Badut Gorontalo
80 Persen Badut di Lampu Merah Bukan Warga Kota Gorontalo, Terungkap Sewa Kostum & Eksploitasi Anak
Terungkap fakta-fakta mengejutkan di balik senyum kostum warna-warni badut jalanan di Kota Gorontalo.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ARSIP-FOTO-Seorang-badut-berdiri-di-bibir-jalan-mengiba-diri-ke-para-pengendara.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Kota Gorontalo - Terungkap fakta-fakta mengejutkan di balik senyum kostum warna-warni badut jalanan di Kota Gorontalo.
Pemerintah Kota Gorontalo melalui Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat kini tengah melakukan penertiban terhadap keberadaan para badut liar ini.
Para badut dinilai membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya. Hal itu berdasarkan operasi yang baru-baru ini dilakukan.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Perlindungan dan Jaminan Sosial (Rehsos dan Limjamsos) Dinas Sosial Kota Gorontalo, Herson Tahir, menegaskan bahwa tindakan ini semata-mata demi keamanan dan ketertiban ruang publik.
"Bukan kita tidak suka dengan mereka. Mereka ini identik dengan hiburan. Yang salah adalah mereka melakukan itu di tempat-tempat yang tidak semestinya," ujar Herson, Kamis (8/5/2025).
Hasil penelusuran tim Dinas Sosial mengungkap fakta mencengangkan, sekitar 80 persen badut yang beroperasi di Kota Gorontalo ternyata bukan warga kota.
Sebagian besar dari mereka berasal dari Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo.
"Kami belum menemukan indikasi bahwa mereka bekerja di bawah satu sistem manajemen. Mereka beroperasi secara mandiri," lanjut Herson.
Meskipun sempat terorganisir di awal kemunculannya saat belum memiliki kostum sendiri, kini banyak dari mereka yang telah memiliki hingga dua kostum pribadi.
Fakta lain yang ditemukan di lapangan adalah praktik penyewaan kostum badut dengan tarif Rp20-25 ribu per hari dari individu tertentu.
Lebih mengkhawatirkan, banyak dari para badut ini tidak membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP), menyulitkan proses identifikasi resmi.
Namun, petugas berhasil mengidentifikasi asal daerah mereka melalui dialek dan logat bicara.
Pekerja Sosial Dinas Sosial Kota Gorontalo, Iin Wahyuni Latif, menambahkan bahwa timnya juga menemukan adanya pergantian orang yang kerap terjadi di beberapa titik lokasi aktivitas badut.
Hal ini mengindikasikan tingginya mobilitas dan ketidakpermanenan pelaku di satu tempat.
"Jadi di beberapa titik, badut-badut ini sering gantian," jelas Iin.
Temuan yang paling mengejutkan dan memprihatinkan adalah ditemukannya manusia silver yang dipekerjakan ibu mereka.
Praktik eksploitasi anak ini langsung ditindak tegas oleh Dinas Sosial dengan memberikan edukasi kepada orang tua yang bersangkutan.
"Kami sampaikan ke ibu itu, kalau anak ini tidak mendapatkan hak dasarnya seperti sekolah, ibu bisa kena pasal," tegas Herson.
Untuk menertibkan fenomena ini, Dinas Sosial Kota Gorontalo telah membentuk dua tim yang bergerak di wilayah selatan dan utara kota.
Tim ini akan terus melakukan penjangkauan hingga batas waktu yang telah ditentukan.
Jika para badut tetap beroperasi di lokasi terlarang setelah diberikan edukasi, tindakan lanjutan akan diambil oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Pemerintah Kota Gorontalo sebenarnya masih memberikan ruang bagi para badut untuk mencari nafkah, asalkan dilakukan di lokasi-lokasi yang telah ditetapkan, seperti Taman Kota, Taruna Remaja, dan kawasan kuliner Kalimadu. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.