Minggu, 8 Maret 2026

Paus Terpilih Vatikan

Kardinal Robert Prevost Terpilih Sebagai Paus Baru Asal Amerika dengan Nama Leo XIV

Kardinal Robert Prevos secara tak terduga terpilih menjadi pemimpin baru Gereja Katolik pada Kamis (9/5/2025). 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Kardinal Robert Prevost Terpilih Sebagai Paus Baru Asal Amerika dengan Nama Leo XIV
OSV News/Reuters/Yara Nard
PAUS BARU TERPILIH - Terpilihnya Kardinal Robert Prevost sebagai Paus Leo XIV menjadi babak baru dalam sejarah Gereja Katolik, menghadirkan harapan dan tantangan di tengah dinamika global yang terus berubah. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Kardinal Robert Prevos secara tak terduga terpilih menjadi pemimpin baru Gereja Katolik pada Kamis (9/5/2025). 

Ia mencatatkan sejarah sebagai Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat dan memilih nama kepausan Leo XIV.

Robert adalah seorang misionaris kawakan yang lama berkarya di Amerika Latin.

Ia terpilih setelah penantian yang menegangkan dan kepulan asap putih yang dinanti-nantikan membumbung dari cerobong Kapel Sistina.

Asap menandakan bahwa 133 kardinal elektor telah mencapai kata sepakat memilih pengganti Paus Fransiskus yang wafat bulan lalu.

Setelah kepulan asap putih itu, Paus Leo XIV akhirnya muncul di balkon utama Basilika Santo Petrus.

Dengan senyum ramah, Paus Leo XIV menyapa kerumunan puluhan ribu orang yang bersorak gembira dengan ucapan "Damai besertamu" dalam bahasa Italia yang fasih.

Ia juga menyampaikan sapaan singkat dalam bahasa Spanyol, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun dalam bahasa Inggris pada penampilan perdananya sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik.

Robert Prevost, yang kini berusia 69 tahun dan berasal dari Chicago, menghabiskan sebagian besar karirnya sebagai misionaris di Peru, bahkan memiliki kewarganegaraan ganda Peru.

Ia baru diangkat menjadi kardinal pada tahun 2023. Dikenal sebagai sosok yang pemalu dan jarang berinteraksi dengan media.

Karena itu, terpilihnya Prevost menjadi kejutan besar bagi banyak pihak.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan sigap menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Paus pertama dari negaranya ini.

"Sungguh menggembirakan, dan suatu Kehormatan Besar bagi Negara kita. Saya menantikan untuk bertemu Paus Leo XIV. Ini akan menjadi momen yang sangat berarti!" tulis Trump melalui platform media sosialnya.

Namun, catatan lama menunjukkan bahwa Paus baru ini pernah melontarkan kritik terhadap kebijakan Trump dan Wakil Presiden JD Vance melalui unggahan di akun X (Twitter) pribadinya, yang kini menjadi sorotan.

Massimo Faggioli, seorang akademisi Italia yang dikenal mengikuti perkembangan kepausan dengan seksama, menduga bahwa tensi politik kepresidenan Trump mungkin secara paradoks mempengaruhi para kardinal untuk memilih seorang Paus dari AS yang dinilai mampu memberikan respons langsung terhadap presiden tersebut.

"Gejolak internasional dari retorika kepresidenan Trump, secara paradoks, memungkinkan hal yang mustahil terjadi," kata Faggioli, seorang profesor di Universitas Villanova, AS.

"Trump telah melanggar banyak tabu, dan konklaf sekarang melakukan hal yang sama – dalam kunci yang sangat berbeda."

Pujian dari Peru

Penunjukan Kardinal Prevost sebagai Paus Leo XIV juga disambut baik oleh Presiden Peru Dina Boluarte.

"Kedekatannya dengan mereka yang paling membutuhkan meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di hati rakyat Peru," tulis kantor kepresidenan Peru melalui akun X resmi mereka.

Prevost menjadi Paus Katolik ke-267, menggantikan Paus Fransiskus, Paus pertama dari Amerika Latin yang memimpin selama 12 tahun.

Fransiskus dikenal luas atas upayanya membuka institusi konservatif ini pada dunia modern, memberlakukan berbagai reformasi, dan mengizinkan perdebatan tentang isu-isu sensitif seperti penahbisan wanita dan inklusi yang lebih baik bagi umat Katolik LGBT.

Dalam pidato pertamanya, Paus Leo XIV menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Paus Fransiskus dan mengulangi seruan pendahulunya untuk Gereja yang terlibat dengan dunia modern dan "selalu mencari perdamaian, amal, dan dekat dengan orang-orang, terutama mereka yang menderita".

Namanya sendiri tidak termasuk dalam daftar kandidat terkuat yang beredar sebelum konklaf.

Bahkan, sempat terjadi momen singkat kebingungan ketika namanya diumumkan di Lapangan Santo Petrus yang dipenuhi lautan manusia, sebelum akhirnya riuh tepuk tangan dan sorak sorai membahana.

"Saya sangat gembira. Saya harap ini dapat membawa komunitas yang lebih penuh kasih ke Amerika. Saya pikir ada banyak kebencian di Amerika. Saya pikir ada banyak rasisme. Saya telah mengalaminya," ujar Lailah Brown, 28 tahun, seorang wanita Afrika-Amerika dari Seattle, mengungkapkan harapannya.

"Saya harap Amerika tidak mempermalukan Paus," tambahnya.

Berbeda dengan Paus Fransiskus yang menolak banyak atribut kepausan sejak terpilih pada tahun 2013, Paus Leo XIV terlihat mengenakan pakaian kepausan merah tradisional di atas kasok putihnya saat pertama kali muncul di hadapan publik sebagai pemimpin baru Gereja Katolik.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved