Selasa, 10 Maret 2026

Warga Gorontalo Disekap

Kronologi Agus Hilimi Kabur dari Sindikat Scammer Kamboja hingga Jadwal Kepulangan ke Gorontalo

Agus Hilimi (28), pemuda asal Desa Tolotio, korban dugaan penyekapan oleh sindikat penipuan online atau scammer di Kamboja melarikan diri

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Kronologi Agus Hilimi Kabur dari Sindikat Scammer Kamboja hingga Jadwal Kepulangan ke Gorontalo
Kolase TribunGorontalo.com/Ist
WARGA DISEKAP -- Kolase foto tiket pesawat dan Agus Hilmi. Warga Desa Tolotio, Kabupaten Gorontalo, dikabarkan berhasil kabur usai diduga disekap oleh perusahaan sindikat scammer di Kamboja. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Agus Hilimi (28), pemuda asal Desa Tolotio, Kabupaten Gorontalo, korban dugaan penyekapan oleh sindikat penipuan online atau scammer di Kamboja akhirnya berhasil melarikan diri. 

Ia kini berada dalam perlindungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja dan akan segera kembali ke Tanah Air.

Agus berhasil kabur dari markas sindikat dan tiba di KBRI sekitar pukul 10.00 Wita pada Rabu (27/8/2025). Ia dibantu oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berada di Kamboja.

Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Desa Tolotio, Sandra Djafar Biu. 

"Dia (Agus) telah berhasil melarikan diri ke KBRI," ungkap Sandra kepada TribunGorontalo.com, pada Rabu (27/8/2025) malam.

Kepulangan Agus tidak terlepas dari bantuan banyak pihak. 

Pemerintah Kabupaten Gorontalo, sejumlah legislator, serta organisasi Apdesi Merah Putih Gorontalo bergotong royong menggalang dana untuk membiayai tiket pesawatnya.

Rencananya, Agus akan terbang dari Phnom Penh, Kamboja, menuju Jakarta pada Jumat (29/8/2025) sore. 

Setibanya di Jakarta, ia akan disambut oleh legislator Algazali Katili sebelum melanjutkan perjalanan ke Gorontalo untuk berkumpul kembali dengan keluarganya.

Sosok Agus Hilimi

WARGA DISEKAP -- Kolase foto Agus Hilimi. Warga Desa Tolotio itu mengaku disekap di Kamboja. Pihak perusahaan tempat Agus Hilmi bekerja meminta uang tebusan.
WARGA DISEKAP -- Kolase foto Agus Hilimi. Warga Desa Tolotio itu mengaku disekap di Kamboja. Pihak perusahaan tempat Agus Hilmi bekerja meminta uang tebusan. (Kolase TribunGorontalo.com/Ist)

Agus Hilimi, pria berusia 28 tahun, adalah warga Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo

Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.

Saat ini Agus tinggal bersama ibunya karena ayahnya sudah meninggal. 

Semua saudaranya sudah menikah, dan hanya ia yang belum.

Kronologi Agus Terjebak Sindikat

Kasus ini terungkap ketika Agus, yang dijanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi di Thailand.

Ia justru dibawa ke Kamboja setelah dipaksa menggunakan paspor wisata Malaysia. 

"Awalnya saya hanya ingin mencari rezeki yang halal, tapi ternyata saya ditipu, saya dibawa ke Kamboja, bukan Thailand," ungkap Agus dalam sebuah panggilan video yang beredar di media sosial beberapa waktu lalu.

Namun belum dapat dipastikan terkait kebenaran paspor tersebut. Sebab hingga saat ini belum ada pernyataan dari pihak Imigrasi.

Adapun Agus menyatakan dirinya dipaksa menjadi penipu daring (scammer) di Kamboja. Ia diancam denda 100 dolar AS jika tidak mencapai target kerja.

Saat meminta pulang, Agus malah dibebankan denda sebesar Rp 50 juta.

Ia dipaksa menjadi penipu online dan diancam akan dijual ke perusahaan lain jika tidak mau bekerja. 

"Saya tidak bisa komputer, jadi tidak tahu harus bagaimana. Saya tidak mau kerja menipu orang," ujar Agus lirih.

