Penembakan Polisi di Way Kanan
Jawaban TNI soal Isu Setoran di Insiden Baku Tembak TNI dan Polisi di Arena Judi Ayam
Terkait hubungan pertemanan ini dibenarkan oleh Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) II/Sriwijaya, Kolonel Inf Eko Syah Putra Siregar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TEMPAT-JUDI-Lokasi-judi-sabung-ayam-yang-digrebek-kepolisian-Way-Kanan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Insiden baku tembak antara anggota TNI dan polisi di arena judi sabung ayam di Negara Batin, Way Kanan, Lampung, diduga dipicu oleh konflik setoran.
Kasus ini menewaskan tiga anggota polisi, termasuk Kapolsek Negara Batin, AKP (Anumerta) Lusiyanto.
Fakta terbaru mengungkap bahwa korban dan pelaku memiliki hubungan pertemanan sebelum insiden terjadi.
Terkait hubungan pertemanan ini dibenarkan oleh Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) II/Sriwijaya, Kolonel Inf Eko Syah Putra Siregar.
Ia menyebut bahwa Kapolsek Lusiyanto dan Pembantu Letnan Satu (Peltu) Lubis, yang diduga sebagai salah satu pelaku, telah lama berteman dan kerap bertukar informasi.
"Pejabat Polsek Negara Batin (Kapolsek Lusiyanto) dan Pejabat Pos Ramil Negara Batin (Peltu Lubis) memiliki hubungan baik," kata Kolonel Eko, seperti dikutip dari Kompas.
Judi sabung ayam di wilayah itu diketahui telah berlangsung selama sekitar satu tahun dengan keuntungan besar.
Kolonel Eko menegaskan bahwa aparat di wilayah tersebut pasti mengetahui dan kemungkinan memperoleh keuntungan dari bisnis ilegal itu.
"Judi sabung ayam memiliki daya tarik tinggi karena nilai profit yang menggiurkan. Info soal judi sabung ayam itu pasti sampai ke polsek dan tidak mungkin tidak ada profit yang diambil,” ujar Eko.
Asisten Intelijen Kasdam II/Sriwijaya, Kolonel Inf Yogi Muhamanto, menambahkan bahwa setiap jadwal sabung ayam, Peltu Lubis selalu menginformasikan kepada Kapolsek Lusiyanto.
Yogi menyebut bahwa ada kesepakatan tersirat antara mereka, termasuk mengenai setoran.
"Saat Peltu Lubis minta izin menyelenggarakan gelanggang sabung ayam, Lusiyanto menjawab silakan, yang penting harus aman. Kata aman yang dimaksud adalah setoran uang. Jadi, memang ada setoran uangnya,” ungkap Yogi.
Namun, hubungan antara Kapolsek Lusiyanto dan Peltu Lubis memburuk beberapa waktu sebelum insiden penembakan. Kapendam Sriwijaya menyebut bahwa konflik ini tengah didalami oleh penyidik.
"Info ini jadi bagian yang sedang diinvestigasi dan kita sedang menunggu hasil investigasi tersebut,” kata Eko.
Sementara itu, sebuah video yang beredar di media sosial TikTok dan X (Twitter) menguatkan dugaan bahwa insiden ini dipicu oleh konflik setoran.
Akun @satr1a6_ menyebut bahwa Polsek Negara Batin awalnya menerima setoran Rp 1 juta per hari dari arena judi sabung ayam, ditambah uang bensin dan uang rokok hingga total mencapai Rp 2,5 juta per hari.
Namun, belakangan muncul tuntutan kenaikan setoran menjadi Rp 20 juta per hari.
Dalam video itu juga disebutkan bahwa anggota TNI yang mengelola perjudian tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut, sehingga Kapolsek Lusiyanto mengancam akan melakukan penggerebekan jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Kodam II/Sriwijaya memastikan bahwa investigasi tidak hanya menyasar dua anggota TNI yang diduga melakukan penembakan, tetapi juga keterlibatan pihak kepolisian dalam bisnis ilegal tersebut.
"Kalau terbukti bersalah, dua anggota TNI yang diduga pelaku penembakan itu pasti akan mendapatkan hukuman setimpal. Tapi kami harap, pihak lain yang terlibat juga harus diusut dan diberikan hukuman tegas,” tegas Kolonel Eko.
TNI menduga bahwa aparat kepolisian mengetahui dan terlibat dalam praktik perjudian ini, yang akhirnya menyebabkan tewasnya seorang Kapolsek dan dua anggota Polsek Negara Batin saat melakukan penggerebekan.
Investigasi masih berlangsung untuk mengungkap motif dan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.