Berita Viral
Siswa Berprestasi Depresi dengan Biaya Pendidikan, Tak Bisa Sekolah, Gubernur Jabar Turun Tangan
Diketahui, peristiwa ini terjadi pada Jumat (6/6/2025) malam. Saat itu, MMH sedang bekerja sebagai penjaga warung buah di Pasar Kalitanjung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kondisi-Siswa-Cirebon-saat-berada-di-Rumah-Sakit-cvf.jpg)
Korban sempat dirawat intensif di ruang ICU, sebelum akhirnya sadar dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Ketua LBH Bapeksi Kota Cirebon yang juga kuasa hukum keluarga korban, Ahmad Faozan, mengatakan bahwa MMH melakukan aksi nekat tersebut karena putus asa.
"Dia depresi karena keinginan untuk sekolah di Kota Cirebon tidak dapat dia gapai. Masalahnya adalah ekonomi yang menghantui kehidupannya," kata Faozan saat dihubungi Kompas.com pada Senin (9/6/2025).
Menurut Faozan, MMH merupakan anak tunggal yang tinggal bersama ayahnya, seorang buruh lepas.
Ibunya telah lama berpisah.
Untuk mencukupi kebutuhan, MMH bekerja menjaga warung buah dengan penghasilan Rp20.000 per hari.
"Korban depresi karena kemiskinan, dia tidak bisa melanjutkan SMA-nya."
"Dia sudah berusaha menjadi pelayan dan penjaga toko buah, tetapi upahnya tidak mencukupi," tambahnya.
MMH diketahui merupakan santri berprestasi di salah satu pondok pesantren di Kota Cirebon.
Ia pandai berpidato dalam bahasa Inggris dan memiliki nilai akademis yang baik.
Setelah lulus dari pesantren pada 2024, MMH sempat bersekolah di SMA Negeri di Kecamatan Tengah Tani.
Namun, terhenti akibat kendala biaya.
Peristiwa ini menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Ia menyatakan akan menanggung seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan hidup MMH, serta mengangkatnya sebagai anak asuh.
"Pertama, rumah sakitnya sudah saya selesaikan. Seluruh biayanya."