Karena menolak bekerja, Agus justru dimintai uang tebusan puluhan juta rupiah agar bisa pulang. 

Gaji yang dijanjikan tidak pernah ia terima. 

Ibu Agus, Hadija B Tuli, bersama keluarganya telah melaporkan kejadian ini ke Polda Gorontalo, meski pihak kepolisian menyatakan belum menerima laporan resmi.

Pihak Polda Gorontalo menegaskan bahwa mereka sangat terbuka untuk menerima laporan terkait Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Baca juga: BREAKING NEWS: Agus Hilimi Warga Gorontalo Korban Sindikat Scammer Kamboja Berhasil Kabur

Warga Gorontalo Nekat ke Kamboja 

PEKERJA ILEGAL -- Sutrisno, Koordinator P4MI Gorontalo saat ditemui TribunGorontalo.com, Jumat (8/8/2025). Banyak Warga Gorontalo nekat bekerja di Kamboja.
PEKERJA ILEGAL -- Sutrisno, Koordinator P4MI Gorontalo saat ditemui TribunGorontalo.com, Jumat (8/8/2025). Banyak Warga Gorontalo nekat bekerja di Kamboja. (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Banyak warga Gorontalo diketahui telah bekerja di negara Kamboja.

Mereka berangkat secara ilegal dan bekerja di sektor yang berisiko tinggi.

Hal ini diungkapkan oleh Koordinator Pos Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) Gorontalo, Sutrisno kepada TribunGorontalo.com pada Minggu (10/8/2025).

Ia menjelaskan bahwa bekerja di Kamboja memiliki risiko besar, apalagi sebagian pekerja di sana direkrut untuk menjadi scammer atau penipu daring.

"Kamboja dan Indonesia tidak ada MOU penempatan tenaga kerja," tegas Sutrisno. 

Ia menambahkan, Kamboja tidak memiliki regulasi atau perlindungan hukum terhadap tenaga kerja asing. 

Meskipun begitu, minat masyarakat untuk bekerja di sana masih tinggi. 

Menurut Sutrisno, salah satu alasannya adalah karena di Kamboja, beberapa jenis pekerjaan yang dilarang di Indonesia justru dilegalkan.

"Di Kamboja dihalalkan beberapa pekerjaan yang ilegal seperti judi atau perjudian," ungkapnya.

Berdasarkan catatan P4MI, sejumlah calon pekerja migran asal Gorontalo pernah dicegah keberangkatannya ke Kamboja. 

"Pencegahannya kita lakukan di beberapa tempat seperti empat di Jakarta dan satu di Kepulauan Riau," kata Sutrisno.

Meski demikian, dari hasil penelusuran dan informasi yang diterimanya, sudah banyak warga Gorontalo yang berada dan bekerja di Kamboja. 

"Aku dapat info, di sana itu sudah banyak orang Gorontalo, tapi kita tidak bisa dapat itu data," ujarnya.

Menurut Sutrisno, kesulitan mendapatkan data disebabkan oleh status keberangkatan mereka yang ilegal. 

Pekerja yang direkrut untuk menjadi scammer biasanya diberikan target tertentu. Jika target tidak tercapai, risiko kekerasan hingga perdagangan orang mengintai mereka.

"Bisa jadi jika tidak memenuhi target, yang bersangkutan akan dijual ke perusahaan lain. 

Bahkan jika mereka tetap tidak bisa mencapai target, bisa saja organ tubuh mereka dijual," jelasnya.

Ternyata, iming-iming gaji besar dan fasilitas lengkap menjadi daya tarik utama para perekrut.

"Dibeliin uang tiket, dikasih uang saku. Dalam proses pemberangkatan diuruskan paspor dan diberi akomodasi di hotel," tambah Sutrisno.

P4MI Gorontalo mengimbau masyarakat untuk melapor jika ada anggota keluarga yang berangkat ke Kamboja atau luar negeri secara ilegal. 

"Lapor ke sini, bikin laporan resmi. Nanti kita akan laporkan ke pusat, dari pusat akan diteruskan ke KBRI Phnom Penh," jelasnya.

Ia juga meminta Pemerintah Provinsi Gorontalo mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat tidak tergiur bekerja di Kamboja.

 

(TribunGorontalo.com/Tim Redaksi)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved