Berita Viral
Kesaksian Teman Arya Daru Pangayuan, Sang Diplomat Kemenlu Tewas Dililit Lakban: Seperti Mumi
Iyarman, teman Arya Daru Pangayuan memberikan kesaksian soal kematian sang Diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/DIPLOMAT-MUDA-TEWAS-Lima-fakta-diplomat-Indonesia-bernama-Arya-Daru-Pangayunan-t.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta – Iyarman, teman Arya Daru Pangayuan memberikan kesaksian soal kematian sang Diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).
Menurut Iyarman, kondisi jasad Arya ditutupi lakban di seluruh wajah.
Hal ini disinyalir menjadi penyebab Arya tewas di kamar indekos di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (8/7/2025).
“Dililit seperti mumi mukanya, se kepala seluruh kepala seperti mumi, lilitannya rapih,” beber Iyarman kepada KompasTV, Selasa.
Iyarman mengatakan Arya rencananya akan melaksanakan tugas ke luar negeri di akhir bulan Juli.
Pengakuan Iyarman ini sejalan dengan penjelasan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro.
Kombes Pol Susatyo menyebut pihaknya menerima laporan warga perihal penemuan mayat di indekos pada 08.30 Wita, Selasa (9/7/2025).
"Saat ditemukan, korban dalam posisi terbaring di atas kasur dengan kepala tertutup lakban dan tubuh tertutup selimut," kata Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro seperti dilansir TribunGorontalo.com dari Kompas.com, Selasa.
Arya diketahui merupakan warga asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Polisi menemukan sejumlah hal mencurigakan terkait kasus tewasnya Arya yang hingga kini masih menjadi misteri.
Kamar terkunci Kapolsek Menteng, Kompol Rezha Rahandi menyebutkan, saat jasad Arya ditemukan, kondisi kamar indekos dalam keadaan terkunci dari dalam. Disebutkan pula bahwa tak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh Arya.
"Tidak ada kerusakan sama sekali. Bahkan dari hasil visum luar tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan," katanya.
Selain itu, tak ada barang yang hilang dari kamar indekos.
Meski begitu, Rezha tak menampik adanya kemungkinan unsur pidana dalam kasus ini. Saat ini, polisi masih terus menyelidiki kasus ini.
"Belum dipastikan (pembunuhan), saya juga tidak bisa bilang bukan (pembunuhan). Karena tidak ada tanda-tanda kekerasan, tidak ada barang yang hilang. Kami masih selidiki," ucap dia.
Komunikasi dengan istri Sebelum ditemukan tewas, Arya sempat dihubungi sang istri pada Senin (7/7/2025) malam. Komunikasi terakhir keduanya terjadi pada pukul 21.00 WIB.
"Terus jam 5 pagi mungkin istrinya mengingatkan shalat atau apalah, tapi enggak bisa-bisa (dihubungi) sampai jam 7 atau jam 8 pagi," ujar Rezha.
Karena tidak mendapat respons, sang istri menghubungi penjaga kos.
Dari situ, penjaga kos kemudian melaporkan ke Ketua RW, sebelum kemudian menghubungi polisi.
"Si penjaga kos ke RW, RW ke Bhabinkamtibmas, baru kita datang ke TKP," kata Rezha.
Keamanan ketat Rezha menjelaskan, rumah indekos tempat korban tinggal memiliki sistem keamanan berlapis, sehingga hanya bisa diakses oleh penghuni.
"Iya kan di situ kan kosan keluarga ya, dan double pintu, bukan tiba-tiba orang lain masuk langsung nyelonong ke pintu kamar ya, enggak seperti itu," ujar Rezha.
Ia juga menyebut, selama hampir dua tahun tinggal di rumah indekos itu, Arya hanya pernah dikunjungi oleh istrinya.
"Yang datang ke situ pun juga hanya istrinya saja, orang lain tidak pernah datang ke sana.
Dan dikuatkan dari keterangan si penjaganya memang yang datang ke sini hanya istrinya saja," ungkapnya.
Saat ini kasus kematian Arya masih dalam penyelidikan polisi.
(TribunGorontalo.com/KompasTV/Kompas.com)
Artikel ini dioptimasi dari KompasTV dan Kompas.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.