Pemkab Gorontalo
Musim Panen 13.893 Hektare di Kabupaten Gorontalo Diharap Tekan Harga Beras
Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo berharap hasil panen dari 13.893 hektare lahan yang tersebar di sejumlah wilayah dapat
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Petani-di-Kota-Gorontalo-mulai-memasuki-musim-panen-padi-ddd.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo menaruh harapan besar pada musim panen padi tahun in.
Sebab, panen ini diharapkan dapat menekan harga beras yang belakangan merangkak naik di pasaran.
Kabupaten Gorontalo saat ini tengah memasuki musim panen di lahan seluas 13.893 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo, Sumadi, mengatakan panen di beberapa lokasi sudah mulai dilakukan.
Baca juga: Hotel Amaris Gorontalo Kini Punya Ruang Meeting untuk 800 Orang
“Alhamdulillah, sekarang Kabupaten Gorontalo sudah memasuki musim panen. Beberapa lokasi sudah panen dan mudah-mudahan hasilnya bagus. Serangan hama dan penyakit cukup terkendali,” ujar Sumadi kepada TribunGorontalo.com, Jumat (18/7/2025).
Sumadi memperkirakan hasil panen padi bisa mencapai 5 hingga 6 ton gabah kering panen per hektare.
Jika dikonversi menjadi beras, jumlahnya sekitar 60 persen dari total gabah.
“Panen ini berlangsung dari Juli sampai Agustus. Kalau hasilnya baik, semoga bisa menekan harga beras yang sekarang sudah cukup tinggi,” imbuhnya.
Saat ini, harga beras di pasaran tembus Rp15.000 per kilogram.
Untuk ukuran koli 50 kilogram, harganya berkisar Rp750 ribu hingga Rp800 ribu per koli.
Sumadi juga mengimbau masyarakat untuk cermat memilih beras dan tidak tergiur dengan beras oplosan.
“Jangan hanya lihat warna putihnya. Kandungan gizi juga harus diperhatikan. Jangan tergoda beras oplosan karena bisa merugikan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindag Kabupaten Gorontalo, Viktor Asiku, membenarkan kenaikan harga beras sudah terjadi dalam dua hingga tiga pekan terakhir.
“Per koli sekarang Rp800 ribu dari harga sebelumnya Rp650 ribu. Per liter sudah ada yang Rp15.500, naik bertahap dari sebelumnya Rp12 ribu,” jelas Viktor.
Ia menambahkan, panen lokal yang tidak serempak dan kualitas beras yang dinilai kurang menarik menjadi penyebab harga masih tinggi.
“Kata pedagang, warna beras lokal agak hitam, jadi banyak yang lebih memilih memasok dari luar Gorontalo,” pungkas Viktor.
(*)