Berita Viral
Miris, Siswi di Sekolah Swasta Banten Diduga Jadi Korban Pelecehan Seksual oleh Senior
Ibu korban, D (37) mengatakan, anaknya diduga telah dilecehkan seniornya sejak bulan Oktober 2024 lalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Seorang-petugas-Damkar-Gorontalo-diduga-melecehkan-anak.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM-Tindakan kekerasan seksual terhadap perempuan semakin marak.
Pasalnya diketahui seorang siswi inisial C di Tangseran Selatan, Banten diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh kaka kelasnya.
Kasus dugaan pelecehan siswi tersebut menyita perhatian warganet. C saat ini tengah duduk di bangku kelas 10.
Sedangkan terduga pelaku duduk dibangku kelas 12 berinisial S.
Ibu korban, D (37) mengatakan, anaknya diduga telah dilecehkan seniornya sejak bulan Oktober 2024 lalu.
"Untuk kejadiannya sebenarnya sudah lama, dari Oktober November 2024. Dan saya tidak tahu sama sekali, anak saya mendapatkan perlakuan pelecehan, beserta temannya dan yang lainnya," kata D di Polres Tangerang Selatan, Serpong, dikutip Rabu (7/5/2025).
Baca juga: Kondisi Terkini Ketua LSM Gorontalo Amin Suleman usai Dikeroyok 4 Orang: Mulai Membaik
Dewi menjelaskan bahwa awal mula kecurigaan muncul saat pengambilan rapor anaknya.
“Awalnya saya ambil rapor anak saya pagi, dan kaget karena nilainya turun drastis. Itu tidak seperti biasanya,” kata D.
Ia kemudian menyampaikan hal tersebut kepada suaminya, yang langsung menegur anak mereka. Namun, anaknya saat itu masih belum mau mengaku.
“Dari pagi sampai jam 11 malam, kami desak terus. Karena kami sudah merasa ada yang tidak beres. Apalagi beberapa hari ini, dia cuma mengurung diri di kamar, padahal biasanya aktif baca buku,” lanjutnya.
Setelah didesak, korban akhirnya mengaku bahwa dirinya mengalami pelecehan dari seniornya di sekolah.
Dewi mencoba menghubungi pihak sekolah, namun merasa kecewa karena tidak ada informasi yang diberikan sejak awal.
“Tidak ada satupun pihak sekolah yang menghubungi saya sebagai orang tua. Akhirnya hari Senin saya inisiatif datang ke sekolah. Saya telepon wali kelas, tapi dia cuma bilang tugasnya mendampingi korban,” kata Dewi.
Pihaknya kemudian meminta pertemuan resmi dengan pihak sekolah, termasuk kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru BK, dan wali kelas. Pertemuan telah digelar, namun orang tua korban masih menunggu tindakan nyata.
“Sampai sekarang, sudah satu minggu lebih, kami belum dihubungi lagi. Kami masih menunggu keputusan dari sekolah,” tegas Dewi.