Ramadan 2025

Tren di Bulan Ramadan, Mengapa Perang Sarung Dilarang?

Perang sarung merupakan kebiasaan yang menjadi tren setiap bulan ramadan.

Penulis: Fadri Kidjab | Editor: Fadri Kidjab
TribunSolo.com
PERANG SARUNG: Foto enam anak diamankan Polsek Jaten karena diduga akan melakukan perang sarung, Minggu (31/3/2024). Mengapa perang sarung dilarang? 

TRIBUNGORONTALO.COM – Perang sarung merupakan kebiasaan yang menjadi tren setiap bulan ramadan.

Permainan ini sebetulnya terlihat biasa saja karena para pemuda menggunakan sarung sebagai alat 'perang' mereka.

Hanya saja, kegiatan perang sarung telah dilarang oleh pihak kepolisian.

Para pelaku bisa dipidana jika nekat melakukannya.

Lantas, mengapa perang sarung dilarang?

Alasan mendasar perang sarung dilarang karena bisa memicu pertikaian.

Perang sarung awalnya bersifat hiburan itu bisa berbuah petaka seperti luka lebam hingga memakan korban jiwa.

Baca juga: BREAKING NEWS: 2 Lansia Desa Kaidundu Gorontalo Ditemukan Meninggal Dunia di Perkebunan Kemiri

Oleh karenanya, pihak kepolisian di sejumlah daerah di Indonesia gencar patroli untuk mencegah terjadinya perang sarung.

Di Gorontalo, perang sarung tidak begitu eksis bahkan nyaris tidak ditemukan kasus perang sarung. Kebanyakan aksi balap liar yang kerap terjadi.

Namun di Pulau Sumatera hingga Jawa, nyaris setiap tahun remaja-remaja diamankan polisi karena terlibat perang sarung.

Seperti yang terjadi tahun 2024 di Lampung, seorang remaja tewas akibat perang sarung.

Hingga kini, perang sarung masih menjadi atensi pihak kepolisian.

Perang sarung, balap liar, hingga kenakalan remaja lainnya diawasi melalui patroli preventif.

Orang tua juga berperan aktif dalam mencegah anak-anaknya untuk melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri dan orang lain.

Apalagi perang sarung kebanyakan melibatkan remaja belasan tahun. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved