Berita Internasional
Waspada! Kasus Chikungunya di Singapura Melonjak, Mayoritas Terkait Perjalanan ke Luar Negeri
Otoritas kesehatan di Singapura tengah meningkatkan kewaspadaan menyusul lonjakan signifikan kasus chikungunya dalam beberapa bulan terakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/30102023_Malaria.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Otoritas kesehatan di Singapura tengah meningkatkan kewaspadaan menyusul lonjakan signifikan kasus chikungunya dalam beberapa bulan terakhir.
Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ini kembali memicu perhatian global, terutama karena meningkatnya penularan di berbagai belahan dunia.
Menurut buletin penyakit menular dari Communicable Diseases Agency (CDA) yang dirilis pada 7 Agustus, hingga tanggal 2 Agustus 2025 tercatat 17 kasus chikungunya di Singapura sejak awal tahun.
Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024 yang mencatat hanya 8 kasus. Sepanjang 2024, total kasus chikungunya hanya 15.
Baca juga: Siap-Siap! Ini Syarat dan Formasi PPPK 2025 Badan Gizi Nasional, Gantikan CPNS Tahun Ini
CDA mengonfirmasi bahwa setidaknya 13 dari 17 kasus pada tahun ini melibatkan pasien yang baru kembali dari wilayah yang terdampak, sementara tiga kasus lokal tidak memiliki kaitan satu sama lain. Hal ini menandakan potensi penularan lokal yang perlu diwaspadai.
Tren kenaikan kasus juga tergambar dari data bulanan. Dua kasus pertama tercatat pada Februari, kemudian bertambah sekitar dua kasus per bulan hingga mencapai 9 kasus pada akhir Mei.
Namun, jumlahnya melonjak drastis menjadi 13 kasus pada Juni, lalu 16 kasus di bulan Juli.
“Jika muncul informasi baru yang menunjukkan peningkatan risiko virus di Singapura, kami akan meninjau ulang kebutuhan penerapan langkah-langkah kesehatan masyarakat tambahan,” jelas CDA.
Chikungunya Merebak Lagi di Dunia
Penyakit chikungunya ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, utamanya dari jenis Aedes, jenis nyamuk yang juga umum di Singapura.
Meski jarang berakibat fatal, chikungunya dapat menyebabkan demam tinggi, nyeri sendi hebat, hingga disabilitas jangka panjang.
Saat ini belum tersedia pengobatan spesifik untuk penyakit ini.
Bulan Juli lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan serius agar negara-negara tidak mengulangi kelengahan dalam menangani wabah chikungunya seperti yang terjadi dua dekade silam.
Wabah global antara tahun 2004–2005 tercatat menjangkiti hampir setengah juta orang, terutama di pulau-pulau kecil Samudra Hindia, sebelum menyebar luas ke berbagai negara.
Gelombang baru infeksi dilaporkan mulai awal 2025, kembali menyerang wilayah yang dulu terdampak berat seperti La Reunion, Mayotte, dan Mauritius.