Berita Kabupaten Bone Bolango
Bumdes Karya Mandiri Tamboo Gorontalo Bangun Unit Usaha Kemiri, Bekerja Sama dengan Petani Bolmong
Bumdes Karya Mandiri, Desa Tamboo, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, sukses membangun usaha pengolahan buah kemiri.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sejumlah-warga-Desa-Tamboo-tengah-memilah-buah-kemiri.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Karya Mandiri, Desa Tamboo, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, sukses membangun usaha pengolahan buah kemiri.
Tahun 2015 sejak Bumdes digalakan, Pemerintah Desa Tamboo mulai menyiapkan struktur kelembagaan Bumdes.
Tak hanya Desa Tamboo bahkan beberapa desa di Kecamatan Tilongkabila juga mulai menyiapkan hal yang sama.
"Saya ini kepengurusan ketiga, jadi setiap kepengurusan selalu bertambah unit usaha Bumdes," ujar Amran Mustafa, Direktur Bumdes Karya Mandiri Tamboo, Sabtu (1/2/2025).
Unit usaha Bumdes sebelumnya hanya berkutat pada penjualan kebutuhan pokok seperti beras telur dan lain-lain.
Namun seiring berjalannya waktu unit usaha mulai bertambah.
Sebelum kepengurusan Amran di tahun 2023, total ada beberapa unit usaha yang aktif di Bumdes Karya Mandiri. Mulai dari depot air isi ulang, laundry, Pertashop, jaringan wi-fi, hingga pupuk pertanian.
"Baru kemudian saat saya jadi direktur, saya usulkan untuk usaha kemiri," ungkapnya.
Baca juga: 840 Ayam Mati Akibat Listrik Diputus PLN, Peternak Ayam Desa Tamboo Gorontalo Rugi Rp 42 Juta
Alasan memilih usaha kemiri
Amran menjalankan, inisiasi tersebut berangkat dari potensi sumber daya manusia.
Ibu-ibu di Desa Tamboo yang hanya bersatus sebagai ibu rumah tangga (IRT).
Kata Amran, hanya bergantung pada penghasilan suami.
Sebenarnya orientasi awal untuk pengembangan unit usaha Bumdes diarahkan pada sektor pertanian khususnya penanaman.
"Namun kalau kita lihat kondisi mereka saat ini, itu sulit. Mengapa? mereka tidak semua punya basic menanam, belum lagi perbedaan karakter yang saya pikir itu akan sangat berpengaruh pada profit Bumdes," jelasnya.
Amran akhirnya memutuskan membangun relasi dengan sejumlah petani kemiri di beberapa daerah termasuk Bolmong Selatan dan Bolmong Utara.
Pihak Bumdes yang bertanggung jawab atas kesiapan alat pengolahan kemiri meliputi, pendingin, pencacah, lahan dan ayakan kemiri.
Sementara untuk pengolahan, dilakukan dengan IRT setempat dari berbagai dusun.
Para IRT dihimpun dalam satu kelompok Bumdes yang diberi nama Kelompok Mama Glowing.
Kelompok ini beranggotakan 15 orang, 13 diantaranya aktif bekerja di Bumdes sebagai pengolah buah kemiri.
Berlatar marketing dan bisnis, Amran berhasil menggaet pasar dan penjualan kemiri di Gorontalo.
Atas niat tersebut, para IRT bisa membatu memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka, tanpa bergantung sepenuhnya kepada para suaminya.
Fera Mindong, salah satu anggota Kelompok usaha Mama Glowing mengaku saat bersyukur atas adanya unit usaha pengelolaan kemiri.
"Dulunya hanya di rumah saja, tapi sekarang tiap hari sudah di sini," tuturnya.
Awalnya, model pembayaran dilakukan setiap hari dengan memperhitungkan berapa kilogram kemiri yang mereka olah.
Namun saat ini pembayaran rutin dilakukan setiap bulan.
Kendati begitu, jika merasa darurat, para IRT bisa meminta pembayaran tiap minggu, atau bahkan setiap harinya.
"Kalau dihitung-hitung, sebulan bisa Rp 1,5 - 2 juta upah kami di sini," imbuhnya.
Setiap hari, para IRT bisa memproduksi sebanyak 1 ton Kemiri gabah Kemiri.
Kemiri utuh dan pecah memiliki harga yang berbeda-beda, yang nanti akan diekspor ke luar daerah.
Sementara cangkang kemiri diolah kembali untuk dijadikan bahan dasar pembakaran. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.