontalo, mengalami kenaikan menjelang Iduladha 2026. Kondisi tersebut membuat pedagang kecil kesulitan menambah stok hewan kurban untuk dijual kepada masyarakat.
Salah satu pedagang sapi di Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Rahim Ahu (50), mengaku harga sapi mulai naik sejak sebelum Ramadan hingga saat ini.
Menurutnya, kenaikan harga terjadi hampir di semua ukuran sapi, baik kecil maupun besar.
Baca juga: Ramalan Zodiak Libra, Scorpio, Sagitarius Jumat 22 Mei 2026: Horoskop Cinta hingga Keuangan
“Sebelumnya sapi kecil itu sekitar Rp6,5 juta, sekarang sudah naik. Kalau yang besar dulu sekitar Rp10 juta,” ujar Rahim saat diwawancarai, Kamis (21/5/2026).
Rahim mengatakan, saat ini dirinya hanya menjual dua ekor sapi berukuran kecil atau “pranggang” dengan harga sekitar Rp8,5 juta per ekor.
Sementara untuk sapi berukuran besar, stok miliknya saat ini masih kosong karena harga pembelian di pasar hewan terus meningkat.
“Kalau di pasar sekarang sapi kecil bisa Rp9 sampai Rp10 juta. Yang besar sudah sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta,” jelasnya.
Ia mengaku sebenarnya memiliki rencana menambah stok sapi menjelang Iduladha. Namun tingginya harga di pasar membuat dirinya belum mampu membeli tambahan ternak.
Selain faktor harga, Rahim juga mengaku terbebani biaya operasional jika harus membawa sapi ke pasar hewan di Desa Bongo Nol, Kecamatan Paguyaman.
Menurutnya, biaya transportasi untuk satu ekor sapi mencapai Rp150 ribu.
“Kalau menyewa mobil satu ekor sapi bayar Rp150 ribu. Makanya saya pilih jual di rumah saja,” katanya.
Rahim sendiri sudah sekitar satu tahun menjalani usaha jual beli sapi. Ia mengaku sejauh ini tidak mengalami kendala dalam pemeliharaan ternak.
Meski menjual dari rumah yang berada di lorong permukiman warga, dirinya tetap berharap ada pembeli yang datang menjelang Iduladha.
Sementara itu, warga Desa Piloliyanga, Yuyun Limu (35), menilai harga sapi yang dijual Rahim masih relatif terjangkau untuk ukuran hewan kurban.
Menurutnya, sapi dengan harga Rp8,5 juta dapat menjadi pilihan masyarakat dibanding membeli beberapa ekor kambing.
“Kalau untuk kurban, harga segitu masih murah dibanding beli kambing beberapa ekor,” ujarnya.(*)