Tumbilotohe Gorontalo
Festival Pawai Obor dan Kokoo Perdana di Bone Bolango di Malam Tumbilotohe
Festival ini diinisiasi oleh gabungan remaja masjid dari Desa Toto Selatan dan Poowo Barat, dengan melibatkan Masjid Al-Maghfirah, Masjid Nurul Islam,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ratusan-anak-anak-Bone-Bolango-mengikuti-pawai-obor.jpg)
Penulis: Moh Ziad Adam, Mahasiswa Magang
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Ribuan warga dari 12 desa di Kecamatan Kabila memeriahkan Festival Pawai Obor dan Kokoo yang digelar pada Rabu, 26 Maret 2025.
Acara ini menjadi bagian dari perayaan Malam Tumbilotohe, tradisi khas Gorontalo menjelang Lailatul Qadar.
Festival ini diinisiasi oleh gabungan remaja masjid dari Desa Toto Selatan dan Poowo Barat, dengan melibatkan Masjid Al-Maghfirah, Masjid Nurul Islam, Masjid Al-Kautsar, dan Masjid Al-Azhar.
Selain itu, komunitas Kokoo dari Oluhuta yang diketuai oleh Riyaldi Tuliyabu turut serta dalam penyelenggaraan acara.
Ketua Panitia, Zubaedi Umar, menjelaskan bahwa festival ini bertujuan untuk melestarikan budaya lokal sekaligus memperingati malam yang penuh berkah.
"Meskipun ini pertama kali diadakan di Bone Bolango, kami berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan dalam menyambut malam Lailatul Qadar," ujarnya pada Senin (24/03/2025).
Pemerintah Dukung Penuh Festival Budaya
Acara diawali dengan pembacaan doa dan seremoni pembukaan yang dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Bone Bolango.
Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, serta desa juga hadir untuk memberikan dukungan penuh terhadap jalannya festival ini.
Rangkaian pawai dimulai setelah salat tarawih dari Rumah Tiang milik Ismet Mile dan berakhir di Center Point.
Lebih dari 1.000 peserta dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk komunitas lokal dan pelajar SDN 12, 13, dan 14 Kabila, turut serta dalam festival ini.
Jaminan Keamanan dan Harapan Ke Depan
Demi kelancaran dan keamanan acara, panitia bekerja sama dengan pihak kepolisian, Dinas Perhubungan, serta Satpol PP Bone Bolango.
Kehadiran aparat bertujuan memastikan bahwa festival berlangsung tertib dan aman.
Ketua panitia, Zubaedi Umar, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam suksesnya festival ini.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Bone Bolango, Sekda, serta seluruh jajaran pemerintah kabupaten yang telah mendukung terselenggaranya festival ini. Semoga Pawai Obor dan Kokoo dapat menjadi tradisi tahunan di Bone Bolango," tuturnya.
Dengan suksesnya penyelenggaraan perdana ini, masyarakat berharap Festival Pawai Obor dan Kokoo dapat terus berkembang menjadi bagian dari identitas budaya Bone Bolango di tahun-tahun mendatang.
Curhat Penjual Lampu Botol
Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo selalu dinanti warga, namun bagi para pedagang lampu botol, momen ini tak selalu menjanjikan keuntungan besar.
Nonce Abuada (55), salah satu penjual lampu botol di Jalan Jaksa Agung Suprapto No 9, berbagi kisah tentang usahanya yang bertahan di tengah persaingan.
Sejak pagi, Nonce duduk menanti pembeli.
Di hadapannya, puluhan botol kaca tersusun rapi, sudah dilengkapi sumbu dan siap digunakan.
Namun, hingga hari pertama berjualan, penjualannya masih sepi.
“Kalau dari hari Senin masih sedikit yang beli,” ujar Nonce sambil membenahi botol-botol dagangannya.
Ia memperkirakan pembeli baru akan ramai menjelang dua hari sebelum malam puncak Tumbilotohe.
Meskipun pendapatannya tidak selalu besar, Nonce tetap bertahan.
Ia mengaku sehari hanya memperoleh sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu.
Namun, saat mendekati malam pasang lampu, penjualannya bisa meningkat.
“Biasanya kalau sudah dekat malam pasang lampu, pasti lebih ramai, insyaAllah,” tuturnya.
Lampu botol yang dijual Nonce adalah hasil buatan sendiri, dibantu oleh suaminya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.