Sabtu, 7 Maret 2026

Berita Internasional

Serangan Rudal Rusia Hantam Perusahaan Elektronik Amerika di Ukraina, Gedung Hancur Lebur

Dalam salah satu serangan terbesar sejak perang dimulai, Rusia melancarkan rentetan rudal dan drone yang menghantam sebuah perusahaan elektronik

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Serangan Rudal Rusia Hantam Perusahaan Elektronik Amerika di Ukraina, Gedung Hancur Lebur
Anadolu
KEBAKARAN -- Asap hitam mengepul dari perusahaan manufaktur elektronik tersebut sementara petugas pemadam kebakaran terus memadamkan api setelah tentara Rusia menyerang sebuah perusahaan besar Amerika yang memproduksi elektronik sipil dengan dua rudal di Mukachevo, wilayah Zakarpattia, Ukraina, pada 21 Agustus 2025. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Dalam salah satu serangan terbesar sejak perang dimulai, Rusia melancarkan rentetan rudal dan drone yang menghantam sebuah perusahaan elektronik Amerika di Mukachevo, Ukraina, yang terletak kurang dari satu jam perjalanan dari dua perbatasan NATO, yaitu Hungaria dan Slovakia.

Serangan yang terjadi Kamis pagi (waktu setempat) ini menewaskan satu orang, melukai belasan lainnya, dan menyebabkan kerusakan parah.

Perusahaan yang menjadi sasaran, Flex Ltd., berkantor pusat di Austin, Texas, dan memproduksi barang-barang elektronik sipil, seperti mesin kopi.

Baca juga: Tamat Sudah Riwayat Google Assistant, Ini Alasan Google Beralih ke Gemini yang Jauh Lebih Gila

Pihak perusahaan menegaskan bahwa fasilitas tersebut tidak memproduksi atau memasok peralatan militer.

Serangan itu mengakibatkan 15 orang terluka, enam di antaranya masih dirawat di rumah sakit.

Pihak Flex Ltd. menyatakan bahwa mereka telah mengevakuasi seluruh karyawan dan akan memberikan dukungan penuh bagi para korban dan keluarganya. Kerugian akibat serangan ini masih dalam tahap penilaian.

Reaksi Petinggi Negara

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyebut serangan terhadap perusahaan swasta AS ini "sangat mencolok" dan menunjukkan kurangnya niat baik Rusia.

"Ini menunjukkan bahwa Rusia tidak hanya menargetkan infrastruktur militer, tetapi juga bisnis sipil yang didukung oleh investasi asing," kata Zelenskyy.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump, yang baru-baru ini bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas perdamaian, menyatakan akan mencari tahu apakah Putin bersedia bernegosiasi dalam beberapa minggu ke depan. Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait serangan ini.

Baca juga: 90 Persen Perpustakaan di Gorontalo tak Terakreditasi, Rata-rata Kekurangan Buku

Serangan Massif di Seluruh Ukraina

Serangan semalam itu melibatkan total 614 drone, rudal balistik, dan rudal jelajah.

Selain di Mukachevo, serangan juga menghantam lokasi lain, seperti Kostiantynivka, di mana setidaknya empat orang dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan.

Sikap Sekutu NATO

Prancis, yang merupakan salah satu pendukung utama Ukraina, menegaskan bahwa serangan masif ini menunjukkan bahwa klaim Rusia tentang "kesiapan untuk bernegosiasi" tidak benar.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan bahwa serangan ini adalah "yang paling masif dalam sebulan terakhir" dan mengilustrasikan niat Rusia yang sesungguhnya.

Prancis juga kembali menegaskan dukungannya terhadap inisiatif perdamaian yang diusulkan oleh Presiden Trump.

Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Trump bertemu dengan Putin dan menghadiri pertemuan dengan para pemimpin NATO di Gedung Putih, termasuk

Presiden Finlandia Alexander Stubb, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.

Pertemuan ini menunjukkan solidaritas para pemimpin dunia dalam mendukung Ukraina.

Analisis Konflik

Serangan terhadap perusahaan Amerika ini menjadi titik terang yang suram dalam konflik yang telah berlangsung lama.

Para pemimpin NATO berulang kali mempertanyakan keseriusan Putin dalam negosiasi, dan serangan ini seolah menjadi jawaban atas keraguan tersebut.

Meskipun upaya diplomatik terus berjalan, aksi militer yang brutal menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih sangat panjang. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved