Perang Rusia Ukraina
Eropa Desak Gencatan Senjata di Ukraina, Trump Bersikap Keras
Negara-negara Eropa, yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis, terus mendukung Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan mencoba merancang rencana perdam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERTEMUAN-PRESIDEN-dari-tiga-negara.jpg)
Dalam perjalanannya menuju KTT Eropa, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengusulkan jeda pertempuran selama satu bulan.
Meski belum ada dukungan resmi dari sekutu lainnya, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan jeda ini dapat digunakan untuk menguji kesungguhan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam menghormati gencatan senjata.
"Gencatan senjata di udara, laut, dan infrastruktur energi ini akan memungkinkan kita melihat apakah Putin benar-benar berkomitmen," kata Barrot.
Macron juga menyebut bahwa pasukan darat Eropa hanya akan dikirim ke Ukraina dalam tahap kedua, jika situasi memungkinkan.
Reaksi Eropa terhadap Perubahan Sikap AS
Para pemimpin Eropa kini menghadapi salah satu perubahan kebijakan terbesar AS sejak Perang Dunia Kedua.
Zelenskiy sendiri meninggalkan Washington pekan lalu tanpa menandatangani kesepakatan yang seharusnya memberikan akses bagi AS terhadap mineral Ukraina.
Sementara itu, Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz mengatakan bahwa Zelenskiy harus meminta maaf.
"Kami ingin mendengar dari Presiden Zelenskiy bahwa ia menyesali apa yang terjadi, siap menandatangani kesepakatan mineral ini, dan bersedia terlibat dalam pembicaraan damai," ujar Waltz dalam wawancara dengan Fox News.
Di Jerman, Friedrich Merz—yang baru saja memenangkan pemilu dan diprediksi akan menjadi kanselir—menyebut konfrontasi di Gedung Putih sebagai "jebakan yang sudah direncanakan."
"Ini bukan reaksi spontan terhadap argumen Zelenskiy, tetapi jelas merupakan eskalasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya," katanya. "Kita sekarang harus menunjukkan bahwa Eropa mampu bertindak secara mandiri."
Eropa Merasa Dikhianati, Rusia Senang
Di balik layar, pejabat-pejabat Eropa sangat kecewa dengan sikap Trump yang mereka anggap sebagai pengkhianatan terhadap Ukraina.
Perdana Menteri Prancis Francois Bayrou mengatakan bahwa peristiwa di Gedung Putih tidak hanya merugikan Ukraina, tetapi juga merusak aliansi trans-Atlantik yang telah terjalin selama delapan dekade.
"Kita menyaksikan adegan yang mencengangkan, penuh dengan kebrutalan dan penghinaan, yang tujuannya adalah memaksa Zelenskiy menyerah melalui ancaman," kata Bayrou di parlemen Prancis.