Senin, 9 Maret 2026

Demo Mahasiswa Gorontalo

BREAKING NEWS: Mahasiswa Gorontalo Orasi Terkait Tambang Pohuwato depan DPRD Provinsi

Sejumlah mahasiswa Gorontalo kembali melakukan orasi di depan kantor DPRD Provinsi, Senin (25/8/2025). 

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto BREAKING NEWS: Mahasiswa Gorontalo Orasi Terkait Tambang Pohuwato depan DPRD Provinsi
TribunGorontalo.com
DEMONSTRASI : Aksi Demonstrasi di Depan Kantor DPRD Provinsi Gorontalo, Kamis (25/8/2025). Masa aksi bawa enam tuntutan demonstrasi.FOTO: Herjianto 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Sejumlah mahasiswa Gorontalo kembali melakukan orasi di depan kantor DPRD Provinsi, Senin (25/8/2025). 

Pantauan TribunGorontalo.com di lokasi, aksi unjuk rasa ini adalah gabungan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Aliansi Gerakan Masyarakat Peduli Agraria (GEMPA).

Para mahasiswa ini setidaknya membahwa 6 tuntutan. Namun jika diperas, tuntutan para mahasiswa ini sebetulnya penolakan terhadap perusahaan tambang emas skala nasional di Pohuwato

Koordinator aksi, Taufik Dunggio dalam orasinya mengungkapkan jika demo adalah buntut dari kesulitan warga sejak adanya perusahaan tersebut di Bumi Panua, sebutan untuk wilayah Pohuwato

Karena itu, dari kabupaten paling barat Gorontalo itu, mahasiswa menyuarakan 6 tuntutan. 

“Kami menyuarakan enam tuntutan pokok yang lahir dari penderitaan rakyat,” ujarnya di depan massa aksi.

Enam tuntutan itu bukan sekadar daftar permintaan biasa, tetapi disebut sebagai jeritan hati rakyat.

Tuntutan pertama adalah meminta agar DPRD memanggil perusahaan emas skala nasional di Pohuwato

Sebab, hingga saat ini pembayaran tali asih sebagai ganti rugi lahan yang masuk kawasan pertambangan, belum selesai sepenuhnya. 

Para mahasiswa juga meminta agar DPRD menegus pihak perusahaan yang disebut melarang aktivitas pertambangan rakyat di kawasan tersebut. 

“Berhentikan segala bentuk aktivitas perusahaan,” tegas Taufik. 

Tidak berhenti di situ, desakan massa juga menyasar kepolisian. Mereka meminta Kapolda Gorontalo untuk memindahkan Polsubsektor Buntulia yang dianggap tidak strategis. 

Bahkan, mereka mendesak agar Kapolsek Sub Sektor Buntulia dicopot.

Para mahasiswa ini bahkan meminta agar perusahaan tak melanjutkan aktivitasnya sebelum persoalan ini selesai. 

Dalam aksinya, mereka juga membentangkan berbagai selebaran protes. 

Beberapa di antaranya bertuliskan: “Tolak alih fungsi lahan”, “Bubarkan DPR”, dan “Tolak Relokasi Warga Desa Hulawa”. (*/Jian)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved