Berita Haji Gorontalo
Seorang Anak di Gorontalo Korbankan Jatah Suami agar Sang Ibu Tuna Netra Bisa Naik Haji
Seorang wanita asal Kabupaten Gorontalo, Rusmiyati Kalsum (43), membuat keputusan mengharukan demi ibunya yang tuna netra.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/CALON-JAMAAH-HAJI-CJH-Disabilitas-Nurma-Haji-Ali-72.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Seorang wanita asal Kabupaten Gorontalo, Rusmiyati Kalsum (43), membuat keputusan mengharukan demi ibunya yang tuna netra.
Ia rela mengorbankan jatah haji suaminya agar sang ibu, Nurma H Ali (72), bisa menunaikan ibadah ke Tanah Suci tahun ini.
“Pihak Kemenag bilang harus memilih, mau memanggil suami atau ibu. Tanpa ragu, saya memilih ibu saya. Saya pikir beliau sudah tua, tidak bisa melihat, dan sangat ingin berhaji. Ini kesempatan langka,” ujar Rusmiyati saat ditemui sebelum keberangkatan.
Baca juga: Onato by Swiss18 Resmi Soft Opening, Suguhkan Kuliner dengan View Danau Perintis Bone Bolango
Keputusan itu memungkinkan Nurma, yang telah lebih dari 30 tahun hidup tanpa penglihatan, untuk bergabung dalam Kloter 30 Embarkasi Haji Antara (EHA) Gorontalo tahun 1446 H / 2025 M.
Nurma sendiri tak bisa melihat Ka'bah secara fisik. Namun, ia percaya bahwa kehadiran dan hati yang tulus sudah cukup untuk merasakan kemuliaan rumah Allah.
“Banyak yang bisa melihat Ka'bah, tapi belum tentu bisa merasakannya seperti saya. Saya ingin sekali melihat Ka'bah lewat hati saya,” ucap Nurma, haru.
Namun perjalanan mereka menuju Tanah Suci tak semudah kelihatannya.
Selain persoalan administrasi, kondisi kesehatan Nurma sempat menjadi kendala.
Lansia ini memiliki riwayat hipertensi, diabetes, dan gangguan lambung, yang membuatnya harus menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan secara intensif.
“Kami kontrol terus, konsultasi ke dokter, dan alhamdulillah hasilnya keluar meski agak lambat,” tutur Rusmiyati penuh syukur.
Saat tahu akan berangkat haji, Nurma sempat dilanda ketakutan. Namun, dorongan dari sang anak menjadi semangat utama.
“Waktu tahu mau berangkat, beliau senang tapi juga takut,” kenang Rusmiyati.
Meski telah lama menjadi janda, Nurma tetap memupuk harapan untuk bisa ke Makkah.
Sejak 2019, anaknya telah berusaha mendaftarkannya berhaji secara mandiri, namun tertunda karena keterbatasan biaya keluarga.
Kini, lewat pengorbanan dan bakti seorang anak, langkah Nurma menuju Tanah Suci akhirnya terwujud.
Ia berharap bisa menunaikan rukun Islam kelima dengan baik.
“Semoga di Tanah Suci saya diberi kesehatan dan kemudahan untuk menunaikan ibadah haji dengan baik dan benar,” harapnya. (*/Jian)