Kamis, 5 Maret 2026

Perang Rusia Ukraina

Eropa Desak Gencatan Senjata di Ukraina, Trump Bersikap Keras

Negara-negara Eropa, yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis, terus mendukung Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan mencoba merancang rencana perdam

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Eropa Desak Gencatan Senjata di Ukraina, Trump Bersikap Keras
FOTO: Justin Tallis via Reuters
PERTEMUAN PRESIDEN - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron berpelukan setelah mengadakan pertemuan selama pertemuan puncak di Lancaster House di pusat kota London, Inggris, 2 Maret 2025. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Inggris mengungkapkan bahwa beberapa proposal telah diajukan untuk menghentikan pertempuran antara Ukraina dan Rusia.

Terutama menyusul usulan Prancis untuk melakukan jeda selama satu bulan guna membuka jalan bagi perundingan damai. 

Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan ketidaksabarannya terhadap proses ini.

Negara-negara Eropa, yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis, terus mendukung Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan mencoba merancang rencana perdamaian yang melibatkan Kyiv, terutama setelah ketegangan yang terjadi antara Zelenskiy dan Trump di Gedung Putih pekan lalu.

"Ada beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan," kata juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Prancis, Inggris, dan kemungkinan beberapa negara Eropa lainnya telah menawarkan untuk mengirim pasukan ke Ukraina jika gencatan senjata tercapai—meskipun proposal ini telah ditolak oleh Moskow.

Namun, negara-negara Eropa menyatakan bahwa mereka membutuhkan dukungan dari AS atau semacam jaminan keamanan.

Trump Mengubah Kebijakan AS, Tegur Zelenskiy

Trump telah membalikkan kebijakan AS dengan membuka pembicaraan langsung dengan Moskow tanpa melibatkan Ukraina maupun sekutu Barat lainnya.

Pada Jumat lalu, ia secara terbuka menegur Zelenskiy dan mengancam akan menghentikan bantuan militer AS jika Ukraina tidak mengikuti arahannya.

Pada Senin, Trump bereaksi keras terhadap laporan Associated Press yang mengutip pernyataan Zelenskiy bahwa perang masih jauh dari selesai.

"Ini adalah pernyataan terburuk yang bisa diucapkan oleh Zelenskiy, dan Amerika tidak akan mentolerirnya lebih lama lagi!" tulis Trump di Truth Social.

"Saya sudah mengatakan sebelumnya, orang ini tidak menginginkan perdamaian selama ia masih mendapat dukungan dari AS. Eropa sendiri telah menyatakan bahwa mereka tidak bisa melanjutkan ini tanpa AS."

Sementara itu, Zelenskiy menegaskan bahwa gencatan senjata harus disertai jaminan keamanan eksplisit dari Barat agar Rusia tidak menyerang kembali. Namun, Trump menolak memberikan jaminan tersebut.

Prancis Usulkan Jeda Sejenak untuk Uji Itikad Rusia

Dalam perjalanannya menuju KTT Eropa, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengusulkan jeda pertempuran selama satu bulan.

Meski belum ada dukungan resmi dari sekutu lainnya, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan jeda ini dapat digunakan untuk menguji kesungguhan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam menghormati gencatan senjata.

"Gencatan senjata di udara, laut, dan infrastruktur energi ini akan memungkinkan kita melihat apakah Putin benar-benar berkomitmen," kata Barrot.

Macron juga menyebut bahwa pasukan darat Eropa hanya akan dikirim ke Ukraina dalam tahap kedua, jika situasi memungkinkan.

Reaksi Eropa terhadap Perubahan Sikap AS

Para pemimpin Eropa kini menghadapi salah satu perubahan kebijakan terbesar AS sejak Perang Dunia Kedua.

Zelenskiy sendiri meninggalkan Washington pekan lalu tanpa menandatangani kesepakatan yang seharusnya memberikan akses bagi AS terhadap mineral Ukraina.

Sementara itu, Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz mengatakan bahwa Zelenskiy harus meminta maaf.

"Kami ingin mendengar dari Presiden Zelenskiy bahwa ia menyesali apa yang terjadi, siap menandatangani kesepakatan mineral ini, dan bersedia terlibat dalam pembicaraan damai," ujar Waltz dalam wawancara dengan Fox News.

Di Jerman, Friedrich Merz—yang baru saja memenangkan pemilu dan diprediksi akan menjadi kanselir—menyebut konfrontasi di Gedung Putih sebagai "jebakan yang sudah direncanakan."

"Ini bukan reaksi spontan terhadap argumen Zelenskiy, tetapi jelas merupakan eskalasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya," katanya. "Kita sekarang harus menunjukkan bahwa Eropa mampu bertindak secara mandiri."

Eropa Merasa Dikhianati, Rusia Senang

Di balik layar, pejabat-pejabat Eropa sangat kecewa dengan sikap Trump yang mereka anggap sebagai pengkhianatan terhadap Ukraina.

Perdana Menteri Prancis Francois Bayrou mengatakan bahwa peristiwa di Gedung Putih tidak hanya merugikan Ukraina, tetapi juga merusak aliansi trans-Atlantik yang telah terjalin selama delapan dekade.

"Kita menyaksikan adegan yang mencengangkan, penuh dengan kebrutalan dan penghinaan, yang tujuannya adalah memaksa Zelenskiy menyerah melalui ancaman," kata Bayrou di parlemen Prancis.

Namun, para pemimpin Eropa tetap berusaha menjaga hubungan baik dengan AS. Peter Mandelson, duta besar Inggris untuk AS, menyatakan bahwa hubungan antara Ukraina dan Washington perlu diperbaiki karena

"inisiatif Trump untuk mengakhiri perang adalah satu-satunya opsi yang tersedia."

Trump baru-baru ini berbicara dengan Putin melalui telepon dan kemudian mengumumkan bahwa negosiasi perdamaian akan segera dimulai, mengejutkan Zelenskiy dan sekutu-sekutunya di Eropa.

Eropa Siapkan Strategi Pertahanan Baru

Menghadapi ketidakpastian dukungan AS, para pemimpin Eropa sepakat bahwa mereka harus meningkatkan pengeluaran pertahanan. Uni Eropa akan mengadakan KTT darurat pada Kamis mendatang.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan bahwa dia akan menginformasikan negara-negara anggota mengenai rencana memperkuat industri pertahanan dan kemampuan militer Eropa.

"Kita membutuhkan lonjakan besar dalam pertahanan, tanpa keraguan. Kita menginginkan perdamaian yang abadi, tetapi perdamaian hanya dapat dibangun di atas kekuatan," ujarnya.

Sementara itu, Rusia dengan terbuka mengungkapkan kegembiraannya terhadap perubahan sikap AS.

"Kita melihat bahwa Barat mulai kehilangan kesatuannya, dan fragmentasi ini telah dimulai," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

 "Masih ada sekelompok negara yang menjadi 'partai perang' dan ingin terus mendukung Ukraina. Namun, kelompok itu semakin melemah." lanjutnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved