Berita Kota Gorontalo
Taruna Remaja Food Court Gorontalo Sepi Pembeli, Dewi Ali sampai Gadai Motor dan HP demi Bertahan
Dewi Ali, pedagang di Taruna Remaja Food Court mengeluhkan sepinya pembeli.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dewi-Ali-pedagang-Taruna-Remaja-Food-Court.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Dewi Ali, pedagang di Taruna Remaja Food Court mengeluhkan sepinya pembeli.
Meski baru tiga bulan berjualan, Dewi merasakan dampak signifikan.
Demi mempertahankan usahanya, Dewi mengaku rela menggadaikan barang pribadi seperti sepeda motor dan gawai (handphone) miliknya.
"Yang jadi permasalahan kita ini adalah kurang pengunjung," kata Dewi saat ditemui TribunGorontalo.com, Kamis (29/5/2025).
Menurut Dewi, biaya sewa lapak di Taruna Remaja Food Court terbilang murah, yakni Rp 36 ribu.
Dewi sendiri menyewa dua lapak, sehingga biaya retribusi yang harus dibayarkan mencapai Rp 72 ribu.
Biaya itu di luar dari tagihan air dan listrik. Sehingga secara keseluruhan, uang yang harus Dewi keluarkan setiap hari mencapai Rp 117 ribu.
Namun pemasukan Dewi dan pedagang lain justru tidak sebanding dengan pengeluaran mereka.
Pengunjung yang minim menjadi masalah utama, dan hal ini telah terjadi selama berbulan-bulan.
Belum lama ini, Dewi mengaku telah menerima surat dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Gorontalo mengenai tunggakan retribusi lapak.
Surat itu berisi tuntutan terhadap para pedagang untuk segera melunasi retribusi kepada pemerintah.
"Batas waktu pelunasan tunggakan sampai dengan tanggal 31 Mei 2025. Apabila hingga tanggal tersebut belum dilakukan pelunasan maka dengan sangat terpaksa kami akan melakukan penutupan sementara tempat usaha, hingga kewajiban tersebut diselesaikan," kata Dewi sembari menunjukkan bukti surat yang diterimanya.
Dewi sendiri memiliki tunggakan lebih dari Rp 400 ribu.
Kondisi ini membuatnya tertekan. Pasalnya, pemasukan yang diperolehnya setiap hari tidak menentu.
Ia pun kesulitan untuk memenuhi biaya sewa harian.
"Maksud saya nanti kalau ada kelebihan nanti kami bayar," harapnya.
Kondisi ini membuat Dewi rindu masa di mana mereka berjualan di lapangan tenis. Kala itu, pembeli masih ramai.
Sekalipun kondisi hujan, para pelanggan tetap datang. Namun kini pembeli dapat dihitung dengan jari. Mereka kebanyakan berkunjung setelah salat isya.
Menurunnya jumlah pembeli memaksa Dewi untuk memberhentikan karyawannya karena ia tidak sanggup membayar gaji mereka.
"Saya ini sudah patah modal. Barang saya seperti HP dan motor suami saya sudah saya gadaikan untuk modal," bebernya.
Baca juga: Fakta-fakta Pengendara Tewas Dilindas Truk di Boalemo Gorontalo, Hartono Mopangga Gagal Manuver
Dewi juga kesulitan pindah tempat berjuala karena menurutnya hampir semua lokasi di Kota Gorontalo memiliki biaya sewa yang tinggi.
Dewi sudah belasan tahun berdagang di kawasan Taruna Remaja Gorontalo. Namun, tiga bulan terakhir sejak berganti nama Food Court menjadi masa tersulit yang pernah Dewi alami.
Ia menyebut pihak pengelola Food Court sempat menjanjikan akan digelar hiburan seperti live music untuk menarik pengunjung. Namun, hingga kini janji tersebut belum terealisasi.
"Jadi kami hanya minta keringanan biaya saja dan pemerintah pikirkan bagaimana tempat ini bisa ramai," tutur Dewi.
Kartin Kunu, Pedagang Food Court, juga mengeluhkan kondisi serupa.
Ia mengatakan minimnya pengunjung yang berdampak langsung pada pemasukan harian.
Menurutnya, setiap kali ada pembeli datang, para pedagang langsung berebut untuk menawarkan dagangan.
"Memang banyak pembeli yang protes tapi kami juga ini jarang sekali pelanggan yang datang," tutur Kartin.
Para pedagang kini hanya bisa berharap kepedulian pemerintah daerah guna memberikan solusi nyata.
Hingga kini, TribunGorontalo.com masih mencari informasi dan kebijakan dari Disparpora Kota Gorontalo terkait keluhan para pedagang Taruna Remaja Food Court.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.