Pemusnahan Amunisi di Garut
Sosok 4 Anggota TNI yang Gugur Dalam Insiden Ledakan Pemusnahan Amunisi di Pantai Cibalong Garut
Dalam kejadian empat anggota TNI gugur dalam insiden ini. Informasi yang diterima menyebutkan bahwa jenazah para korban telah dievakuasi.
Penulis: Redaksi | Editor: Minarti Mansombo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/4-TNI-Gugur-dalam-Ledakan-Amunisi.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM-Sebanyak 13 orang yang tewas dalam insiden ledakan saat proses pemusnahan amunisi kedaluwarsa di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Senin (12/5/2025).
Dalam kejadian empat anggota TNI gugur dalam insiden ini. Informasi yang diterima menyebutkan bahwa jenazah para korban telah dievakuasi menggunakan mobil ambulans.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadspenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menjelaskan bahwa kronologi awal ledakan yang disebabkan meledaknya detonator dalam peristiwa pemusnahan amunisi di Garut.
Wahyu menjelaskan, semua itu berawal dari digelarnya kegiatan pemusnahan amunisi yang dilakukan Jajan Gudang Pusat Amunisi III Pusat Perawatan TNI AD.
"Pada awal kegiatan secara prosedur telah dilaksanakan pengecekan terhadap personel maupun yang berkaitan dengan lokasi peledakan dan semuanya dinyatakan dalam keadaan aman," ungkapnya dalam keterangan pers.
Baca juga: Aditya Arya Pratama Anak Petani Kampung Beong Sulut Lulus TNI AL, Sempat 4 Kali Gagal
Setelah itu, personel membuat dua lubang sumur untuk amunisi milik TNI AD yang akan dimusnahkan.
Setelah lubang tersebut dibuat kemudian dimasukkan amunisi yang akan dimusnahkan, lubang tersebut lalu diledakan oleh personel TNI AD menggunakan detonator.
"Peledakan di dua sumur ini berjalan dengan sempurna dalam kondisi aman," kata Wahyu.
Detonator itu dimasukkan ke dalam lubang, lanjut Wahyu, untuk dimusnahkan dengan cara yang sama dengan perusahan amunisi sebelumnya.
"Saat tim penyusun amunisi menyusun detonator di dalam lubang tersebut secara tiba-tiba terjadi ledakan dari dalam lubang, unjar Wahyu.
Ledakan tersebut menyebabkan 13 orang meninggal dunia, termasuk Kolonel Cpl Antonius Hermawan dan Mayor Cpl Anda Rohanda.
Lantas bagaimana sosok empat TNI yang gugur dalam insiden ledakan pemusnahan amunisi.
Sosok Mayor Cpl Anda Rohanda
Perwira TNI Mayor Cpl Anda Rohanda perwira menjadi korban tewas ledakan pemusnahan amunisi di Garut.
Mayor Cpl Anda Rohanda adalah Preman aktif di TNI Angkatan Darat (AD).
Jabatan Mayor Cpl Anda Rohanda di TNI yakni sebagai Kepala Seksi Administrasi Pergudangan Gudang Pusat Amunisi 3 Pusat Peralatan TNI AD.
Sebagai prajurit yang berasal dari Korps Peralatan (CPL), Mayor Anda Rohanda memiliki tugas untuk memelihara dan menguji coba alat-alat tempur TNI Angkatan Darat.
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni Bitung - Ambon Mei 2025: Cek Tiket KM Tatamailau dan KM Nggapulu
Selain itu, Mayor Cpl Anda Rohanda juga bertanggung jawab untuk memastikan material dan peralatan militer tetap siap pakai.
Sementara itu, tiga anggota TNI lain yang tewas juga bertuga di Gupusmu III Puspalad.
Mereka adalah Kepala Gudang Pusat Amunisi 3 Pusat Peralatan TNI AD Kolonel Cpl Antonius Hermawan, Kopda Eri Priambodo, dan Pratu Aprio Setiawan.
Sementara itu sembilan warga sipil yang tewas yakni Agus, Ipan, Anwar, Iyus, Iyusrizal, Toto, Rusdiawan, Dadang, dan Endang.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menjelaskan bahwa ledakan amunisi Garut ini terjadi di salah satu lubang amunisi afkir atau tidak layak pakai.
Wahyu berujar jajaran Gudang Pusat Amunisi dan Pusat Peralatan TNI Angkatan Darat awalnya telah melakukan pengecekan prosedur dan lokasi.
"Pada awal kegiatan secara prosedur telah dilaksanakan pengecekan terhadap personel maupun yang berkaitan dengan lokasi peledakan dan semuanya dinyatakan dalam keadaan aman," kata Wahyu, dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV, Senin.
Tim penyusun amunisi dari TNI AD lalu melakukan persiapan pemusnahan di dalam dua lubang sumur yang disiapkan sebelumnya.
