Rabu, 4 Maret 2026

Imlek Gorontalo

Perayaan Imlek Gorontalo Mulai Terasa di Kelenteng Tulus Harapan Kita

Beberapa persiapan mulai dilakukan, dari pembangunan tenda, menambah hiasan ornamen khas seperti lampion merah, dan penataan tempat ibadah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Perayaan Imlek Gorontalo Mulai Terasa di Kelenteng Tulus Harapan Kita
TribunGorontalo.com
Persiapan Imlek Gorontalo di Klenteng Tulus Harapan Kita, Senin (27/1/2025). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Persiapan perayaan tahun baru Imlek 2025 mulai dilakukan masyarakat Tionghoa di Kelenteng Tridharma Tulus Harapan Kita, Kelurahan Biawao, Kota Tengah Gorontalo, Senin (27/1/2025). 

Beberapa persiapan mulai dilakukan, dari pembangunan tenda, menambah hiasan ornamen khas seperti lampion merah, dan penataan tempat ibadah.

Beberapa ucapan karangan bunga pun mulai disusun rapi di dalam halaman Kelenteng tersebut.

Terlihat juga ada anak-anak sedang melakukan latihan tarian, untuk ditampilkan pada perayaan yang akan dilaksanakan besok malam, Selasa (28/1/2025).

Ketua Panitia Perayaan Tahun Baru Imlek 2025, Fenny Liandouw mengungkapkan bahwa, persiapan sudah 80 persen.

"Persiapan saat saat ini sudah sekitar 80 persen ya, tinggal dimantapkan besok," ucapnya

Fenny tidak sendiri, ia dibantu oleh dua orang rekannya untuk mempersiapkan acara Perayaan Tahun Baru Imlek 2025 ini.

"Kami panitia hanya bertiga, dari anak muda semua, saya dan Therecya Oen, di bidang konsumsi, dan Christin Angelina di bidang acara," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa, acara besok malam akan dibuka dengan doa, dan dilanjutkan oleh pembacaan sedikit pidato oleh ketua Kelenteng Tulus Harapan Kita. 

Setelah itu, ada persembahan tarian Xie Xie ni. Kata ia, lagu tersebut menyimpan makna yang dalam sebagai ucapan terima kepada orang tua dan untuk dunia ini.

"Lagu Xie Xie ni itu adalah lagu ucapnya terima kasih, makna lagu itu sangat dalam, ucapan terima kasih kepada orang tua, dan ucapan terima kasih kepada dunia ini," ucapnya 

Kemudian ada juga persembahan nyanyian dari ibu-ibu, dilanjutkan dengan door price.

Lalu ada pemberian hadiah kepada keluarga yang menggunakan baju yang kompak.

Lalu setelah itu dilanjutkan dengan Tarian Givenia Barongsai.

"Lalu setelah itu doa bersama pergantian Imlek, lalu dilanjutkan dengan door price pohon uang," ucapnya.

Sejarah Kelenteng Tulus Harapan Kita

Kelenteng Tulus Harapan Kita atau Kelenteng Thian Hou Kiong adalah rumah peribadatan kaum Konghucu di Kota Gorontalo. 

Dibangun tahun 1883 oleh para imigran China yang berasal dari Hokkian dan Kanton dari hasil pengumpulan uang sesama etnis Tionghoa.

Lokasi Kelenteng berada di Jalan S Parman, Kelurahan Biawao, Kota Selatan, Gorontalo. 

Berdiri tepat di pusat Kota Gorontalo dengan mayoritas masyarakat beragama islam, tidak membuat Kelenteng ini redup.

Dari Kelenteng ini masyarakat Kota Gorontalo bisa melihat kebudayaan, adat istiadat, seni budaya, serta cara beribadah etnis Tionghoa.

Kelenteng ini kini berusia 142 tahun namun tetap eksis di tengah mayoritas islam.

"Jadi sudah satu abad lebih, dibangun pada akhir masa Dinasti King," ujar Wakil Ketua Kelenteng Tulus Harapan Kita, Hendra Yani, Rabu (15/1/2025).

Kelenteng ini sejak awal dibangun untuk rumah peribadatan dengan tiga altar di bagian depan.

Seiring perkembangannya, kelenteng mengalami perluasan bangunan belakang dan penambahan altar. 

"Sumber pembangunannya ada yang dari bantuan pemerintah, organisasi Konghucu. Namun lebih banyak yang umat," jelasnya. 

Kelenteng Tulus Harapan Kita ini juga kerap disebut Kelenteng Tridharma karena menjadi tempat peribadatan etnis Tiongha dengan tiga kepercayaan yakni Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme (Kong Hu Cu). 

Tridharma adalah bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme ketiga filsafat. 

Inilah yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu.

Disebutkan istilah Tridharma atau dalam bahasa China disebut San Jiao sudah muncul sejak Dinasti Donghan atau pada abad I.

Pada masa itu, tiga ajaran ini memang tidak bisa menyatu. Hubungannya selalu renggang. Karena itu, berbagi usaha dilakukan untuk menyatukan tiga ajaran itu. (*/Jian) 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved