Rojali dan Rohana Gorontalo
Rohana dan Rojali di Gorontalo, Sejumlah Warga Ungkap Alasan Lebih Suka 'Hanya Tanya' Ketimbang Beli
Menurut beberapa pembeli di Citimall Gorontalo, masyarakat memiliki kecenderungan kuat untuk mencari harga barang yang paling terjangkau.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kondisi-Citimall-Gorontalo-pada-Sabtu-982025.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Sejumlah warga Gorontalo menganggap istilah Rohana dan Rojali bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah kebiasaan yang sudah mengakar dalam masyarakat.
Istilah ini merujuk pada perilaku konsumen yang cenderung membandingkan harga sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu.
Menurut beberapa pembeli yang ditemui TribunGorontalo.com di Citimall Gorontalo, masyarakat memiliki kecenderungan kuat untuk mencari harga barang yang paling terjangkau.
Kebiasaan ini mendorong mereka untuk tidak langsung membeli, melainkan bertanya terlebih dahulu.
Jika harga yang ditawarkan sesuai dengan anggaran, mereka akan langsung membeli. Sebaliknya, jika harganya dianggap terlalu mahal, mereka akan menunda pembelian dan menunggu hingga harganya turun. Perilaku ini telah menjadi bagian dari budaya belanja di Gorontalo.
Salah satu pembeli, Hikma Hiola, menegaskan pandangan ini. Ia bersama teman-temannya di mal menjelaskan bahwa mereka membawa uang dengan jumlah tertentu dan akan membandingkan harga barang dengan uang yang mereka miliki.
"Kami suka barang murah. Kami sudah membawa uang sekian, jadi kami tinggal mengukur berapa harga barang. Kalau di luar prediksi, kami hanya bertanya dulu dan tidak langsung membeli hari ini," ujar Hikma kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (9/8/2025).
Hikma menambahkan bahwa uang yang mereka bawa sering kali pas-pasan, sehingga mereka harus bijak dalam mengelola pengeluaran. Keterbatasan anggaran ini membuat mereka harus memprioritaskan barang yang benar-benar dibutuhkan.
"Kami ke mal tidak hanya pergi ke satu tempat. Kami bisa menonton bioskop, dan uang bisa habis. Jika semua uang habis untuk belanja barang, uang kami bisa tidak cukup. Jadi, kalau uang sudah cukup, kami akan kembali untuk membeli barang yang kami inginkan," jelasnya.
Menurut Hikma, daya beli masyarakat saat ini terlihat menurun. Faktor ekonomi menjadi salah satu alasan utama di balik penurunan ini. Akibatnya, banyak orang lebih memilih untuk berhemat dan menabung.
Baca juga: Info Cuaca Kabupaten Pohuwato dan Gorontalo Utara Hari Ini 10 Agustus 2025
"Sekarang ini kami sedang berhemat karena uang sulit didapat. Jadi, lebih baik menabung untuk membeli barang yang benar-benar sesuai kebutuhan," kata Hikma.
Faktor lain yang memengaruhi perilaku belanja ini adalah ketersediaan barang dengan harga lebih murah secara online. Hikma mengaku lebih sering membeli pakaian dan beberapa barang lainnya melalui platform e-commerce daripada di toko fisik.
"Kalau pakaian dan beberapa barang, saya sering beli di Shopee daripada di sini. Di online itu lebih murah," ungkapnya.
Warga lain, Nanda Hulathali, memiliki pandangan serupa. Ia menyatakan bahwa istilah Rohana dan Rojali bukanlah tren, melainkan cerminan dari kebiasaan orang Gorontalo.
"Memang sudah kebiasaan orang Gorontalo untuk tanya-tanya dulu, baru kalau ada uang atau harga pas di hati, mereka beli," jelas Nanda.
Nanda juga mengakui bahwa ia sering kali hanya bertanya tentang satu produk tanpa membelinya. Hal ini ia lakukan karena ingin mencari barang yang sama di tempat lain dengan harga yang lebih rendah.
"Biasanya kami membandingkan harga. Kalau di tempat lain lebih murah, kenapa harus memilih yang mahal? Begitu kan," tuturnya.
Istilah Rohana dan Rojali belakangan ini menjadi topik hangat di media sosial dan dunia usaha. Keduanya mencerminkan dinamika konsumen di era modern.
Rojali adalah akronim dari "rombongan jarang beli", sementara Rohana berarti "rombongan hanya nanya".
Kedua istilah ini menggambarkan kelompok pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan atau mal hanya untuk melihat-lihat dan bertanya tanpa melakukan pembelian.
Fenomena ini bukanlah hal baru, tetapi semakin disorot karena mencerminkan adanya penurunan daya beli masyarakat.
Baca juga: Anak Petani Menjadi Kepala Badan Kesbangpol Gorontalo, Ini Kisah Perjalanan Karier Burhan Ismail
Kondisi ekonomi yang menantang mendorong konsumen untuk lebih berhati-hati dalam berbelanja.
Perilaku ini juga menandakan bahwa konsumen menjadi semakin cerdas dan selektif. Mereka tidak lagi mudah tergiur dengan produk tanpa mempertimbangkan harga dan kualitas secara matang.
Pada akhirnya, istilah Rohana dan Rojali menunjukkan pergeseran kebiasaan belanja yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga kemudahan akses informasi harga secara online.
Ini menjadi tantangan bagi para pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perilaku konsumen yang berubah.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.