Berita Kabupaten Boalemo
Baru 3 Bulan Lalu Dibersihkan, Kawasan Hutan Mangrove Boalemo Gorontalo Kembali Dipenuhi Sampah
Tumpukan sampah kembali mencemari kawasan hutan lindung mangrove di Desa Pentadu Timur, Kecamatan Tilamuta
Penulis: Nawir Islim | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sampah-di-hutan-mangrove.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Tumpukan sampah kembali mencemari kawasan hutan lindung mangrove di Desa Pentadu Timur, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo.
Kondisi ini memicu kekecewaan warga, mengingat lokasi ini baru saja dibersihkan tiga bulan lalu dalam aksi gotong royong.
Sampah-sampah berupa plastik, botol bekas, styrofoam, hingga limbah rumah tangga berserakan di antara akar-akar mangrove.
Padahal, kawasan ini dikenal sebagai zona konservasi, di mana mangrove menjadi pencegah abrasi.
Ironisnya, titik pembuangan liar itu terletak tidak jauh dari tempat pelelangan ikan (TPI) dan pelabuhan Tilamuta.
Dua lokasi ini setiap hari dipadati warga, nelayan, dan pedagang dari berbagai daerah yang melakukan aktivitas bongkar muat dan transaksi jual beli hasil tangkapan laut.
Menurut Rahman Pakaya, warga Pentadu Timur, keberadaan sampah ini bukan sepenuhnya berasal dari masyarakat lokal.
Sebagian besar diduga dibuang oleh orang luar yang beraktivitas di pelabuhan dan TPI, tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
“Malu kita, padahal waktu itu semua warga turun bersih-bersih. Tapi sekarang lihat sendiri, kayak belum pernah disentuh. Kita capek bersih-bersih, orang lain buang seenaknya,” keluh Rahman saat ditemui Minggu (20/4/2025).
Baca juga: BREAKING NEWS: Remaja 13 Tahun Tewas usai Kecelakaan di Jalan By Pass Bone Bolango Gorontalo
Sebelumnya, kata Rahman, kawasan mangrove ini pernah dijadikan lokasi edukasi lingkungan untuk anak-anak sekolah.
Namun kini lingkungannya berbau tak sedap sehingga siapa pun takkan nyaman berlama-lama di tempat tersebut.
Pendapat serupa dilontarkan oleh Sitti Djalumang Pakaya.
Ia menyebut warga lokal justru rajin melakukan pembersihan secara berkala meski sampah terus berdatangan.
“Kami sering bersihkan, terutama kalau sudah terlalu parah. Tapi ya percuma juga kalau dari luar tetap seenaknya buang sampah. Harus ada sanksi atau pengawasan lebih tegas,” ujar Sitti.
Baca juga: BREAKING NEWS: Remaja 13 Tahun Tewas usai Kecelakaan di Jalan By Pass Bone Bolango Gorontalo
Tanggapan DLH
Kepala DLH, Roswita S. Manto, mengonfirmasi bahwa kawasan tersebut memang sudah dibersihkan sekitar lima bulan lalu dalam program lingkungan terpadu.
“Kita sudah bersihkan lima bulan lalu, bahkan dengan melibatkan komunitas, pelajar, dan warga. Tapi memang masalah utama adalah kesadaran. Kalau masyarakat masih anggap remeh buang sampah sembarangan, ya begini lagi jadinya,” kata Roswita.
Ia menambahkan, pihaknya tengah menyusun langkah lanjutan untuk mengatasi persoalan sampah.
DLH Boalemo menyediakan tempat sampah tambahan di sekitar pelabuhan dan TPI, serta memasang papan larangan buang sampah.
“Kita juga akan dorong peran aktif pemerintah desa, aparat pelabuhan, dan pengelola TPI. Harus ada sistem bersama, karena kalau dibiarkan, kawasan lindung ini bisa rusak total,” ujarnya.
Roswita menekankan bahwa pelestarian kawasan mangrove tidak hanya tanggung jawab pemerintah tapi seluruh elemen masyarakat.
Ia berharap warga maupun pengunjung lebih peduli terhadap keberlangsungan lingkungan.
Selain sebagai benteng alami dari abrasi, hutan mangrove juga berperan penting sebagai habitat bagi berbagai biota laut. Termasuk kepiting bakau dan ikan kecil yang menjadi sumber penghidupan nelayan.
“Kalau rusak, bukan hanya lingkungan yang rugi, nelayan juga terdampak. Ikan makin sedikit, tangkapan menurun. Jadi ini urusan bersama, bukan hanya soal kebersihan tapi soal kelangsungan hidup,” jelasnya.
Saat ini warga berharap ada tindakan nyata dari pemerintah daerah, termasuk pengawasan yang lebih rutin dan edukasi lingkungan di sekolah serta komunitas nelayan.
Mereka tak ingin kawasan yang indah ini terus menerus menjadi tempat pembuangan akhir.
Jika tak ada perubahan dalam pola pikir masyarakat, bukan tidak mungkin kawasan hutan mangrove di Pentadu Timur akan kehilangan fungsinya sebagai pelindung dan penyokong kehidupan masyarakat pesisir Boalemo.
(TribunGorontalo.com/Nawir Islim)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.