Kemudian, tim penyusun amunisi ke pos masing-masing untuk melaksanakan pengamanan.
Wahyu mengatakan peledakan amunisi afkir di dua lubang sumur tersebut berhasil dilakukan.
Lalu, terdapat satu lubang sumur lain yang peruntukannya untuk menghancurkan detonator.
Termasuk sisa detonator yang ada berkaitan dengan amunisi tidak layak pakai tersebut.
"Saat tim penyusun amunisi menyusun detonator di dalam lubang tersebut, secara tiba-tiba terjadi ledakan dari dalam lubang yang mengakibatkan 13 orang meninggal dunia," kata dia.
Sosok Kolonel Antonius Hermawan
Kolonel Cpl Antonius Hermawan menjadi salah satu personel TNI AD yang meninggal dalam peristiwa meledaknya amunisi milik TNI AD di Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat pukul 09.30 WIB.
Baca juga: 10.000 Karyawan Panasonic di PHK Karena Penjualan Turun Drastis, Bagaimana Nasib Pekerja?
Kolonel Antonius bersama tiga personel TNI AD lainnya meninggal ketika ingin meledakan detonator milik TNI AD.
Kolonel Antonius merupakan Kepala Cabang Puspalad, dia juga merupakan alumni Akademi Militer (Akmil) tahun 1997.
Sebelum menjabat sebagai kepala gudang, Antonius sempat menempati beberapa jabatan seperti Kapaldam XVI/Pattimura saat bertugas di Maluku pada 2022.
Antonius Herman juga sempat menjabat sebagai Kasubbag Pampersmat Bagpam Roum Setjen.
Sosok Pratu Afrio Setiawan
Pratu Afrio Setiawan, menjadi korban dalam tewasnya dalam insiden pemusnahan.
Sosok Pratu Afrio Setiawan merupakan prajurit TNI asal Sulawesi Utara yang turut bertugas dalam kegiatan pemusnahan amunisi tersebut.
Ia tercatat sebagai salah satu dari empat anggota TNI yang meninggal dunia dalam tragedi itu, bersama sembilan korban sipil lainnya.
Total korban jiwa dalam peristiwa ini 13 orang.
Kepala Desa Mopuya Satu, Susanto, membenarkan kabar duka tersebut ketika dihubungi oleh Tribun Manado.
"Iya anggota TNI tersebut bernama Pratu Afrio Setiawan beliau memang warga saya," ucapnya.
Jenazah almarhum rencananya akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Mongkonai, Kota Kotamobagu.
"Dari informasi akan dikebumikan di TMP Mongkonai di Kotamobagu," ucap Susanto.
Kepala desa juga menyampaikan bahwa jenazah Pratu Afrio Setiawan dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado pada pagi hari, Selasa (13/5/2025).
"Infonya besok pagi jenazahnya tiba di bandara Manado," tambahnya.
Suasana duka sudah mulai terasa di rumah almarhum di Desa Mopuya Satu.
Keluarga besar, kerabat, dan warga sekitar telah berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir.
"Di rumah duka sudah banyak yang datang melayat, saat ini juga sedang ada ibadah di rumah duka," jelas Susanto.
Koptu Eri, personel Gudang Pusmun III Puspalad
Koptu Eri menjadi anggota Gupusmu III Puspalad merupakan anggota TNI AD yang juga gugur dalam insiden tersebut.
Dalam kejadian selain menyebabkan gugurnya 4 TNI juga menewaskan 9 orang warga sipil yang terkena ledakan amunisi dalam kegiatan pemusnahan bom atau amunisi tak layak pakai.
saat ini semua korban meninggal dunia telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pameungpeuk untuk dilakukan tindakan selanjutnya.
TNI AD menyampaikan belasungkawa dan duka cita mendalam terhadap korban dalam kejadian insiden ledakan ini.
"Tentunya mewakili TNI Angkatan Darat saya awali penjelasan ini dengan ungkapan duka cita yang mendalam bagi para korban. Baik yang berasal dari TNI Angkatan Darat maupun masyarakat sipil," ujar Wahyu.
Baca juga: Terungkap Motif Tahanan yang Kabur di PN Jakarta Utara, Ternyata Temui Sang Pacar
Adapun nama-nama korban yang meninggal dalam insiden ledakan di Garut:
- Kolonel Cpl Antonius Hermawan, ST., MM.
- Mayor Cpl Anda Rohanda
- Kopda Eri Priambodo
- Pratu Apriyo Hermawan
- Sdr. Agus Bin Kasmin.
- Sdr. Ipan Bin Obur.
- Anwar Bin Inon.
- Sdr. Iyus Ibing Bin Inon.
- Sdr. Iyus Rizal Bin Saepuloh.
- Sdr. Toto
- Sdr. Dadang.
- Sdr. Rustiawan.
- Sdr. Endang. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.