Rabu, 4 Maret 2026

Video Tribun Gorontalo

VIDEO: Keterangan Lengkap Lukman Latili Nelayan Gorontalo yang Bertahan 8 Bulan di Lautan

Lukman Latili, seorang pelaut berusia 63 tahun dari Desa Timbuwolo Timur, Kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, mengisahkan pengala

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba

TRIBUNGORONTALO.COM, VIDEO -- Lukman Latili, seorang pelaut berusia 63 tahun dari Desa Timbuwolo Timur, Kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, mengisahkan pengalaman hidupnya yang mencengangkan.

Terkatung-katung di tengah samudra selama berbulan-bulan, ia menjadi saksi bisu keganasan laut, dan lebih dari itu, mengalami kejadian-kejadian di luar nalar.

Pada tanggal 13 Juli 2024, saat menjaga rakitnya di perairan Pinolosian, Sulawesi Utara, petaka menghampiri.

Tali utama yang menambatkan rakitnya terputus, menyeretnya ke luasnya lautan tanpa kendali.

"Saya sadar saat melihat semua tali rakit mengapung, pertanda sudah jauh terbawa arus," kenang Lukman pada TribunGorontalo.com, Kamis (15/5/2025).

Pencarian oleh Pol Airud tak membuahkan hasil. Komunikasi pun lenyap ditelan jarak.

Rakit yang biasanya menjadi rumah terapungnya selama berbulan-bulan kini berubah menjadi penjara sunyi.

Dengan sisa perbekalan, Lukman berjuang lebih dari sebulan, menyantap bubur pagi dan malam.

Ketika bekal menipis, ia mencoba meraup rezeki dari laut dengan alat sederhana, namun seringkali kelaparan menghantuinya hingga berhari-hari.

"Lima hari lima malam tanpa setetes makanan," ucapnya lirih. 

Bahkan, saat kayu bakar rakitnya habis, ikan mentah pun terpaksa ia telan, itupun jika berhasil menangkap. Jika tidak, air mata dan doa menjadi santapannya.

Badai dan ombak raksasa pun tak henti menguji ketahanan rakitnya dan nyawanya. Di tengah ancaman maut, hanya kepasrahan kepada Sang Khalik yang tersisa.

Dalam kesepian dan putus asa, Lukman tak pernah berhenti merapal doa, bahkan ketika harapan terasa sirna dan ia sempat mempertanyakan keadilan Ilahi.

"Saya memohon, 'Ya Allah, jemputlah aku. Sudah tak berdaya lagi,'" tuturnya dengan wajah memerah.

Niat untuk mengakhiri hidup sempat terlintas, namun urung berkat penggalan kalimat dalam buku pemberian anaknya tentang nasib tragis pelaku bunuh diri di akhirat. Buku itu menjadi teman setianya di tengah lautan.

Keanehan mulai menyelimuti hari-harinya. Di tengah laut yang hampa, ia mengaku tiga kali mencium aroma asap rokok, yang ia tafsirkan sebagai pertanda doa arwah dari keluarganya di daratan.

Suatu malam, suara mendiang istrinya seolah hadir, membisikkan semangat untuk tidak menyerah. Tak lama kemudian, secercah cahaya terang muncul di atas rakitnya, sebuah pertanda keajaiban tengah mendekat.

"Katanya, ajalku belum tiba. Aku akan selamat," ingat Lukman.

Doa yang dipanjatkannya akhirnya dikabulkan. Di suatu malam pada bulan Maret 2025, sebuah kapal penangkap ikan milik perusahaan Tuna Indo Prima melintas tak jauh dari rakitnya.

Awak kapal melihatnya dan segera mendekat. Lukman yang telah kurus kering segera diberi makan dan pertolongan pertama.

Ia menumpang kapal itu selama seminggu sebelum menginjakkan kaki di daratan Bitung, Sulawesi Utara, dan akhirnya kembali ke kampung halamannya di Gorontalo.

Kini, setelah delapan bulan mengarungi ombak tanpa tujuan, kondisi fisik Lukman sangat lemah.

Ia kesulitan berjalan, persendiannya terasa kaku akibat terlalu lama berada di atas rakit.

Pemulihan terus ia jalani dengan bantuan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo. Meski raga belum sepenuhnya pulih, semangatnya untuk kembali mencari rezeki di laut tak pernah padam.

 "Saya masih ingin bekerja, hanya butuh bantuan perahu dan alat tangkap," harapnya dengan tulus.

Putra Lukman, Andri Latili, mengaku tak pernah kehilangan harapan. Meski sempat dilanda kekhawatiran saat ayahnya tak kunjung kembali, ia tetap yakin ayahnya masih bernyawa, bahkan sempat bermimpi bertemu dan berbicara dengannya.

Meski keluarga telah menggelar doa arwah, di lubuk hatinya, Andri tetap percaya. Kabar penyelamatan Lukman akhirnya tiba di pertengahan Ramadhan 2025 melalui sebuah video yang beredar di WhatsApp, disambut tangis haru keluarga dan seluruh warga desa yang telah menganggapnya hilang selamanya.

Kisah Lukman Latili melampaui sekadar cerita tentang seorang nelayan yang tersesat. Ini adalah narasi tentang harapan yang tak lekang, doa yang tak pernah putus, dan mukjizat yang hadir di saat genting.

Dalam kesunyian lautan, Lukman membuktikan bahwa hidup adalah perjuangan tanpa akhir, dan bahkan di saat tubuh remuk dan hati nyaris menyerah, pertolongan Ilahi seringkali datang dalam bentuk yang tak terduga.

Kini, ia menjadi simbol keteguhan dan asa di tengah kerasnya gelombang kehidupan. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved