Banjir di Bone Bolango
Masyarakat Bone Bolango Gorontalo Mulai Bersih-Bersih Rumah Pasca Banjir, BPBD: Tetap Waspada
Masyarakat korban banjir di sejumlah desa di Kabupaten Bone Bolango mulai bersih-bersih rumah mereka.
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
TRIBUNGORONTALO.COM – Masyarakat korban banjir di sejumlah desa di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, mulai bersih-bersih rumah mereka, Minggu (9/3/2025).
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bone Bolango menyebabkan banjir di pada Sabtu (8/3/2025) sore.
Kepala BPBD Bone Bolango, Achril Babyonggo, menjelaskan saat ini genangan air telah surut sepenuhnya.
"Sekarang posisinya warga sudah mulai bersih-bersih dan air sudah surut," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Minggu.
Achril mengatakan curah hujan tinggi pada Sabtu pukul 17.10 Wita itu menyebabkan luapan air dari pegunungan ke permukiman warga.
Saluran air, kata Achril, tidak mampu menampung debit air yang besar.
Sehingga beberapa desa di Kecamatan Suwawa Tengah, Suwawa, dan Botupingge terendam banjir.
Achril menjelaskan banjir berdampak pada 48 rumah di tiga kecamatan, dengan total 148 jiwa.
17 KK (49 jiwa) berasal dari Desa Lombongo, Kecamatan Suwawa Tengah.
Sementara korban banjir di Kecamatan Botupingge, Desa Tanah Putih sebanyak 31 KK (99 jiwa), termasuk 19 rumah terendam banjir.
"Selain itu lahan pertanian warga di Desa Luwohu dan area permukiman di Timbuolo Timur juga terkena dampak," terangnya.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Bone Bolango, TNI/Polri, PMI, Tagana, serta warga setempat langsung bergerak melakukan pendataan dan upaya penanganan.
"Kami terus berkoordinasi dengan dinas terkait serta pemerintah kecamatan dan desa untuk memastikan kebutuhan warga, terutama alat berat dan alat kebersihan, dapat segera terpenuhi," tambah Achril.
Setelah kondisi kembali normal, beberapa warga bersama tim relawan fokus membersihkan lumpur.
"Kami tetap mengimbau masyarakat untuk waspada, mengingat potensi hujan lebat masih dapat terjadi di wilayah Bone Bolango," pungkasnya.
Baca juga: Viral Warga Temukan MinyaKita Berisi 750 Mililiter Padahal Label Kemasan 1 Liter, Begini Kata Mendag
Warga Dembe Kota Gorontalo Nekat Jebol Tanggul
Diberitakan TribunGorontalo.com sebelumnya, banjir juga sempat melanda permukiman di Kota Gorontalo.
Karena kesal genangan air tak kunjung surut, sejumlah warga Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, mengambil langkah ekstrem.
Dengan peralatan seadanya, mereka nekat menjebol tanggul di sekitar Danau Limboto pada Rabu (5/3/2025).
Pantauan TribunGorontalo.com, puluhan warga berbondong-bondong membuat saluran sejak pagi hingga sore tadi.
Mereka menggunakan cangkul, sekop, bahkan tangan kosong demi membuka jalan air yang selama ini menggenangi rumah mereka.
Hujan yang tak henti mengguyur Gorontalo mengubah permukiman Dembe ini seperti desa terapung.
Air hujan menggenangi rumah-rumah. Lantai rumah pun mulai retak, tiang kayu jadi lapuk, dan perabotan rusak.
"Kami sudah tidak tahan. Setiap malam kami tidur dalam ketakutan. Kalau hujan turun sebentar saja, air langsung naik lagi," ungkap Siswati Ibrahim, warga Dembe saat ditemui TribunGorontalo.com, Rabu (5/3/2025).
Siswati lantas menunjukkan tiga rumah yang benar-benar tenggelam sejak Juli 2024.
Lebih parahnya lagi, puluhan rumah lainnya telah terendam sejak 2019.
"Banjir ini bukan lagi dari Danau Limboto, tapi air limbah rumah tangga yang tertahan di sini. Baunya busuk, tak ada sirkulasi air, penuh dengan lintah dan kaki seribu. Kami hidup di antara sarang penyakit," jelasnya.
Lebih lanjut, Siswati menjelaskan warga Dembe terpaksa bertahan di rumah-rumah panggung darurat yang dibangun di atas bangunan lama yang tenggelam.
"Kami seperti burung. Kadang tidak bisa turun karena di bawah sudah penuh hewan-hewan menjijikkan," ujar Siswati.
Di antara warga yang masih bertahan, ada 63 kepala keluarga yang menghuni sekitar 38 rumah.
Tiga rumah di antaranya sudah terendam total selama tujuh bulan. Bahkan ada balita yang hidup dalam kondisi tempat tinggal memprihatinkan itu.
Siswati mengatakan, warga sekitar memasak menggunakan balai bambu atau tempat lebih tinggi yang masih tersisa.
"Barang-barang hancur, baju habis dimakan tikus.
Sementara penyakit gatal-gatal menyerang anak-anak akibat air yang kotor," terangnya.
Sementara itu Siswati yang mewakili suara warga sekitar mengaku pemerintah sudah datang melakukan survei. Juga meminta data warga hingga mengumpulkan KTP dan KK. Namun, realisasi bantuan belum pernah mereka rasakan.
"Ada sembako tapi itu bukan solusi. Yang kami butuhkan adalah tindakan nyata supaya air ini cepat surut," tegas Siswati.
Karena itulah, warga beirinsiatif bergotong royong membuat gorong-gorong darurat secara manual.
Mereka berharap air bisa keluar lebih cepat dan permukiman mereka bisa kembali normal.
(TribunGorontalo.com/Arianto Panambang)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.