Harga Emas

Harga Emas Naik Gila-Gilaan, Ini Prediksi Pakar untuk 2025!

Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat ancaman tarif baru yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Harga Emas Naik Gila-Gilaan, Ini Prediksi Pakar untuk 2025!
Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
HARGA EMAS ANTAM - Seorang petugas merapikan Logam Mulia (LM) di Butik Emas PT Antam, jalan Pemuda, Kota Semarang, Jateng, Kamis (19/5/2016). Cek harga emas antam hari ini, Kamis (20/2/2025) naik Rp17 ribu menjadi Rp1,7 juta. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus angka Rp47 juta per ons untuk pertama kalinya.

Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat ancaman tarif baru yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Meskipun sempat terkoreksi sedikit di bawah level tersebut, para pakar keuangan memperkirakan nilai emas akan terus menguat.

Salah satu analis bahkan menyebut harga emas bisa mencapai Rp55 juta pada musim panas dan berpotensi menyentuh Rp71 juta dalam satu tahun ke depan.

Kenaikan harga emas ini dipicu oleh pernyataan Trump terkait kemungkinan pengenaan tarif 200 persen terhadap impor alkohol dari Uni Eropa.

Kebijakan ini memperburuk ketegangan dalam perang dagang yang tidak hanya melibatkan sekutu, tetapi juga rival internasional AS.

Akibatnya, banyak investor beralih ke emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakstabilan pasar.

Sejak awal tahun, harga emas yang sebelumnya berada di kisaran Rp41 juta telah mencetak beberapa rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Emas, yang dikenal sebagai aset aman dan lindung nilai terhadap inflasi, semakin menarik di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global.

Namun, meskipun menjadi pelindung dari risiko ekonomi, emas tidak menghasilkan pendapatan tetap dan harganya bisa sangat fluktuatif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas bisa beragam, dari kebijakan moneter hingga sentimen pasar.

Prediksi Para Pakar: Emas Bisa Mencapai Rp71 Juta?

Paul Williams, Managing Director Solomon Global, menyatakan bahwa kenaikan harga emas ini merupakan respons langsung terhadap meningkatnya ketegangan perdagangan dan ketidakpastian ekonomi yang semakin besar.

“Ancaman tarif terbaru dari Trump, khususnya pada impor alkohol dari Uni Eropa, telah mengguncang pasar global dan meningkatkan permintaan terhadap aset aman seperti emas,” ujarnya.

Williams juga menambahkan bahwa reli emas ini bukan sekadar reaksi spontan terhadap kebijakan tertentu, melainkan langkah investor dalam melindungi diri dari risiko sistemik.

“Dengan momentum saat ini, harga emas di kisaran Rp55 juta pada musim panas dan Rp71 juta dalam satu tahun ke depan sangat mungkin terjadi,” tambahnya.

Sementara itu, John Reade, Senior Market Strategist di World Gold Council, mengingatkan bahwa tantangan utama saat ini adalah apakah emas dapat bertahan di atas level Rp47 juta.

Menurutnya, permintaan yang berkelanjutan dari bank sentral dan investor di pasar Barat menjadi faktor kunci dalam menjaga kestabilan harga.

Reade menyoroti bahwa emas telah menjadi aset pelindung di berbagai periode krisis, mulai dari lonjakan harga ke Rp15 juta saat krisis keuangan global, hingga mencapai Rp31 juta selama pandemi Covid-19.

Dalam lima tahun terakhir, permintaan kuat dari bank sentral dan minat yang meningkat dari investor pasar negara berkembang menjadi pendorong utama kenaikan harga emas.

Investor Eropa Mulai Beralih ke Emas

Tom Bailey, Kepala Riset HANetf, menegaskan bahwa emas kembali menjadi pilihan utama investor sebagai lindung nilai terhadap risiko.

Menurutnya, ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, terutama terkait tarif perdagangan, terus mendukung daya tarik emas sebagai aset aman.

“Setelah kinerja gemilang pada tahun 2024, emas berpotensi mempertahankan momentum ini di 2025 dengan peluang kenaikan lebih lanjut,” ungkapnya.

Bailey juga mencatat bahwa ada perbedaan signifikan antara reli emas tahun ini dan tahun lalu, yaitu meningkatnya minat investor Eropa.

Pada 2024, investor Eropa menarik dana sebesar Rp93 triliun dari komoditas emas yang diperdagangkan di bursa. Namun, tahun ini, tren tersebut telah berbalik secara drastis.

Ia menambahkan bahwa meskipun saham perusahaan tambang emas tertinggal dibandingkan harga emas, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi mereka untuk mengejar ketinggalan dan mencatatkan kinerja lebih baik seiring dengan kenaikan harga emas.

Dengan meningkatnya ketegangan perdagangan dan kekhawatiran akan kebijakan ekonomi AS, emas kembali membuktikan diri sebagai aset yang dicari investor saat menghadapi ketidakpastian. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved