Sabtu, 7 Maret 2026

VOXPOP Gorontalo

Aspirasi Abang Bentor Konvensional di Gorontalo, Minta Diperhatikan Pemerintah

Pendapat serupa dilontarkan Roy Ayuba. Sopir bentor Gorontalo ini ingin adanya pembatasan wilayah untuk keduanya agar bisa mendapat penumpang dengan s

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Aspirasi Abang Bentor Konvensional di Gorontalo, Minta Diperhatikan Pemerintah
TribunGorontalo.com
SOPIR BENTOR: Dua sopir Bentor di Kota Gorontalo, Roy Ayuba dan Rustam Said saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Kamis (20/2/2025). Mereka berharap Wali Kota Gorontalo memikirkan nasib ojek konvensional. 

Disclaimer: Atas pertimbangan redaksi, isi artikel ini dioptimasi. Beberapa informasi dikoreksi. TribunGorontalo.com memohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sejumlah sopir bentor konvensional berharap agar kesejahteraanya diperhatikan.

Mereka meminta kebijakan pemerintah Kota Gorontalo untuk kompetitornya, ojek online.

Menurut Rustam Said, kemunculan transportasi online membuat mereka kekurangan pemasukan, sehingga perlu ada regulasi agar keduanya saling membutuhkan. 

Pendapat serupa dilontarkan Roy Ayuba. Sopir bentor Gorontalo ini ingin adanya pembatasan wilayah untuk keduanya agar bisa mendapat penumpang dengan segmentasi masing-masing. 

"Kami menantikan kebijakan yang bisa menjaga keberlangsungan mata pencaharian kami di tengah perubahan sistem transportasi di Kota Gorontalo," tutupnya.

Cerita Ojek di Gorontalo

Zulpan Hali (53) membagikan kisahnya menjadi tukang ojek di tambang emas di Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Zulpan mengaku sudah 14 tahun menyewakan jasa pengantar bagi para penambang.

"Sudah hampir 15 tahun saya di sini, tambang saja sudah 25 tahun," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Rabu (10/7/2024).

Tak tanggung-tanggung, Zulpan meraup omzet Rp3 juta dalam sebulan.

Tiap penumpang dipatok seharga Rp 200 ribu rupiah sekali berangkat hingga titik bor (tibor).

Namun penghasilan itu dinilai tak sebanding risiko mengantar penumpang ke lokasi tambang.

Jarak sekira 23 kilometer (km) itu ditempuh 2-3 jam jika cuaca cerah.

Sementara ketika hujan turun, ia mengaku sukar dilewati karena jalanan becek dan berlubang.

Jalanan aspal hanya sepanjang 50 meter membentang di desa Kamiri. 

Sehingga waktu normal 2-3 jam bisa menjadi 6-7 jam untuk sampai ke lokasi tambang.

"Kalau ojek sudah pengalaman kadang bisa sampai atas (lokasi tambang) menggunakan motor trail," lanjutnya.

Selama menjalani pekerjaan ini, Zulpan sering kali menemui kendala pada sepeda motornya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved