Human Interest Story
Cerita Alwin Kalalu, Fotografer Freelance yang Memilih Keluar dari Pekerjaan Sebagai Nakes
Tidak semua orang berani meninggalkan pekerjaan tetap demi mengejar hasrat dalam seni.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/HIS-Dulu-pakai-seragam-puskesmas-sekarang-bawa-kamera.jpg)
Reporter: Nurfiska Rahman
TRIBUNGORONTALO.COM, Bone Bolango – Tidak semua orang berani meninggalkan pekerjaan tetap demi mengejar hasrat dalam seni.
Tapi itulah keputusan besar yang diambil Alwin Kalalu (29), pria asal Swawa, Kabupaten Bone Bolango.
Sebelumnya, Alwin bekerja sebagai tenaga kesehatan di sebuah puskesmas.
Namun, ketertarikannya pada dunia fotografi yang sudah tumbuh sejak masa SMA perlahan menjadi panggilan hati.
Kini, ia menekuni profesi sebagai fotografer freelance.
“Awalnya cuma hobi. Foto pakai HP saja, tapi lama-lama merasa ada sesuatu yang saya bisa kejar di sini,” katanya.
Dari Seragam Nakes ke Kamera DSLR
Keputusan meninggalkan dunia medis bukan tanpa pertimbangan.
Alwin sadar banyak yang menganggap langkahnya tak biasa.
Tapi bagi dia, bekerja di bidang yang disukai memberi makna tersendiri.
“Banyak yang kaget, kenapa saya keluar dari puskesmas. Tapi saya merasa lebih hidup waktu motret,” ujarnya.
Saat ini, ia sering terlihat di lokasi favorit seperti Danau Perintis dan kawasan Wisuda.
Ia menerima jasa pemotretan outdoor, baik sistem per file (Rp10 ribu per foto) maupun sistem per jam (Rp350 ribu).
Bagi Alwin, fotografi bukan hanya soal teknis. Ada nilai relasi yang ia bangun dari setiap sesi pemotretan.
“Yang paling saya suka, bisa kenal banyak orang. Klien, teman sesama fotografer, semuanya bikin saya semangat,” ucapnya.
Meski begitu, ia juga pernah merasa kecewa.
“Kadang orang lebih pilih selfie pakai iPhone daripada sewa fotografer. Padahal hasilnya beda,” keluhnya.
Walau mengandalkan sistem kerja yang ia sebut “ngamen”, Alwin tetap optimis profesi ini bisa menjadi jalan hidup jangka panjang.
Ia berharap masyarakat bisa lebih menghargai kerja fotografer.
“Jangan nilai dari penampilan. Walaupun torang sederhana, tapi hasil kerja bisa bersaing,” tutupnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.