Selasa, 10 Maret 2026

Warga Gorontalo Disekap

Agus Hilimi Jadi Korban Sindikat Kamboja, Sang Ibu Minta Bantuan Gubernur dan Bupati Gorontalo

Kisah pilu dialami Agus Hilimi, seorang pria asal Desa Tolotio, Kabupaten Gorontalo, yang kini disekap di Kamboja. 

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Agus Hilimi Jadi Korban Sindikat Kamboja, Sang Ibu Minta Bantuan Gubernur dan Bupati Gorontalo
Freepik
WARGA DISEKAP -- Ilustrasi orang disekap. Agus Hilimi, warga Desa Tololitio, Kabupaten Gorontalo, mengaku disekap di Kamboja. Ibunya kini memohon bantuan gubernur dan bupati. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Kisah pilu dialami Agus Hilimi, seorang pria asal Desa Tolotio, Kabupaten Gorontalo, yang kini diduga disekap di Kamboja. 

Ia menjadi korban sindikat perdagangan manusia setelah tergiur tawaran gaji fantastis. 

Pihak perusahaan ilegal yang menyekapnya bahkan meminta tebusan Rp50 juta agar Agus bisa pulang.

Kronologi Terjebak Sindikat di Kamboja

Dalam panggilan video pada Selasa (26/8/2025), Agus menceritakan awal mula ia terjebak. 

Pada 7 Agustus 2025, seorang temannya, Eby, membujuknya untuk bekerja di Thailand dengan iming-iming gaji Rp9 juta per bulan.

"Saat itu kami ditawarkan gaji yang cukup besar," ungkap Agus lirih melalui panggilan video yang ia lakukan secara sembunyi-sembunyi.

Agus sempat berangkat bersama rekannya, Handi, namun Handi memilih kembali saat tiba di Jakarta karena merasa curiga. 

Dengan tekad bulat untuk membantu keluarga, Agus tetap melanjutkan perjalanan seorang diri.

Perjalanan Agus ternyata tidak resmi. Ia dipaksa berbohong saat mengurus paspor, yaitu dengan membuat paspor wisata ke Malaysia, bukan paspor kerja.

 Tanpa menaruh curiga, Agus melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di Kamboja dan terjerumus ke dalam jaringan sindikat.

"Awalnya saya hanya ingin mencari rezeki yang halal, supaya bisa bantu keluarga. Tapi ternyata saya ditipu, saya dibawa ke Kamboja, bukan Thailand," terangnya.

Setibanya di sana, Agus dipaksa bekerja untuk menipu orang melalui jaringan online. Ia ditargetkan merekrut "member" baru, dan jika gagal, ia akan didenda 100 dolar AS atau setara Rp1,6 juta.

"Saya tidak bisa komputer, jadi tidak tahu harus bagaimana. Saya tidak mau kerja menipu orang," kata Agus, merasa tidak berdaya.

Diancam Dijual dan Dimintai Tebusan

WARGA DISEKAP -- Kolase foto Agus Hilimi. Warga Desa Tolotio itu mengaku disekap di Kamboja. Pihak perusahaan tempat Agus Hilmi bekerja meminta uang tebusan.
WARGA DISEKAP -- Kolase foto Agus Hilimi. Warga Desa Tolotio itu mengaku disekap di Kamboja. Pihak perusahaan tempat Agus Hilmi bekerja meminta uang tebusan. (Kolase TribunGorontalo.com/Ist)

Tak hanya itu, janji gaji Rp9 juta ternyata fiktif. Pihak perusahaan beralasan biaya perjalanan sudah dipotong dari upah. Lebih buruk lagi, Agus diancam akan dijual ke perusahaan lain jika ia bersikeras untuk pulang.

Untuk bisa kembali ke Gorontalo, Agus diwajibkan membayar denda sebesar Rp50 juta. 

"Saya sudah tidak tahan. Saya mohon pemerintah Indonesia bisa memulangkan saya," pinta Agus dengan suara penuh harap.

Ibu Agus Hilmi, Hadija B Tuli, hanya bisa menangis mendengar kabar putranya. 

"Pas dia mau pergi kami sudah tanya, ‘yakin sudah dengan keputusan ini?’ Dia bilang iya. Kami hanya bisa pasrah. Tapi ternyata dia hanya dijebak dan disekap di sana," tutur Hadija.

Pihak keluarga telah melaporkan kasus ini ke Polda Gorontalo dan berharap pemerintah segera bertindak. 

"Kami mohon kepada Bupati dan Gubernur Gorontalo, tolong anak kami dipulangkan. Kami takut terjadi hal buruk pada dia di sana," pinta ibunya.

Kasus yang menimpa Agus Hilimi merupakan salah satu contoh praktik perdagangan manusia yang marak menjerat WNI. Para korban kebanyakan diiming-imingi gaji tinggi lalu dipaksa bekerja secara ilegal di luar negeri. 

Baca juga: BREAKING NEWS: Agus Hilimi Warga Gorontalo Disekap di Kamboja, Diminta Tebusan Rp50 Juta

Pemerintah Indonesia sendiri telah melarang penempatan tenaga kerja ke Kamboja, Myanmar, dan Thailand karena maraknya kasus TPPO di sana.

"Kalau enggak, mereka diambil ginjal, dicuri organ tubuhnya. Apa yang dilakukan Pak Karding itu benar secara moral. Dan betul saja kita dukung," ucapnya seperti dilansir TribunGorontalo.com dari Kompas.com, Selasa (26/8/2025).

Saat ditanya soal lapangan pekerjaan di Indonesia yang semakin sempit sehingga warga memilih bekerja di luar negeri, Noel membantah hal itu. Menurutnya ke depan lapangan kerja akan lebih banyak sehingga masyarakat perlu bersabar. 

Ia pun menegaskan negara tidak tinggal diam dalam menghadapi kurangnya lapangan kerja. 

"Enggak sempit, nanti naik kok. Sabar aja, sabar. Kita berjuang. Kita tidak tutup mata persoalan lapangan pekerjaan ini. Negara tidak diam. Yang kita lawan sekarang ormas-ormas. Pejabat-pejabat yang mentalnya ormas, yang suka meras," ungkap Noel.

Korban rawan dijual atau jadi operator judi

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Emmanuel Ebenezer (Noel), menyetujui langkah pencegahan agar warga Indonesia tidak bekerja di Kamboja, Myanmar, dan Thailand.

Ia khawatir mereka akan menjadi korban sindikat perdagangan orang atau dipaksa menjadi operator judi daring.

Noel menyatakan bahwa imbauan tersebut tepat secara moral. Pemerintah tidak ingin masyarakat terjebak dalam penipuan atau menjadi operator judi daring.

"Itu imbauan secara moral benar. Karena kenapa? Yang kita takutkan kawan-kawan yang bekerja di Kamboja itu menjadi apa? Operator judi, scamming," ujar Noel di Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2025).

Ia menambahkan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, tidak ada lagi ruang bagi oknum calo tenaga kerja untuk memeras warga.

"Presiden saya cuma perintahnya, jangan korup, layani rakyat. Sudah, gitu," katanya.

Adapun kasus WNI yang menjadi pekerja di Kamboja, Myanmar, dan Thailand terus terjadi. Sebagian besar dari mereka pergi secara non-prosedural, ada pula yang berangkat karena tergiur lowongan kerja dari oknum yayasan tertentu.

Pada 18 Maret 2025, pemerintah memulangkan sebanyak 564 WNI dari Myanmar. Mayoritas dari mereka berasal dari Sumatera Utara (133 orang), diikuti Jawa Barat (75 orang), dan Bangka Belitung (68 orang).

Selain itu, kasus lain juga menimpa seorang pemuda asal Kota Bekasi, Soleh Darmawan (24), yang meninggal dunia di Kamboja. Kasus-kasus ini menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan dan memberikan peringatan kepada masyarakat.

 


Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved